Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 36


__ADS_3

Naya kini membuka matanya, dia melihat sekelilingnya. Hanya ada Mama dan Papanya yang menemaninya di dalam kamar rawat.


"Pa, Arsen dimana?" tanya Naya.


"Dia sudah pulang," jawab Pak Aji. Dia kini duduk di dekat brangkar Naya.


"Arsen gak mungkin pulang. Dia yang antar Naya ke rumah sakit. Pa, Naya mau bertemu Arsen."


"Naya, udah. Masih untung Mama dan Papa bisa memaafkan kesalahan kamu. Kamu masih saja membela pemuda itu." kata Bu Nita.


Seketika Naya membuang pandangannya. Di saat raganya sedang sakit seperti ini, Mamanya masih saja memarahinya. Memang hanya Arsen yang bisa mengerti dirinya.


"Jangan berpikir yang macam-macam dulu. Kamu sekarang istirahat, biar lekas sembuh." Pak Aji mengusap rambut Naya meskipun Naya terus membuang pandangannya.


"Kamu mau makan? Biar disuapin Mama." kata Pak Aji lagi.


Naya menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah, Papa panggilkan Arsen dulu. Tapi Arsen tidak boleh menginap di sini. Kamu harus fokus dengan kesehatan kamu dulu. Nanti malam Papa dan Mama yang jaga kamu." kata Pak Aji. Dia tidak tega melihat kondisi Naya seperti ini.


Naya hanya menganggukkan kepalanya. Sebenarnya dia ingin dijaga Arsen malam itu bukan kedua orang tuanya.


...***...


"Ar, ayo kita pulang," ajak Pak Tama pada Arsen karena hari sudah malam.


"Aku mau menemui Naya dulu, Pa." Dia masih bersikeras menunggu Naya meskipun dia sudah dilarang Pak Aji untuk menemui Naya.


"Kamu dengar sendiri kan, Pak Aji melarang kamu menemui Naya."


"Tapi, Pa..." Perkataan Arsen terhenti saat kedua orang tua Naya keluar dari ruang rawat.


"Kamu temui Naya dulu, dia mau bertemu kamu tapi jangan menginap, biar malam ini kita yang jaga." kata Pak Aji.


Arsen menganggukkan kepalanya lalu dia masuk ke dalam ruang rawat Naya. Dia menghela napas panjang saat melihat Naya terbaring lemah di atas brangkar.

__ADS_1


"Nay..." Arsen berjalan mendekat dan duduk di samping brangkar Naya. "Udah baikan?"


Naya menggelengkan kepalanya. "Belum. Kepala aku masih pusing dan badan aku lemas banget."


Arsen menggenggam tangan Naya. "Iya, sebentar lagi kamu pasti sembuh. Kamu makan dulu ya, aku suapi."


"Kamu malam ini di sini kan?"


Arsen mengusap rambut Naya. "Nggak, soalnya ada orang tua kamu. Selama kamu sakit, kamu tinggal sama orang tua kamu ya."


Naya menggelengkan kepalanya. "Aku mau sama kamu."


"Iya, nanti setelah kamu sembuh, aku jemput." Kemudian Arsen mencium kening Naya. Sebenarnya dia juga tidak ingin meninggalkan Naya. Dia ingin selalu di samping Naya.


"Ar, di sini aja." pinta Naya lagi.


Arsen menggelengkan kepalanya lagi.


"Apa Papa marahin kamu?"


"Tapi, Ar..." Naya terus meminta agar Arsen tetap menemaninya.


"Besok sepulang sekolah aku akan ke sini. Sekarang kamu makan dulu. Aku suapi." Arsen membantu Naya duduk bersandar lalu dia mengambil semangkuk bubur yang sudah tersedia di atas nakas dan mulai menyuapi Naya.


Naya membuka mulutnya dan menerima suapan dari Arsen. Meski sebenarnya dia sangat berat menerima makanan.


"Makan yang banyak biar lekas sembuh. Terus minum obat."


"Nanti kalau obatnya pahit, dihilangin pakai apa kalau kamu gak ada di sini."


Arsen semakin tertawa. "Udah ketagihan ya."


"Ih, bukan gitu."


"Gak papa. Makanya cepat sembuh. Nanti aku kasih rasa yang lebih nagih lagi." goda Arsen agar Naya bisa kembali tersenyum.

__ADS_1


Seketika pipi Naya merona. Kalau saja dia tidak sakit pasti mereka berdua sudah menikmati malam-malam indah bersama.


"Dihabiskan. Baru habis setengah ini." Arsen kembali menyuapi Naya karena Naya sudah menutup mulutnya.


Naya menggelengkan kepalanya. "Udah kenyang."


"Ya udah, kamu minum obat dulu. Setelah minum obat kalau masih terasa pahit, kamu makan buah."


Naya menganggukkan kepalanya. Dia membuka mulutnya dan menerima suapan obat dari Arsen kemudian dia minum air putih dengan tangan Arsen yang masih setia membantunya.


"Ar, di sini aja dong." pinta Naya lagi. Dia benar-benar tidak ingin ditinggal Arsen.


Arsen hanya menggeleng lagi lalu dia mengupaskan jeruk untuk Naya. "Aku maunya juga di sini jagain kamu, tapi ada orang tua kamu. Biar mereka yang jagain kamu."


"Ya udah. Tapi besok janji ya ke sini." kata Naya. Dia kini menerima suapan jeruk dari Arsen. Entahlah, mengapa dia menjadi sebucin ini dengan Arsen. Rasanya dia tidak ingin jauh-jauh dari Arsen.


"Iya. Hp kamu ketinggalan di rumah. Besok aja aku antar ke sini."


"Yah, jadi gak bisa hubungi kamu."


Arsen semakin tertawa lalu dia mengusap puncak kepala Naya. "Kamu kenapa jadi gak bisa jauh dari aku gini. Padahal dulu kamu benci banget sama aku."


"Aku juga gak tahu. Kamu pelet kayaknya."


"Bukan pelet. Tapi udah kena ini..." Arsen mendekatkan dirinya lalu mencium bibir Naya dengan lembut. Hanya sesaat lalu dia melepas pagutannya. "Cepat tidur ya. Moga besok sudah membaik."


Naya menganggukkan kepalanya.


Kemudian Arsen berdiri lalu mengecup kening Naya. Meski sebenarnya sangat berat meninggalkan Naya tapi dia tidak ingin membantah keinginan orang tua Naya. "Moga lekas sembuh."


Naya hanya menatap kepergian Arsen. Setiap malam dia tidur selalu memeluk Arsen, pasti malam ini dia tidak akan bisa tidur nyenyak tanpa pelukan itu.


💕💕💕


.

__ADS_1


Like dan komen ya...


__ADS_2