
Naya mematikan televisi karena yang muncul lagi-lagi berita tentang kedua orang tuanya. Mereka sedang gencar-gencarnya melakukan kampanye dan kunjungan-kunjungan ke beberapa daerah.
"Kenapa?" Arsen keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya. Kemudian dia memakai kemeja dan celana yang sudah disiapkan Naya.
"Di tv beritanya Papa terus yang muncul."
"Ya kan orang tua kamu hebat. Anaknya aja hebat."
Naya mencebikkan bibirnya lalu dia berdiri dan menyisir rambutnya.
"Aku antar kamu ke kampus dulu, lalu aku ke kantor. Aku ada kelas siang saja." kata Arsen.
Naya menganggukkan kepalanya. "Nanti aku bisa pulang sendiri."
"Jangan. Pulang bareng aku aja."
"Masak aku nungguin kamu, lama dong." Naya mengambil parfum lalu menyemprot ke bajunya. Baru sekali semprot Arsen sudah menahannya.
Seketika Arsen menutup hidungnya. "Jangan pakai parfum."
"Kenapa? Parfum aku tetap kok. Biasanya kan kamu suka "
"Jangan, gak enak baunya. Bikin perut aku mual."
Naya mengernyitkan dahinya. Lalu meletakkan kembali parfumnya.
"Pokoknya nanti tungguin aku ya," kata Arsen lagi. Dia menggandeng tangan Naya keluar dari kamar, lalu duduk di meja makan untuk sarapan bersama kedua orang tuanya.
"Ya udah. Nanti aku tungguin di perpus sama Rani."
Seperti biasa Naya mengambilkan Arsen nasi dan lauk di piringnya.
"Nay, jangan banyak-banyak. Perut aku gak enak." kata Arsen.
"Kamu gak enak badan?" tanya Mamanya.
"Cuma agak mual aja, Ma."
"Jangan sampai telat makan. Minum obat magh, biar gak makin parah."
"Iya, Ma. Nanti juga hilang. Aku gak pernah kena magh," kata Arsen.
Naya justru sebaliknya. Dia makan lebih banyak dari biasanya.
Arsen kini menatap piring penuh Naya. "Sayang, kamu makan banyak banget. Habis?"
"Iya, aku lapar," jawab Naya.
"Gak papa, biarin aja. Tuh, Naya makin gemuk sekarang, itu tandanya Naya benar-benar bahagia sama kamu. Mama senang banget lihatnya." Bu Ririn tersenyum menatap Naya yang makan dengan lahap.
Setelah selesai makan mereka berdua segera berangkat ke kampus. Naya terus memeluk tubuh Arsen dari belakang. "Ar, kalau sakit istirahat di rumah. Kamu kelihatan pucat."
__ADS_1
"Nggak papa, Nay. Cuma mual dikit." Kemudian Arsen menghentikan motornya di depan kampus.
Naya turun dari motor Arsen dan melepas helmnya. "Hati-hati ya."
"Iya." Setelah mengusap puncak kepala Naya, Arsen melajukan motornya menuju kantor. Sejak kuliah sedikit-sedikit dia mulai belajar di perusahaan Papanya.
Arsen kini berhenti di tempat parkir perusahaan. Dia masih saja suka membawa motornya meskipun sudah ada mobil untuknya.
Kemudian Arsen berjalan menuju ruangan Papanya. Beberapa karyawan yang bertemu dengannya menyapa dengan hormat. Dia kini masuk ke dalam ruangn Papanya lalu duduk di sofa.
"Ar, kamu periksa dokumen kontrak ini." Pak Tama memberi beberapa dokumen pada Arsen. "Kamu pelajari. Kamu harus bisa menilai kontrak kerja yang menguntungkan itu seperti apa."
Arsen menganggukkan kepalanya. Dia berusaha fokus, tapi kepalanya terasa pusing. Bahkan rasanya dia sudah ingin dekat dengan Naya padahal baru beberapa menit tidak bertemu.
Arsen akhirnya meletakkan dokumen itu dan memegang kepalanya.
"Kamu kenapa? Sakit?" tanya Pak Tama.
"Pa, ada obat sakit kepala?"
"Kalau sakit berobat, jangan minum obat sembarangan. Kamu ke klinik sebelah saja. Biar diantar sama Gery."
Arsen menghela napas panjang. Pusing di kepalanya ini sepertinya bukan sakit. Dia kembali fokus dengan beberapa berkas tapi semakin dia fokus perutnya terasa semakin mual. Arsen segera berdiri dan berlari ke kamar mandi.
"Ar, ayo Papa antar berobat!" Pak Tama menghampiri Arsen yang kini keluar dari kamar mandi sambil mengusap perutnya.
"Nggak usah Pa, nanti aja. Aku mau jemput Naya dulu."
"Kamu itu keras kepala sekali. Ya udah bawa mobil aja, minta Gery antar ke kampus. Biar sekalian nunggu kamu sampai pulang juga gak papa."
Arsen masuk ke dalam mobil. Perutnya terasa mual lagi. Apa sudah lama tidak naik mobil bagus, dia jadi gampang mabuk?
Setelah sampai di depan kampus, buru-buru Arsen ke toilet yang berada di dekat pos satpam.
"Gue kenapa bisa mual-mual kayak gini? Perasaan gue gak pernah sakit asam lambung."
Setelah berkumur, Arsen keluar dari toilet dan berpapasan dengan Rangga.
"Lo kenapa? Pucat banget wajah lo."
"Perut gue mual banget dari tadi." Pandangan mata Arsen kini tertuju pada rujak mangga muda yang ada di dekat gerbang kampus. "Rujak mangga itu kayaknya enak, anterin gue beli soalnya di sana banyak cewek." Arsen menarik Rangga agar mengikutinya.
"Lo seriusan mau beli rujak mangga. Mau beliin Naya?" tanya Rangga. Dia terpaksa mengikuti Arsen karena tangan Arsen terus menariknya.
"Buat gue, gue yang pengen."
"Hah? Itu kan asam banget. Biasanya kesukaan cewek-cewek."
"Iya, gue juga gak suka asam tapi rasanya gue pengen sekarang."
Beberapa mahasiswi yang membeli rujak mangga muda itu seketika menepi saat ada Arsen dan Rangga mendekat.
__ADS_1
"Baru kali ini ada cowok ganteng beli rujak. Lagi ngidam?" celetuk salah satu dari mereka.
"Ceweknya kali yang lagi ngidam." Mereka semua tertawa tapi Arsen tetap dengan PD-nya memesan dua porsi rujak mangga.
"Spesial buat Mas yang ganteng. Mas yang satunya gak beli sekalian?" tanya penjual rujak itu sambil memberikan dua bungkus rujak pada Arsen.
"Nggak Mas, temen aku aja yang ngidam."
"Ngidam itu apaan sih?" tanya Arsen. Dia kini membuka rujak itu dan memakannya sambil berjalan karena sudah sangat ingin.
"Lo ngidam gak ngerti? Ngidam itu rasa menginginkan sesuatu yang berlebihan saat hamil." jawab salah satu cewek di tempat itu.
"Uhuk!" Seketika Arsen mengeluarkan mangga yang hampir dia telan. "Hamil? Eh, maksudnya." Seketika dada Arsen berdebar tak karuan.
"Ya, hamil. Tapi lo cowok kan gak mungkin hamil."
"Pacarnya kali yang hamil. Kena syndrom simpatik."
"Lo kira drama?" Cewek-cewek itu kembali tertawa.
Arsen memasukkan rujak itu ke dalam kantong kresek lagi. Dia menarik Rangga agar mengikutinya dan menjauh dari cewek-cewek itu. "Ngga, mungkin gak ya Naya hamil?"
Rangga mengernyitkan dahinya. "Ya mana gue tahu. Kan lo yang buat. Aneh lo tanya gue."
"Gimana kalau Naya beneran hamil?"
"Ya gak papa, kan kalian udah nikah."
"Masalahnya Naya belum siap."
"Kalau belum siap kenapa lo buatin."
Arsen menggaruk kepalanya. Dia mengingat-ingat kembali jadwal merah Naya. "Aduh, kayaknya beneran nih. Udah hampir dua bulan gue gas terus. Kalau Naya marah gimana, Ngga?"
"Ya nggak mungkinlah. Lo bilang aja baik-baik."
"Antar gue, Ngga." Arsen menarik tangan Rangga.
"Kemana lagi?" Rangga terpaksa mengikuti langkah Arsen.
.
💕💕💕
.
Nah kan, Arsen kualat... ðŸ¤
.
Mampir yuk ke karya baru author. Dijamin baper... 😅
__ADS_1
.