
"Nay, kalau kamu hari ini mau libur kerja dulu gak papa. Nanti aku izinkan kamu," kata Rangga sambil mengimbangi langkah Naya menuju tempat parkir. "Aku dengar Tika di skorsing selama tiga hari. Ya, dia memang pantas mendapatkan hukuman. Lain kali kamu hati-hati ya, kalau ada masalah, kamu juga bisa minta tolong sama aku."
Naya hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian dia menatap Arsen yang sudah berdiri di dekat motornya sambil melipat tangannya.
Arsen kini justru bersitatap tajam dengan Rangga. "Apa lo!"
Rangga tersenyum miring lalu mendekati Arsen. "Gue menunggu jandanya Naya." kata Rangga dengan suara pelan agar Naya tidak mendengarnya.
"Shits!" Arsen mendorong kasar Rangga. Kemudian dia naik ke atas motornya. "Ayo, Nay."
Naya menganggukkan kepalanya. Kemudian dia naik ke boncengan Arsen. Tidak ada obrolan sama sekali selama perjalanan pulang. Sampai Arsen menghentikan motornya di depan rumah dan mereka masuk ke dalam rumah. Mereka kini sama-sama duduk di sofa sambil melepas sepatunya.
"Nay," Arsen menghela napas panjang untuk memulai obrolannya. "Kalau lo mau menyudahi pernikahan ini, ya udah nanti gue antar lo ke rumah dan serahkan bukti pemeriksaan itu ke orang tua lo."
Kemudian Arsen berdiri tapi terhenti karena perkataan Naya.
__ADS_1
"Mudah banget lo ngomong kayak gitu! Semua udah menjadi bubur. Lo lakuin atau gak, status gue tetap janda kalau pisah sama lo. Sebenarnya apa alasan lo nikahin gue?"
Arsen kembali duduk meski dia tidak berani menatap Naya. "Oke, gue akan bicara jujur sama lo. Sebenarnya waktu lo dibawa Galang, gue udah tahu kalau itu lo. Gue sengaja ambil lo dari dia, karena pasti Galang dan Tika punya niat jahat sama lo."
Naya semakin menatap Arsen. "Jadi lo nolong gue?"
"Ya, gue emang mabuk berat waktu itu antara sadar dan gak. Sebenarnya gue cuma cium bibir dan leher lo terus gue ketiduran. Gue juga gak mungkin ngelakuin itu sama lo," cerita Arsen. Dia masih saja mengalihkan pandangannya karena seumur-umur baru kali ini dia bicara dari hati pada seorang gadis. Tingkah boleh bad boy tapi nyalinya ciut jika sudah menyangkut perasaan.
"Terus kenapa lo gak bilang sama orang tua kita yang sebenarnya?"
Naya hanya terdiam mendengarkan kejujuran Arsen. Jujur saja, dia memang terkejut dengan ungkapan isi hati Arsen itu.
"Sekarang semua terserah lo, kalau mau kembali ke rumah lo gak papa. Gue akan antar lo dan jelasin sama orang tua lo. Gue juga ngerti, lo gak mungkin bisa cinta sama cowok kayak gue. Seperti yang lo bilang tadi, mungkin status lo akan janda setelah kita berpisah, tapi Rangga sudah tahu yang sebenarnya bahwa gue gak pernah sentuh lo. Pasti dia masih bisa nerima lo, kalau lo masih cinta sama dia, lo kembali sama dia gak papa. Dia jauh lebih baik daripada gue."
Naya semakin mengerutkan dahinya kemudian dia berdiri dan berjalan ke kamar tanpa bicara apapun.
__ADS_1
Arsen menghela napas panjang lalu dia berdiri dan mengambil baju gantinya di kamar. "Lo makan dulu. Gue mau ke bengkel, ada kerjaan penting. Kalau lo libur di rumah aja, nanti gue pulang jam 7. Kalau mau, gue bisa antar lo pulang nanti malam."
Naya hanya menundukkan pandangannya tanpa menjawab perkataan Arsen.
Kemudian Arsen keluar dari kamar dan membasuh dirinya. Setelah berganti pakaian, dia kembali masuk ke kamar dan menyisir rambutnya.
"Gue makan di bengkel. Cepat makan, jangan sampai telat makan," kata Arsen sambil memakai jaketnya kemudian dia keluar dari rumah dan mengendarai motornya.
Setelah suara motor Arsen menjauh, Naya merebahkan dirinya di atas ranjang. "Arsen, gue gak mungkin ninggalin rumah nyaman ini." Naya memeluk guling dengan erat lalu memejamkan matanya. Dia mengingat semua kenangan bersama Arsen di rumah itu yang tidak mungkin bisa dia lupakan begitu saja.
.
💕💕💕
.
__ADS_1
Like dan komen ya...