
"Ran, kamu pulang sama siapa?" tanya Virza yang saat itu masih berada di ruang rawat Rangga bersama Rani. "Udah malam, aku anterin aja."
"Biar Rani diantar anak buah gue aja," kata Rangga memotong pembicaraan mereka. "Gue gak yakin kalau pulang sama lo."
Virza hanya tersenyum miring. Menyangkut soal Rani, Rangga memang selalu ikut campur. Rangga tidak akan membiarkan dia mendekati Rani.
"Udah, lo istirahat aja. Biar gue pulang sama Kak Virza," kata Rani sambil tersenyum. Sepertinya dia memang harus memastikan perasaannya sendiri.
Rangga hanya terdiam. Selalu saja dirinya seperti ini, dia hanya bisa menahan rasa kesal saat Virza mendekati Rani. "Ya udah, lo pulang aja. Ini udah malam."
"Cepat sembuh ya, biar marahnya makin loss," goda Rani sambil mencubit pipi Rangga sesaat.
"Dasar! Udah sana pulang, udah malem. Hati-hati di jalan."
"Iya." Kemudian Rani dan Virza keluar dari ruang rawat Rangga. Mereka pulang paling terakhir dibanding teman-teman lainnya.
"Ran, gimana hubungan lo sama Rangga?" tanya Virza. Dia memang sudah cukup lama tidak mengobrol dengan Rani.
"Ya biasa aja. Tetap kayak dulu," jawab Rani karena memang begitu adanya.
Mereka berdua berjalan di koridor rumah sakit sambil mengobrol pelan. "Apa kamu gak merasakan sesuatu sama Rangga?"
"Maksudnya?"
"Ya, kalian berdua ada perasaan lebih dari sahabat."
Rani hanya terdiam lalu dia mengelengkan kepalanya pelan. "Aku gak tahu, Kak. Aku sendiri juga bingung dengan perasaanku."
Virza menghela napas panjang kemudian dia menghentikan langkahnya di dekat sepeda motornya. "Kalau kamu sayang sama Rangga, kamu bilang sama dia biar gak salah paham terus gini."
Rani hanya tersenyum, "Aku sendiri aja gak tahu, gimana perasaanku sama Rangga. Ya mau bilang gimana? Dari dulu kita hanya sahabat."
Virza membungkukkan dirinya dan menatap Rani. "Sebentar lagi aku sudah selesai skripsi. Kalau kamu memang gak ada perasaan sama Rangga, aku akan datang melamar kamu."
__ADS_1
Seketika kedua bola mata Rani melebar. "Eh, tapi kak..."
"Kenapa?"
Rani semakin ragu dengan perasaannya.
"Kamu pasti ragu dengan perasaan kamu sendiri. Kamu tenang saja, aku gak akan maksa kamu. Aku bisa terima apapun keputusan kamu. Aku akan bantu kamu untuk menyadari perasaan kamu. Jika akhirnya kamu lebih memilih Rangga, gak papa. Aku yakin kamu juga jauh lebih bahagia bersama Rangga." Virza kini naik ke atas motornya dan memakai helmnya.
Kemudian Rani naik ke boncengan Virza. Sepanjang perjalanan dia hanya terdiam saja. Apa iya dia menyayangi Rangga lebih dari sahabat? Yang dia tahu, dia tidak ingin kehilangan Rangga. Tapi selama ini Rangga juga tidak pernah mengakui perasaan padanya. Jika saja Rangga mau mengakuinya, mungkin dia bisa lebih mudah memikirkan perasaannya.
Rani mendekatkan wajahnya di telinga Virza yang tertutup helm itu. "Kak, aku boleh minta bantuan?"
Virza sedikit menoleh Rani. "Apa?"
"Nanti aja di depan rumah, biar Kak Virza fokus nyetir dulu."
"Oke."
...***...
"Pagi juga." Naya sedikit mengangkat tangannya ke atas agar otot-ototnya sedikit meregang karena sudah hampir dua hari dia hanya merebahkan dirinya di atas brankar. "Kamu udah bangun dari tadi?" Kemudian Naya mengusap pipi Arsen yang sangat dekat dengannya.
"Iya, kamu tidurnya nyenyak banget. Udah lebih enakan?"
Naya menganggukkan kepalanya. "Nanti ada pemeriksaan USG lagi, moga segera ada kabar baik. Baru dua hari rasanya udah bosen rebahan terus gini. Pengen cepat tidur di rumah."
Arsen meraih tangan Naya dan menciumnya. "Iya, semoga saja perkembangannya bagus." Kemudian tangannya menyentuh perut Naya dan mengusapnya lembut. "Sayang, apa kabar hari ini? Udah sehat kan? Ibu udah istirahat panjang."
Naya tersenyum kecil mendengar Arsen berbicara di dekat perutnya.
Arsen menyingkap baju Naya dan mengusapnya secara langsung di atas kulit perut Naya. Tiba-tiba saja ada satu tendangan kecil dari dalam. "Wah, udah bisa nendang tangan Ayah."
"Iya, barusan gerakannya terasa banget. Biasanya cuma kayak kedutan."
__ADS_1
"Hai, udah gak sabar mau main sama Ayah? Sehat-sehat ya di dalam. Empat bulan lagi kita akan bertemu." Ada satu tendangan lagi yang semakin membuat hati Arsen terharu. Dia mendekatkan wajahnya dan menciumi perut Naya. "Makin aktif ya, biar kita cepat pulang dari rumah sakit. Tuh, ibu sudah bosan di rumah sakit." Kemudian Arsen menegakkan dirinya lalu menyusut air mata di ujung matanya.
"Kok nangis?" Naya memegang pipi Arsen.
"Aku terharu, Nay. Semua ini benar-benar anugerah buat aku." Arsen mendekatkan wajahnya dan mencium singkat bibir Naya.
"Ar, aku mau ke kamar mandi," kata Naya sambil mengalungkan tangannya di leher Arsen.
"Iya, ayo aku gendong." Kemudian Arsen mengangkat tubuh Naya. Satu tangan Naya meraih tabung infus dan dia bawa.
Selama di rumah sakit, Arsen benar-benar menunjukkan perhatiannya pada Naya. Dia selalu membantu Naya ke kamar mandi, membantu Naya membersihkan diri, sampai membantunya berganti baju. Setiap makan, dia juga selalu menyuapi Naya.
"Udah segar." Bahkan sekarang dia membantu Naya menyisir rambutnya. "Udah cantik juga, saatnya sarapan."
Kemudian Arsen menyuapi Naya dengan makanan yang baru saja diantar suster.
"Kamu gak makan dulu?"
Arsen menggelengkan kepalanya. "Aku tadi udah makan roti. Bentar lagi Mama ke sini bawa makanan. Nanti siang aku kuliah ya, kamu dijaga Mama di sini."
Naya menganggukkan kepalanya. "Nanti Mama Nita juga ke sini."
"Ya sudah, kalau gitu aku bisa tenang." Arsen terus menyuapi Naya sampai sarapannya habis. Setelah itu dia mengambil vitamin dan obat lalu membantu Naya meminumnya. "Pinter, biar cepat sehat."
Naya hanya tersenyum kecil. "Aku tambah gendut sekarang."
"Gak papa. Tambah cantik kalau chubby gini." Arsen mencubit kecil pipi Naya karena gemas. Lalu tangannya mengusap rambut Naya. Semakin hari rasa cintanya semakin besar untuk Naya. Dia ingin bersama Naya selamanya, hingga maut yang memisahkan mereka.
Beberapa saat kemudian tatapan mereka dibuyarkan oleh sebuah ketukan pintu.
"Itu pasti Mama. Tapi tumben banget ketuk pintu." Arsen berdiri dan membuka pintu itu. "Pak Rahardi, Bu Lita."
"Arsen." Pak Rahardi yang biasanya menunjukkan wajah garangnya saat bekerja sama dengan Arsen, kini dia tersenyum dengan ramah. "Maaf, baru bisa menjenguk Naya karena kita masih menyelesaikan masalah Sagara."
__ADS_1
"Iya, tidak apa-apa. Silakan masuk."
Pak Rahardi dan Bu Lita masuk ke dalam ruang rawat Naya. Mereka kini berada di dekat brankar Naya. Seketika air mata menetes di pipi Pak Rahardi. Satu tangannya kini menyentuh pipi Naya. "Kamu benar-benar mirip dengan Maya."