
Hari yang dinantikan akhirnya tiba, Arsen menemani Naya selama operasi berlangsung. Dia ajak bicara Naya dan memberikan motivasi agar Naya tidak tegang dan takut.
Senyuman Arsen seketika merekah saat mendengar suara tangis yang memenuhi ruangannya. Anak keduanya terlahir dengan sehat dan sempurna. Bayi perempuan itu sangat cantik dan wajahnya justru mirip dengan Arsen.
"Shena, selamat datang sayang." Arsen mengusap lembut pipi Shena yang memerah karena tangisnya.
Naya hanya tersenyum menatap putrinya. Dia setengah sadar karena pengaruh obat bius.
"Anak kita udah lengkap. Arnav dan Shena. Semoga mereka nanti menjadi kebanggaan kita."
Naya hanya menganggukkan kepalanya pelan.
Bayi cantik yang mungil itu bergeliat di dada Naya untuk mencari sumber kehidupannya. Kali ini hanya ada air mata bahagia tanpa ada lagi air mata kesedihan seperti kelahiran Arnav dulu, karena semuanya berjalan dengan lancar tanpa kendala sedikitpun.
...***...
Setelah Naya dan bayinya dipindahkan ke ruang rawat, Arnav dan Bu Ririn datang yang membuat ruangan itu seketika sangat ramai dengan celoteh Arnav yang kini sudah berusia 13 bulan.
"Dedek..." Arnav juga sudah bisa berjalan. Dia kini berdiri di dekat box adiknya sambil mengintip ke dalam box.
"Adek Shena masih bobok. Arnav mau lihat?" Arsen menggendong Arnav agar dia bisa melihat Shena yang masih tertidur.
Naya hanya tersenyum melihat Arnav yang begitu antusias melihat adik kecilnya. Untunglah Arnav sudah tidak posesif seperti dulu.
"Mau ma Ibu." Arnav menunjuk Ibunya dan ingin mendekat.
"Iya, tapi yang anteng ya. Ibu masih sakit." Arsen tetap memegangi Arnav yang duduk di samping Naya takut jika Arnav tiba-tiba naik ke perut Naya.
__ADS_1
"Arnav pintar gak sama oma?"
Arnav menganggukkan kepalanya. "Intel. Mau walna-walna." jawab Arnav dengan suara cadelnya.
"Mewarnai. Sudah bisa mewarnai?"
"Iya, mewalnai."
"Pintar. Nanti dibelikan alat mewarna lagi ya? Mau mainan juga gak?" tanya Arsen.
"Mau. Obil.."
"Nanti pilih sendiri ya tapi nunggu adik Shena pulang dulu dari rumah sakit. Nanti kita pilihin juga boneka yang cantik buat adik Shena."
"Iya, Yah. Ama Ley ya."
"Ley? Kak Rey juga dibelikan? Katanya gak suka sama Kak Rey."
Naya tersenyum kecil lalu mengusap rambut tebal Arnav. "Yang akur ya sama saudaranya. Kurang satu lagi yang sebentar lagi juga akan launching."
Baru saja dibicarakan, Virza dan Laras datang bersamaan dengan Rangga dan Rani.
"Eh, itu ada Kak Rey." Arsen menggendong Arnav dan mendekati Rangga. "Tuh, Kak Rey udah pintar senyum."
Bayi yang sudah berusia tiga bulan itu tertawa melihat Arnav. Dia sangat senang dengan Arnav.
"Mau main sama Kak Rey? Yuk, sini duduk di sofa dulu," ajak Rangga.
__ADS_1
Arnav langsung turun dari gendongan Arsen dan duduk anteng di kursi sambil sesekali menyentuh pipi bukat Raynand.
"Shena cantik banget." Rani langsung menggendong Shena yang masih saja tertidur. "Ini mirip Ayahnya banget tapi kenapa jadi cantik gini ya. Hidungnya mancung, bibirnya lucu bawahnya agak tebal tapi belah tengah."
"Ngga, pertanda pengen punya anak cewek tuh. Gaskan lagi dah." kata Arsen sambil menyenggol lengan Rangga.
"Nggak. Baik aku maupun Rani masih trauma."
Arsen hanya tertawa. Tapi sebenarnya dia juga kasihan degan apa yang menimpa Rani dulu. Jelas saja semua itu berat mereka lalui.
"Sakit gak, Nay?" tanya Laras. "Kamu pakai metode ERACS kan? Pilih paket termahal lagi. Tuan Arsen kalau milih gak main-main."
"Iyalah. Buat Naya selalu yang nomor satu." sahut Arsen.
"Ini udah bisa langsung gerak. Ya sakit tapi gak seberapa."
"Oo, gitu ya. Berarti memang gak sakit."
"Sayang, kamu mau coba juga?" tanya Virza.
"Nggak, aku kan udah mutusin untuk lahiran normal. Kenapa jadi kamu yang takut."
"Iya, hampir tiap malam aku yang gak bisa tidur karena mikirin kamu."
Seketika Rani dan Naya tertawa. "Kebucinan Kak Virza ngalahin suami kita."
"Iya, aku juga baru tahu."
__ADS_1
"Za, kebucinan kamu benar-benar udah diambang batas," sahut Arsen. "Tapi gak papa. Justru itu bagus."
Mereka kembali mengobrol sambil sesekali berfoto untuk mengabadikan momen seru itu.