
Arsen akhirnya kembali ke kampus. Dia kini menemui Rangga dan mengembalikan kunci motornya. "Ngga, apa udah ada kabar dari anak buah lo? Di rumah Naya banyak wartawan, sepertinya Naya juga gak mungkin bisa masuk ke rumahnya."
Kemudian Rangga menarik Arsen agar menjauh dari lainnya agar tidak ada yang mendengar info penting yang dia dapat dari anak buahnya. "Anak buah gue udah nemuin siapa yang nyebarin video itu pertama kali."
"Siapa?" tanya Arsen.
Belum juga Rangga menjawab, Rani berteriak pada mereka berdua. "Arsen, Naya sedang live di akunnya. Kayaknya dia ada di rumah lama lo sekarang."
Seketika Arsen mengambil ponselnya dan membuka akun media sosialnya. "Naya ada di rumah lama."
"Ayo, gue antar pakai motor gue biar cepat. Lo pantau terus siaran Naya." Rangga naik ke atas motornya kemudian Arsen naik ke boncengannya.
Tak butuh waktu lama Rangga sudah melajukan motornya dengan kencang menuju rumah lama Arsen.
Di belakang Rangga, Arsen terus menonton siaran langsung Naya. Dia tahu, perasaan Naya saat ini pasti sedang hancur.
"Loh, kenapa Naya pegang pisau." Arsen menekan-nekan ponselnya karena siaran itu tiba_tiba berhenti.
"Kenapa, Ar?" tanya Rangga sambil menghentikan motornya di depan rumah lama Arsen.
Arsen tak menjawab, dia turun dari motor Arsen dan langsung mendobrak pintu itu dengan keras hingga terbuka.
"Nay, jangan lakuin ini."
Naya hanya menatap bingung Arsen yang tiba-tiba datang dan langsung membuang pisaunya.
"Ar, aku kaget banget kamu dobrak pintunya."
Seketika Arsen memeluk tubuh Naya. "Apapun masalah kamu, jangan sampai melukai diri kamu sendiri."
"Maksud kamu apa?" tanya Naya tak mengerti.
"Kami mau bunuh diri?"
Seketika Naya tertawa, "Ih, siapa yang mau bunuh diri cuma gara-gara masalah ini. Nih, aku mau kupas mangga. Perut aku lapar, tapi ternyata jaringan malah nge-bug."
"Astaga, jantung aku hampir saja berhenti lihat kamu barusan." Arsen melepas pelukannya lalu menangkup kedua pipi Naya. "Lain kali jangan kayak gini lagi, aku khawatir banget sama kamu. Jangan kabur sendiri, kalau ada apa-apa orang yang harus kamu temui adalah aku."
__ADS_1
Naya menganggukkan kepalanya, dia sampai lupa siaran livenya belum dia matikan. Jaringan sudah lancar sejak kedatangan Arsen. Apa yang dikatakan Arsen jelas terekam dan disaksikan semua yang ikut bergabung.
"Kalau mau mesra-mesraan, matiin dulu livenya," kata Rangga yang kini berdiri di ambang pintu sambil menunjukkan ponselnya.
Naya kini menatap layar ponselnya. Ada banyak emoticon love dari penonton dan sepertinya mereka sudah berhenti berkomentar buruk.
"Gift yang kamu dapat banyak banget. Kita kasih pada orang yang membutuhkan saja."
"Jangan dikasih ke orang Kak giftnya. Itu dari kita untuk calon dedek bayi," kata salah satu komentator yang dibaca Naya. "Tapi dedeknya jangan mirip Arsen karena wajahnya ngeselin."
Naya tak bisa menahan tawanya.
"Woy, siapa yang komen. Kalau gak mirip Ayahnya nanti dituduh lagi, salah lagi. Udah, udah gak usah salam perpisahan. Langsung matiin aja siarannya." Arsen mematikan siaran live itu. Lalu tangannya meraih bahu Naya yang sudah bisa tertawa.
"Nay, kamu tadi lari-lari, dedek gak papa kan?" Arsen kini mengusap perut Naya.
"Gak papa."
"Ar, mobil lo biar diantar anak buah gue ke sini. Gue ada masalah penting. Jangan ceritain dulu soal tadi." kata Rangga. Tanpa menunggu jawaban dari Arsen, Rangga pergi sambil berbicara serius di ponselnya.
Meski demikian, Arsen mengerti maksud Rangga. "Katanya lapar, nih aku kupasin." Arsen mengambil pisau dan mengupas mangga itu. Kemudian dia menyuapi Naya sampai mangga itu habis. "Mau makan apalagi? Roti ya, atau beli nasi saja." Arsen membuang kulit ke tempat sampah lalu mencuci tangannya. Kemudian dia kembali duduk di samping Naya sambil menyuapi Naya roti.
Arsen membantu Naya minum. Setelah itu Arsen berdiri lalu menutup pintu rumahnya. Untunglah pintu rumahnya tidak rusak akibat dia dobrak.
"Sayang, kamu istirahat saja di kamar sambil menunggu mobil datang."
Naya menganggukkan kepalanya. Kemudian mereka berdua masuk ke dalam kamar. Naya naik ke atas ranjang dan merebahkan dirinya. Dia hanya menatap langit-langit kamarnya. Sedangkan Arsen kini duduk dan memijat kaki Naya.
"Ar, kira-kira Papa gak akan di diskualifikasikan?"
"Nggak Nay, pemilihan akan tetap berlanjut. Tapi hasil dari pemilihan itu tetap ada di tangan rakyat."
Naya kembali terdiam sambil mengusap perutnya.
"Kamu hebat, berani klarifikasi. Aku gak nyangka kamu punya ide seperti ini."
"Karena video itu tersebar di dunia maya jadi aku juga harus bisa klarifikasi di dunia maya juga." Kemudian Naya menarik tangan Arsen. "Ar, udah, nanti aja pijitinnya. Aku mau peluk kamu."
__ADS_1
Arsen menyudahi pijatannya lalu dia berbaring di samping Naya dan memeluk tubuh Naya.
"Ar, makasih kamu selalu menemani aku."
"Aku akan selalu ada buat kamu. Tapi sekarang juga ada calon anak kita yang akan selalu menemani kamu juga." Arsen meregangkan pelukannya dan mengusap perut Naya. "Kayaknya kamu pantas ya jadi calon legislatif."
"Kenapa bisa gitu?"
"Iya, kata-kata kamu tadi udah kayak caleg yang lagi kampanye."
"Ih, aku gak ada cita-cita kayak gitu. Nanti aku mau merawat anak-anak kita saja."
"Anak-anak? Oke, berarti lebih dari satu. Bikin aku semakin semangat aja buatnya." Arsen mendekatkan dirinya lalu mencium bibir Naya. Semakin lama rasa cintanya semakin besar untuk Naya. "Sekarang kamu tidur. Istirahat dulu, pasti kamu capek."
Naya menganggukkan kepalanya. Mendapat usapan lembut di rambutnya, Naya akhirnya tertidur.
"Pasti kamu lelah hari ini. Setelah ini, semoga kamu selalu bahagia. Aku akan selalu berusaha buat kebahagiaan kamu dan keluarga kecil kita."
Arsen hanya menemani Naya. Dia tidak bisa tidur, sampai terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumahnya. Perlahan Arsen melepas pelukannya dan turun dari ranjang. Dia berjalan ke depan lalu membuka pintu rumahnya. Dia kira anak buah Rangga yang datang mengantar mobilnya, tapi ternyata bukan.
Terlihat kedua orang tua Naya turun dari mobil dan menghampiri Arsen.
"Naya masih ada di sini?" tanya Pak Aji.
"Naya sedang tidur," jawab Arsen. "Masuk dulu, biar saya bangunkan."
"Jangan, kami tunggu saja sampai Naya bangun."
Arsen hanya menganggukkan kepalanya. Dia kini duduk di ruang tamu menemani mertuanya. Entah apa yang akan dikatakan kedua orang tua Naya pada Naya tapi jika orang tua Naya masih saja menyakiti Naya, Arsen tidak akan tinggal diam. Sudah cukup penderitaan Naya selama ini.
Beberapa saat kemudian, Naya terbangun. Dia memang tidak bisa tidur dengan nyenyak jika tidak ada Arsen di sisinya. Dia keluar dari kamarnya dan terkejut melihat kedua orang tuanya sudah menunggunya di ruang tamu.
"Mama, Papa...."
.
💕💕💕
__ADS_1
.
Like dan komen ya...