
Saat hari menjelang malam, akhirnya Naya pulang dari rumah sakit. Dia kini hanya tidur berdua bersama Arnav. Rasanya dia tidak bisa tidur memikirkan Arsen. Kemudian dia mengambil ponselnya dan membaca chat dari Arsen.
Sudah tidur?
Naya tersenyum kecil sambil membalas chat itu.
Belum, gak bisa tidur gak ada kamu.
Beberapa saat kemudian Arsen memanggilnya dengan video call. Naya segera memakai headseat lalu mengangkat panggilan itu.
"Sayang, cepat tidur. Ini sudah malam."
Naya menganggukkan kepalanya. "Kamu juga cepat tidur."
"Kamu pasti gak bisa tidur. Aku temani lewat vc ya."
Naya menganggukkan kepalanya lalu menyandarkan ponselnya di bantal dan menghadap ke arahnya.
"Aku udah enakan. Kamu jangan terlalu khawatir. Besok kamu ke rumah sakit, aku antar periksa ke Dokter Sinta."
Naya hanya menganggukkan kepalanya.
"Kamu gak merasakan keluhan apa-apa kan?"
Naya menggelengkan kepalanya. "Nggak ada. Aku hanya kepikiran sama kamu."
"Syukurlah. Jangan terlalu mikirin aku, gak baik untuk kandungan kamu. Aku sayang kamu, Nay."
Naya menganggukkan kepalanya. "Aku juga sayang kamu."
"Udah, sekarang kamu pejamkan mata dan tidur, karena biasanya Arnav minta susu tengah malam."
Naya menganggukkan kepalanya lalu dia memejamkan matanya dan panggilan video itu dimatikan oleh Arsen.
...***...
Pagi-pagi Naya sudah ke rumah sakit untuk menjaga Arsen. Dia membawa makanan dari rumah dan tak lupa juga buah mangga.
"Gery kamu pulang saja, istirahat di rumah. Biar aku yang jaga Arsen," suruh Naya.
Gery menganggukkan. "Iya Nyonya, saya permisi dulu."
Setelah Gery keluar, Naya kini berdiri di dekat brankar Arsen.
"Sayang, ini masih pagi kok kamu udah ke sini?"
Naya mengeluarkan sandwich buatannya dan juga susu hangat. "Udah kangen sama Mas Arsen. Makan dulu, pasti belum ada makanan dari rumah sakit kan?" Lalu Naya membantu Arsen duduk.
__ADS_1
"Kamu sendiri udah sarapan?"
"Udah."
"Sini, duduk dulu." Arsen menarik lengan Naya agar duduk. "Wajah kamu pucat hari ini. Ada lingkar mata juga. Semalam kamu gak tidur?"
Naya menggelengkan kepalanya. "Setelah Arnav minta susu, aku gak bisa tidur lagi."
"Sayang, kamu harus cukup istirahat. Aku gak mau kamu sakit juga. Nanti biar aku minta pulang ke rumah saja. Ini aku udah enakan."
Naya membantu Arsen meminum susu. Setelah itu dia letakkan botol kosong di atas nakas. Lalu menyuapi Arsen roti sandwich.
"Harusnya aku yang manjain kamu, bukan kamu gini."
"Gak papa. Nanti juga gantian Mas Arsen yang manjain aku." Naya terus menyuapi Arsen hingga satu roti sandwich itu habis.
"Tapi kamu lagi hamil, bahkan belum periksa juga. Nanti aku antar periksa ke Dokter Sinta."
"Mas Arsen jangan memikirkan itu dulu. Aku gak papa." Naya kini juga membuka sekotak mangga yang sudah dia kupas lalu menyuapi Arsen dengan garpu. "Ini mangganya manis dan segar. Mas Arsen gak boleh makan yang asam dulu."
"Kamu juga harus makan, yang butuh gizi banyak itu kamu." Arsen mengambil garpu yang ada di tangan Naya lalu menyuapinya.
"Mas udah ke kamar mandi?"
"Udah, tadi sama Gery. Arnav rewel gak semalam?"
"Iya, udah kayak anak bontotnya Mama." Arsen tertawa kecil mengingat putra Mamanya hanyalah dirinya seorang.
"Udah, sekarang Mas Arsen tiduran aja. Biar aku temani."
Arsen merebahkan dirinya sambil menatap Naya. "Kamu tiduran sini kalau ngantuk."
"Kamu aja istirahat. Sebentar aku mau ke kamar mandi dulu." Naya berdiri dan mengemasi kotak bekalnya lalu di berjalan menuju kamar mandi. Tapi tiba-tiba kepalanya terasa sangat pusing dan berputar.
"Sayang, kenapa?" Seketika Arsen turun dari ranjang saat melihat tubuh Naya limbung dan jatuh di lantai. Dia melepas jarum infusnya, lalu segera menahan tubuh Naya. "Sayang, kenapa?"
Naya memegang kepalanya, dia seperti tidak memiliki tenaga untuk berdiri. "Kepala aku pusing banget."
"Tuh kan, apa aku bilang. Kamu istirahat saja di rumah." Arsen mengangkat tubuh Naya lalu merebahkannya di atas brankar. "Aku akan panggil Dokter biar periksa kamu."
Naya tak menyahuti Arsen. Dia terus memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing.
Arsen segera memanggil Dokter agar memeriksa Naya.
"Pak Arsen tidak boleh lepas infus sembarangan," kata Dokter yang masuk bersama suster.
"Saya membantu istri saya, Dok. Dia hampir pingsan."
__ADS_1
"Suster kasih plester di bekas jarum infusnya agar tidak berdarah terus." Lalu Dokter itu memeriksa kondisi Naya.
"Istri saya sedang hamil muda, Dok." kata Arsen.
"Tensinya sangat rendah. Jangan stress dan harus banyak istirahat. Nanti bisa langsung periksa ke Dokter Sinta. Satu jam lagi pasti sudah datang."
"Iya, Dok."
"Pak Arsen juga masih harus istirahat."
Naya akan duduk tapi ditahan Arsen. "Saya sudah tidak apa-apa, Dok. Biarkan istri saya saja yang istirahat. Karena sepertinya saya terkena sindrom simpatik."
"Pak Arsen duduk dulu biar saya periksa." Dokter segera memeriksa kondisi Arsen. "Sudah tidak mual?"
"Masih sedikit tapi bisa saya atasi."
"Jika terkena sindrom simpatik memang tidak bisa hilang sepenuhnya. Rasa mual akan terus berlanjut selama masa kehamilan istri bapak. Tapi jika rasa mual sudah parah bisa diatasi dengan obat lambung jadi obatnya harus tetap dihabiskan. Nanti sore Pak Arsen boleh pulang."
"Iya, Dok, terima kasih."
"Biar suster ambilkan kursi roda untuk bawa Ibu ke ruang Dokter Sinta."
"Iya, Dok."
Setelah Dokter dan suster itu keluar dari ruangan, Arsen kembali mendekati Naya. "Masih pusing?"
Naya menganggukkan kepalanya.
"Aku kan udah bilang, jangan terlalu memikirkan aku, aku gak papa. Kamu juga harus banyak istirahat. Ibu hamil itu kondisinya beda."
Naya menganggukkan kepalanya. "Maaf, aku merepotkan kamu yang sedang sakit."
Arsen mencubit kecil hidung Naya. "Kamu tuh. Kamu beneran udah sarapan?"
"Udah dikit."
"Kamu harus makan yang banyak. Nay, ingat ada adiknya Arnav dalam perut kamu. Sekarang kamu makan lagi, biar aku yang suapi." Arsen mengambil roti sandwich yang tinggal satu lalu membantu Naya duduk. "Sebentar lagi ada makanan dari rumah sakit, kamu saja yang makan."
"Aku bawa bekal kok."
"Ya, bekalnya buat nanti siang saja. Aku gak mau terjadi apa-apa sama kamu." Arsen memeluk Naya dari samping setelah roti sandwich itu habis.
"Mas Arsen juga cepat membaik ya. Aku gak mau lihat Mas Arsen sakit gini."
"Sama seperti yang kamu rasakan, aku juga gak mau lihat kamu sakit." Arsen mendekatkan dirinya lalu mencium singkat bibir Naya. "Aku sayang kamu."
"Aku juga sayang kamu." Naya tersenyum menatap Arsen.
__ADS_1