Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 113


__ADS_3

Malam hari itu keluarga Virza berkunjung ke rumah Laras untuk melamar Laras. Tak hanya kedua orang tua Virza, tapi mereka juga mengajak kerabat lainnya. Mereka semua sangat bersemangat mengantar Virza melamar secara resmi.


Beberapa kali Virza menggaruk tengkuk lehernya. Sebenarnya cukup kedua orang tuanya saja yang datang, tidak perlu beramai seperti ini. Tapi keluarga sangat berantusias dan mendukung hubungannya dengan Laras.


Keluarga Laras menyambut keluarga Virza dengan ramah. Tapi untung juga Arsen masih berada di rumah sakit menunggu Naya jadi tidak ada yang merusuh kali ini.


Mereka semua kini duduk di ruang tamu dan saling mengobrol agar antar keluarga menjadi lebih dekat. Sedangkan Laras sedari tadi hanya terdiam di samping Mamanya. Baru kali ini dia berada di momen yang menegangkan seperti ini. Bahkan dia yang telah terbiasa berbicara di muka umum, seketika hanya diam dan menutup bibirnya rapat.


Hingga mereka kini mulai membicarakan lamaran Virza pada Laras.


"Sebelumnya saya sebagai Papa dari Laras ingin memastikan, apakah kamu benar-benar serius dengan putri saya? Saya tahu kamu sahabat Arsen, tentu kamu tahu bagaimana cerita di keluarga saya. Saya pernah melakukan kesalahan tapi saya tidak ingin kamu melukai hati putri saya. Kamu harus benar-benar mencintai dan menjaganya. Bahagiakan dia melebihi saya membahagiakan dia."


Laras menatap nanar Papanya. Bagi dia, Papanya adalah sosok yang hebat, terlepas dari skandal di masa lalunya, Papanya adalah seorang lelaki yang bertanggung jawab pada keluarganya.


"Iya, saya akan selalu berusaha membahagiakan Laras dan menjadikan dia satu-satunya wanita di dalam hidup saya."


"Bagi saya yang terpenting adalah kebahagiaan putri saya. Jika putri saya mau menerima lamaran kamu, saya pasti akan merestui. Bagaimana Laras?" tanya Pak Aji.


Laras hanya tersenyum, sedangkan Virza kini mengulang pertanyaannya pada Laras. "Apa kamu menerima lamaranku dan bersedia menikah denganku?"


Dada Laras semakin berdebar tak karuan. Dia terus menatap Virza. Beberapa detik kemudian barulah dia menganggukkan kepalanya.


Virza membuang napas pelan. Akhirnya dia telah menemukan jodohnya setelah mengalami patah hati berulang.

__ADS_1


Kemudian kedua keluarga itu kembali membicarakan hari pernikahan mereka yang mungkin akan diselenggarakan dalam waktu dekat.


...***...


"Sayang, hari ini Virza melamar Kak Laras ke rumah kamu." kata Arsen sambil membantu Naya merebahkan dirinya di atas brankar lalu menutup tubuh Naya dengan selimut.


"Iya, aku jadi gak bisa ikut menyaksikan kisah mereka."


"Gak papa. Nanti pas mereka menikah kita bisa hadir. Kamu sekarang tidur ya." Arsen mengusap rambut Naya agar dia segera tertidur.


Naya menganggukkan kepalanya. "Ar, kalau kamu capek biar Bi Nur bantu kamu. Kamu udah merawat aku, terus merawat Arnav juga."


"Gak papa. Hanya ini yang bisa aku lakukan. Biar aku sendiri yang merawat Arnav. Ya, aku memang belum bisa cekatan tapi aku akan merawat dengan penuh kasih sayang. Nanti setelah kondisi kamu pulih, baru aku mulai ke kantor lagi."


Beberapa saat kemudian Arnav terbangun dan menangis. Arsen segera berdiri dan mendekati box Arnav.


"Sayang, kenapa? Haus?" Arsen mengecek popok Arnav. "Arnav poop. Sebentar ya Ayah ganti dulu. Cup, cup, jangan nangis."


"Ar, bisa?" Naya bangun. Dia sangat ingin merawat putranya tapi sekarang dia benar-benar tidak bisa melakukannya.


"Sayang, duduk aja. Aku bisa kok. Nih, Arnav juga udah diam." Dengan telaten Arsen mengganti popok putranya. Dulu dia tidak pernah membayangkan akan memiliki anak di usia yang cukup muda tapi sekarang dia sangat bahagia. Rasa lelah pun hilang saat melihat tatapan Arnav yang terkadang tersenyum kecil tanpa sengaja.


"Sudah selesai, sekarang juga sudah hangat. Udah pakai bedong lagi. Untung aja semua bedongnya instant. Tangannya diluar aja biar bisa gerak-gerak." Arsen tersenyum kecil lalu dia menggendong putranya dan menurunkan di pangkuan Naya. "Aku buatin susu bentar. Nih, Arnav lagi lihat ibunya, anteng."

__ADS_1


Naya tersenyum sambil memainkan tangan Arnav yang bergerak-gerak. "Arnav, maafin ibu ya, belum bisa merawat kamu. Nanti setelah ibu sembuh ibu akan selalu merawat kamu."


Setelah selesai membuat susu, Arsen kini duduk di samping Naya. "Nih, kamu pegang dotnya."


Arsen mengarahkan tangan Naya yang telah memegang dot ke bibir Arnav.


"Arnav kalau minum banyak. Nih, baru tiga hari pipinya udah kelihatan chubby." kata Arsen sambil mengusap pelan pipi Arnav yang ikut bergerak seiring hisapannya.


"Iya?"


"Iya, pasti dia cepat besar."


"Jangan-jangan nanti pas aku udah lihat dia udah lari," canda Naya.


Arsen tersenyum lalu merengkuh bahu Naya. "Satu minggu lagi perban kamu dilepas. Pasti kamu sudah bisa melihat lagi."


Naya menganggukkan kepalanya.


Arsen mencium pipi Naya lalu dia memandang Arnav yang masih menghisap dot dengan kuat.


"Sebentar lagi pasti tidur. Kamu cepat tidur ya. Biar cepat pulih."


"Kamu juga cepat tidur kalau Arnav udah tidur. Kamu juga harus jaga kondisi kamu."

__ADS_1


"Iya." Satu kecupan mendarat lagi di pipi Naya kemudian dia memandang wajah Arnav yang sekarang sudah terlihat mengantuk.


__ADS_2