Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 55


__ADS_3

Area basah. 🥵 yang takut terkontaminasi harap menepi...


...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂...


.


"Ough, sayang kamu di atas ya."


Naya terdiam, tadi nyalinya sudah besar tapi sekarang justru menciut. Bagaimana caranya melakukannya di atas? "Aku gak bisa."


Arsen hanya tersenyum lalu menarik tangan Naya agar mendekat. Dia lu mat bibir itu dengan kedua tangan yang terus mengusap punggung Naya.


Arsen melepas pagutannya dan menatap Naya. "Aku bantu dari bawah." Arsen kembali mendekatkan dirinya, dia ciumi leher putih itu, perlahan turun ke dada. Satu tangan Arsen membuka tali lingerie itu agar dia bisa leluasa mengeksplor dada Naya.


Naya semakin mendongak merasakan bibir Arsen dengan rakus menghisap kedua dadanya secara bergantian. "Ah, Ar."


Mendengar suara indah Naya, semangat Arsen semakin terpacu. Satu tanggannya semakin turun ke bawah. Dia lepas g-string itu. Lalu dia usap inti Naya yang sudah basah.


"Ar," tubuh Naya semakin meliuk-liuk di atas tubuh Arsen.


"Sayang, aku udah gak tahan." Arsen membuka kaosnya. Lalu membuka celananya yang dibantu Naya.


Dada Naya semakin berdebar-debar saat melihat guratan otot panjang itu sudah berdiri tegak. Dia akan naik ke atasnya tapi ragu.


"Sayang sini." Arsen menarik Naya agar duduk di atasnya.


Naya memegang milik Arsen yang selalu sukses membuatnya kelimpungan seolah lupa daratan. Dia usap sesaat dengan tangannya lalu mengarahkan ke intinya. "Aww, Ar gak bisa."


Arsen menahan pinggul Naya lalu menghentakkan dari bawah.


"Aw, Ar." Meski sudah beberapa kali tapi saat baru masuk rasanya masih membuatnya ngilu.


"Udah, kamu goyangin pinggul kamu. Pasti enak banget." Dua tangan Arsen masih terus me re mas buah sintal Naya yang menggantung itu.


Naya mulai mencoba menggerakkan pinggulnya naik turun.


"Ah, enak banget sayang. Iya, kayak gitu. Hem, terus." Bibir Arsen terus berdesis. Saat Naya semakin mempercepat gerakannya rasa nikmat itu semakin menjalar ke seluruh tubuh. Dia juga menambah hentakan dari bawah.


"Ah, Ar, rasanya beda banget. Kenapa ini lebih enak." Naya sudah tidak malu lagi mengekspresikan semua rasanya. Dia terus menggerakkan pinggulnya saat rasa ingin keluar itu semakin terasa, dia membungkukkan dirinya dan menggigit leher Arsen.


"Ah, sayang kamu mau keluar?" Arsen memeluk tubuh Naya dan semakin menambah kecepatan hentakannya. Hisapan kuat sangat terasa di lehernya yang dibarengi dengan remasan dari inti Naya. Kemudian Naya melemas di atas tubuhnya dan mengatur napasnya.


"Sayang, kamu tahu kenapa rasanya lebih enak?" tanya Arsen, dia usap punggung Naya yang sudah berkeringat.

__ADS_1


"Apa?" Naya masih menggerakkan pinggulnya pelan meski tubuhnya sudah terasa lemas.


"Langsung, gak pake pengaman."


Seketika Naya membuka matanya lebar. "Ar, gimana kalau..."


"Ssttt, aku belum keluar. Kita tukar posisi." Arsen membalik tubuh Naya. Lalu dia melepas dirinya dan mengambil pengaman di nakas. Dia buka bungkus itu lalu memasangnya. "Sebenarnya emang enak gak pake, tapi aku takut telat angkat. Apalagi kalau udah enak banget. Kita masih belum lulus sekolah, aku gak mau merepotkan kamu."


Arsen kembali memasuki Naya. Dia sangat menggebu. Dia semakin menggerakkan pinggulnya dengan cepat.


"Ah, Arsen..." Naya berpegangan leher Arsen karena tubuhnya ikut bergetar menerima serangan dari Arsen.


"Enak banget sayang. Malam ini kita main sampai pagi ya, kan besok libur." Arsen mendekatkan dirinya dan mencium bibir Naya.


Peluh semakin membanjiri tubuh mereka berdua suara de sah semakin keras bersahutan. Arsen menegakkan dirinya saat hasratnya sudah sampai di ujung.


"Ah, sayang, ah, enak banget." Arsen melepas dirinya setelah seluruh hasratnya tumpah lalu dia membuka dan membuang pengaman itu.


Baru saja Naya mengatur napasnya Arsen sudah mencumbuinya lagi.


"Ar," Naya hanya bisa pasrah dengan perlakuan Arsen. Arsen benar-benar melakukannya sampai lewat tengah malam.


...***...


Hingga matahari naik ke atas dan bersinar terang, sepasang suami istri yang telah melewati malam panas itu masih tertidur nyenyak sambil berpelukan dengan tubuh yang masih polos.


Ranjang mereka sangat berantakan. Entah mereka tertidur jam berapa di saat sudah kehabisan tenaga.


Ponsel Arsen sudah berbunyi beberapa kali sejak pagi hingga siang.


Naya kini bergeliat dan meregangkan otot-ototnya. "Ar, udah siang." kata Naya meski sebenarnya dia juga sangat malas untuk bangun.


"Hari ini libur. Kita tidur aja sampai siang." Arsen semakin mengeratkan pelukannya.


"Iya, tapi aku haus dan lapar. Tenaga aku udah dikuras habis semalam." kata Naya. Dia memang masih mengantuk tapi perutnya sudah berbunyi dan meminta untuk diisi.


Arsen membuka matanya lalu mencium bibir Naya. "Iya, bentar lagi aku beliin nasi." Dia kini memandangi Naya sambil tersenyum. "Puas banget semalam. Makasih malam spesialnya."


Naya tersenyum malu. Dia akui, semalam dia juga tidak kalah buasnya dengan Arsen.


Naya melepas tangan Arsen lalu mengambil piyama kimononya dan memakainya.


"Ar, pake celana pendek kamu dulu." Naya mengambilkan celana pendek Arsen tapi Arsen justru membuka selimut dan memperlihatkan miliknya yang menegang lagi.

__ADS_1


"Arsen, ih!" Naya melempar celana itu lalu keluar dari kamar dan masuk ke dalam kamar mandi.


Arsen hanya tertawa lalu dia bangun dan memakai baju serta celananya. "Ternyata seenak ini punya istri." gumamnya.


Dia kini berdiri di depan cermin dan menatap lehernya yang tercetak dua tanda merah dari Naya. "Leher aku merah banget, ada dua lagi. Naya benar-benar ganas. Aku kan gak pernah buat tanda merah di leher dia biar gak dilihat orang. Gimana cara nutupin ini?" Arsen mengusap tanda merah itu tapi tidak memudar.


Kemudian dia keluar dari kamar dan menyusul Naya ke kamar mandi. Dia membuka pintu itu.


"Arsen! Duh, lupa lagi gak aku kunci pintunya."


Arsen mendekap tubuh Naya yang baru selesai dia bilas. "Kamu ganas banget buat tanda merah di leher aku. Lihat nih, gimana cara nutupinnya. Mau aku buatin juga." Arsen mendekatkan dirinya dan mencium leher Naya.


"Arsen jangan, aku gak sengaja semalam." Naya berusaha mendorong kepala Arsen.


"Gak sengaja tapi diterusin. Nanti kalau ada yang tanya, aku jawab aja Naya yang buat."


"Ih, habis enak makanya aku terusin."


Arsen kembali mencumbui Naya. Kini hasrat itu kembali berkobar.


"Ar, jangan. Aku lapar."


"Bentar aja, udah terlanjur on fire."


"Ar..."


Arsen akan menurunkan celananya tapi berhenti saat ada ketukan pintu berulang di depan rumahnya.


"Ar, ada tamu tuh."


"Siapa pagi-pagi gini ke rumah?" Arsen kembali merapikan baju dan celananya.


"Pagi?" Ini kesempatan untuk Naya lepas dari Arsen. Dia mengambil handuk dan melilitkan di tubuhnya lalu keluar dari kamar mandi.


"Siang maksudnya." Arsen juga keluar dari kamar mandi. Dia segera membuka pintu rumahnya setelah Naya masuk ke dalam kamar.


"Mama, Papa..."


.


💕💕💕


.

__ADS_1


Like dan komen ya...


.


__ADS_2