Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 131


__ADS_3

"Akhirnya Rani sudah sadar, Mas." Rani tersenyum setelah membaca chat dari Rangga yang mengabarkan jika Rani sudah siuman.


"Syukurlah kalau begitu."


"Ayo jenguk sekarang, Mas. Arnav diajak saja ya." kata Naya sangat bersemangat.


"Ya sudah, kamu siap-siap saja. Biar aku yang siapin perlengkapan Arnav."


Naya mencium pipi Arsen lalu dia masuk ke dalam kamar mandi.


"Arnav nanti lihat kakak kecil ya. Nanti kalian berdua bisa berteman, pasti sama-sama jagoan," celoteh Arsen sambil memasukkan perlengkapan Arnav ke dalam tas.


"Meskipun jagoan tapi gak boleh berantem terus kayak Ayahnya dulu," sambung Naya setelah keluar dari kamar mandi. Dia kini menyisir rambutnya dan bersolek tipis.


"Gak papa berantem demi membela kebenaran. Pria sejati harus jago mempertahankan diri." Arsen memakai jaketnya lalu dia menggendong Arnav. "Sayang, pakai jaket kamu."


"Iya." Naya mengambil cardigannya lalu memakainya. "Tasnya biar aku aja yang bawa."


"Gak usah, kamu bawa dedek dalam perut aja."


Naya hanya tersenyum sambil berjalan di samping Arsen. "Nih bocil seneng banget kalau diajak jalan-jalan." Naya mencubit gemas pipi Arnav yang sedari tadi tersenyum bahagia.


Mereka bertiga masuk ke dalam mobil. Naya dan Arnav duduk di belakang. Sedangkan Arsen mengemudi di depan.


Arnav masih saja tertawa sambil duduk di carseat nya.


"Kak Laras juga mau jenguk sekarang," kata Naya setelah melihat pesan dari kakaknya.


"Gak papa biar ramai."


Beberapa saat kemudian, mobil Arsen berhenti di tempat parkir rumah sakit. Mereka segera turun dan berjalan menuju ruangan Rani.


Arnav masih setia di gendongan Arsen. Setelah sampai di ruangan Rani, mereka bertiga langsung masuk ke dalam.


Meskipun Rani masih terbaring lemah, tapi dia sudah terlihat lebih segar dari sebelumnya.


"Ran, udah enakan?" tanya Naya sambil berdiri di dekat brankar Rani.


"Udah, tapi masih lemas."


"Kok bisa pendarahan, Ran?" tanya Naya.


"Iya, terjadi kerobekan di jalan lahir."


"Semoga cepat pulih ya."

__ADS_1


Sedangkan Arsen yang masih menggendong Arnav berdiri di dekat box Rey. "Arnav, itu Kak Rey. Lucu ya. Pipinya udah bulat. Gendut." Arsen kini menatap Rangga. "Gimana? Udah kapok belum?"


Rangga menghela napas panjang. "Trauma gue. Gue kayak gak punya hati lihat Rani kritis."


"Ya gue dulu juga trauma tapi ternyata bikin nagih." kata Arsen sambil tertawa.


Naya kini berdiri dan melihat baby Rey. Lalu dia menggendongnya dan mendekatkannya pada Arnav. "Nih, meskipun masih baby tapi ini kakaknya Arnav."


Bukannya melihat Rey tapi Arnav justru menangis karena dia tidak mau ibunya menggendong Rey. "Bubu..."


"Arnav sama Ayah saja. Jangan nangis."


Naya akhirnya memberikan baby Rey pada Rangga karena Arnav semakin menangis dengan keras. "Gimana kalau adiknya lahir nanti? Posesif banget gini."


Arnav semakin memeluk tubuh Naya seolah dia takut jika Naya menggendong Rey lagi.


"Posesif banget kayak Ayah."


Beberapa saat kemudian Virza dan Laras datang dan langsung masuk ke dalam ruangan.


"Rani udah baikan?" tanya Laras.


Rani menganggukkan kepalanya. "Udah, Kak. Makasih udah datang ke sini."


"Iya Kak, makasih ya."


"Cepat pulih ya. Aku sendiri jadi deg-deg an banget, gimana ya rasanya melahirkan nanti. Masih empat bulan lagi jadi kepikiran."


"Aku juga kepikiran kayak gitu Kak sebelumnya. Kepikiran banget sampai kadang gak bisa tidur. Ternyata itu gak baik untuk kesehatan ibu hamil dan berakibat pendarahan. Jadi Kak Laras jangan terlalu memikirkan."


"Iya. Siapa namanya si kecil?"


"Reynand."


Laras berjalan mendekati Rey yang masih ada di gendongan Rangga lalu dia menggendongnya.


"Ngga, kenapa calon bad boy udah terlihat gini di wajah anak lo." kata Virza.


"Siapa yang bad boy? Gue itu murid teladan di sekolah," kata Rangga.


"Di sekolah teladan tapi di jalanan penguasa."


"Sssttt, nanti anak-anak dengar, bahaya kalau meniru." Sudah berulang kali Naya memperingatkan agar mereka berbicara yang baik-baik saja.


"Arnav kenapa nempel banget sama Ibu?" tanya Virza.

__ADS_1


"Takut Ibunya gendong baby Rey," jawab Arsen.


"Posesif banget kayak Ayahnya. Ayo ikut Om yuk."


"Tuh, ikut Paman atau Pak De."


"Om, ya, Om, terlalu tua kalau panggil Paman apalagi Pak De." Virza menggendong Arnav yang mau ikut dengannya.


"Biar silsilahnya terlihat jadi panggil Paman Virza saja." Arsen masih saja menggoda Virza.


"Sama aja, om atau paman itu untuk sebutan saudara laki-laki dari orang tua. Tapi jangan panggil paman karena paman itu notabennya untuk pria yang lebih tua," kata Virza. Satu tangannya sibuk mencubiti kecil lengan Arnav.


Sedangkan Arnav hanya menyimak perkataan Virza. Dia menatap Virza tanpa berkedip.


"Mas Arsen tuh yang harusnya panggil Kak Virza dan Kak Rangga. Kalau bisa kalian bertiga itu jangan panggil gue lo. Nanti dicontoh sama anak-anak kita. Lihat tuh, Arnav sampai nyimak gitu." kata Naya.


"Nah, iya, bener banget tuh. Karena anak kecil itu gampang merekam apa yang kita ucapkan," sahut Laras. "Udah jadi bapak semua belajar bicara yang sopan."


Seketika ketiga papa muda itu tertawa. "Bro, bro, kita ngomong aku kamu."


"Wey, geli banget gue."


"Blo, blo..." Arnav mengikuti perkataan Virza.


"Eh, anak gue gak boleh ikutin ya." Seketika Arsen menggendong putranya. "Ayah, panggilnya Ayah."


"Yayah."


"Iya, pintar."


"Tuh, makanya kalau ngomong itu yang baik. Arnav sekarang udah belajar ngomong."


"Iya, iya, kita berubah demi anak-anak." Arsen dan Naya kini duduk di sofa.


Sedangkan Virza dan Laras bergantian menggendong Rey.


"Mau makan?" tanya Rangga sambil duduk di dekat brankar Rani.


Rani menganggukkan kepalanya.


"Duduk dulu." Rangga membantu Rani duduk dan mengganjal punggungnya dengan bantal agar bisa bersandar tegak. Lalu Rangga mengambil makanan dan menyuapi Rani.


"Makan yang banyak, biar cepat pulih dan bisa pulang ke rumah."


Rani menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil.

__ADS_1


__ADS_2