
Dua bulan telah berlalu, perut Naya sudah semakin terlihat. Setiap hari juga sejak tahu Naya hamil, Arsen membawa mobil ke kampus karena motor sportnya tidak nyaman untuk ibu hamil.
Tidak ada pengharum mobil dan juga kaca mobil di dekat Arsen harus terbuka. Dia masih sering merasakan ngidam.
Naya terus tersenyum menatap Arsen yang sedang mengemudi. Semakin hari, Arsen semakin terlihat dewasa.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Arsen. Satu tangannya kini mengusap perut Naya yang sudah berusia empat bulan itu.
"Aku jatuh cinta lagi sama kamu."
"Calon Ibu ini makin pintar gombal." Beberapa saat kemudian mobil Arsen berhenti di tempat parkir kampus. "Sayang sudah terasa gerakannya belum?" Arsen semakin mengusap perut Naya dengan kedua tangannya.
"Kadang kayak terasa dikit."
"Lucunya udah keliatan bulat gini. Sayang, kamu gak malu kalau ada yang tanya tentang kehamilan kamu?"
Naya menggelengkan kepalanya. "Mereka gak tanya, kadang cuma liatin aja. Ya udah yuk keluar."
Kemudian mereka berdua keluar dari mobil. "Ar, ada rujak tuh. Beli gak?" tanya Naya.
"Iya, mangga wajib ada tiap hari. Kalau gak gitu aku mual seharian."
Naya tertawa. Karena entah di rumah atau di kampus Arsen selalu ditemani mangga dan makanan asam lainnya.
Saat mereka berdua mendekat ke penjual rujak mangga itu, beberapa mahasiswi saling bisik-bisik. Naya dan Arsen tidak pernah menghiraukan mereka.
"Udah berapa bulan itu? Cepat diresmiin keburu lahir," celetuk salah satu mahasiswi di tempat itu.
"Iya, sudah 4 bulan," jawab Naya dengan santai.
Setelah mendapatkan rujak yang dimau Arsen mereka berdua berjalan menuju kelas.
__ADS_1
"Nay, kamu beneran gak malu dituduh anak-anak kayak gitu?" tanya Arsen lagi.
"Biarin aja, Ar. Nanti kalau kita dipanggil sama Dosen gara-gara gosip ini, baru kita tunjukkin buku nikah kita. Tiap hari aku bawa, kamu tenang saja."
"Makin sayang sama ibunya dedek nih. Aku mau makan rujak dulu." Arsen duduk di bangku yang berada di samping taman.
"Aku ke toilet dulu ya dan langsung ke kelas soalnya sebentar lagi aku udah masuk."
"Ya udah, nanti pulangnya tungguin aku." Arsen sempat menyuapi Naya sebelum dia pergi.
Kemudian Naya berjalan menuju toilet. Setelah selesai, dia keluar dari toilet tapi beberapa mahasiswi berjejer menatapnya tajam.
"Jadi dia anak hasil perselingkuhan."
Selama ini, dia diam saja saat dituduh hamil diluar nikah tapi saat mereka berbicara tentang statusnya itu, rasanya hati Naya sangat sakit. "Apa kalian bilang? Jaga ya mulut kalian."
"Udah beredar kali videonya dan video itu pasti sebentar lagi akan viral. Lo lihat tayangan mulai naik."
Aku masih saja belum bisa menerima kalau aku anak selingkuhan Papa. Entahlah, mengapa rasanya masih nyesek di hati. Kalau aku bisa memilih, kadang lebih baik aku gak tahu kenyataan yang sebenarnya.
"Kita sebenarnya kasihan sama lo, ternyata lo cuma anak selingkuhan Pak Walikota. Pantas aja cari pelampiasan sama cowok, duh, kasihan banget hidup lo."
Naya masih serius menatap beberapa komentar di video itu yang menyuruh Papanya mundur dari pencalonan walikota dan pemecatan Mamanya dari anggota DPR.
"Kalian jangan seenaknya kalau ngomong!"
"Tapi memang fakta kan. Untung sih anaknya gak jadi pelakor juga, cuma jadi simpanan tuan muda Arsen."
Naya memberikan ponsel itu lalu pergi dari tempat itu. Teman-temannya masih saja menatap dan mengatainya. Sampai dia masuk ke dalam kelas. Di dalam kelas suasana semakin memanas ditambah adanya tim kompor dari Tika.
"Diam kalian! Naya itu udah nikah sama Arsen. Dia hamil dari hubungan yang resmi." bela Rani karena teman-temannya semakin menyerang Naya.
__ADS_1
"Meskipun kayak gitu, dia tetap anak selingkuhan. Memalukan sekali, selama ini kota kita dipimpin seorang walikota tukang selingkuh. Jangan-jangan walikota kita korupsi dan hasil dari korupsi itu dia buat untuk menghidupi wanita lain."
"Iya, ayo kita demo agar Pak Aji tidak bisa mencalonkan diri lagi!"
Air mata Naya sudah mengembun. Bagaimana pun juga dia tidak ingin masalah ini menimpa Papanya.
Beberapa saat kemudian ada panggilan masuk dari Papanya. Dia segera mengangkatnya.
"Naya kamu gak papa kan?" tanya Papanya di seberang sana. Tapi sepertinya ponsel Papanya ditarik oleh Mamanya.
"Naya, kamu sengaja membongkar rahasia ini?" Bu Nita justru memarahi Naya yang membuat hati Naya semakin hancur. Air mata itu semakin menetes di pipinya. Dia memutar langkahnya dan keluar dari kelas. Dia berlari di koridor kelas sambil memegang perutnya.
"Naya, jangan lari! Nay," Rani berusaha mengejar Naya tapi dia kehilangan jejak. Dia kini melihat Arsen yang sedang berbicara serius dengan Rangga di pinggir taman. Dia segera menghampiri mereka tapi dia tidak bisa memotong pembicaraan serius mereka.
"Video ini lo yang buat?" Arsen menatap tajam Rangga setelah melihat video itu.
"Gue kasih tahu lo, kenapa lo jadi tuduh gue?"
"Bukannya orang tua lo yang mau menggagalkan Papanya Naya jadi walikota lagi."
"Lo pikir musuh Pak Aji cuma Papa gue? Keluarga gue gak mungkin lakuin itu setelah tahu kalau ibunya Naya adalah adik kandung Papa gue."
Arsen sangat terkejut mendengar pernyataan Rangga. "Jadi lo sepupuan sama Naya?"
.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
__ADS_1