Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 68


__ADS_3

Area na kal. Arsen lagi kambuh. Bukan authornya loh ya... 🤭


...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂...


"Ar, mau ngapain ke sini?" tanya Naya, dia dipaksa masuk Arsen ke dalam rumah lama mereka. Naya masih saja kesal dengan Arsen. Dia kini duduk di sofa ruang tamu sambil menekuk wajahnya.


"Kok masih cemberut gini?" Kemudian Arsen duduk di sebelah Naya lalu memeluk pinggang Naya.


"Kesel aja lihat kamu deket sama cewek lain. Jangan gitu, aku gak suka."


"Aku gak deketin mereka, tapi mereka yang deketin aku."


"Sama aja!"


"Naya sekarang bisa cemburu buta." Arsen mendorong tubuh Naya hingga dia terbaring di sofa. "Kamu tenang aja, aku gak akan tergoda sama mereka."


"Ya kan aku takut, sekarang lagi marak perselingkuhan."


"Aku gak mungkin selingkuh, sayang." Arsen melabuhkan ciuman lembutnya di bibir Naya. Semakin lama ciuman itu semakin ke bawah dan menyesapi leher putih Naya.


"Ar, kamu sebenarnya ngajak aku ke sini mau ini?"


Arsen tak menghiraukan pertanyaan Naya. Dia semakin menelusuri leher putih itu. Satu per satu kancing Naya sudah terbuka. Arsen kini menyembunyikan wajahnya di sela-sela dada Naya. Kedua buah sintal itu semakin hari semakin menggodanya. Dia buka mengait itu lalu dia lempar penutup kedua buah sintal.


"Ar, jangan main lempar nanti aku bingung nyarinya."


Arsen hanya mendongak menatap Naya. "Kalau hilang, gak usah pakai apa-apa lebih mantap."


"Ah, Ar." Naya sudah tidak bisa menahan de sah nya saat Arsen terus menjelajah kedua bukit itu. Tangan Arsen juga telah aktif membuka celana Naya.


Arsen melepas bibirnya kemudian dia menjauhkan dirinya untuk melepas kemeja dan celananya. "Mau gaya apa sayang?"


"Ih," Naya membuang pandangannya. Jujur saja dia masih kesal tapi sentuhan Arsen selalu bisa membuatnya takluk.

__ADS_1


"Masih ngambek juga? Ya udah kalau gitu gaya cemburu membabi buta." Arsen tertawa lalu dia duduk dan meraih tubuh Naya. Dia dudukkan Naya di pangkuannya. Dia dekap perut Naya dari belakang. Dada bidangnya kini bersentuhan secara langsung dengan punggung Naya.


"Sayang, jangan marah ya. Gak ada yang bisa menggeser posisi kamu di hati aku." Arsen kini menempelkan dagunya di bahu Naya. "Aku cinta banget sama kamu."


"Iya, iya, aku tahu."


"Terus kenapa masih marah aja?"


"Ya, aku kesel aja banyak cewek yang naksir kamu. Saking cintanya aku sama kamu, aku takut banget kehilangan kamu." Naya memainkan jemari Arsen yang ada di peluknya.


Kemudian Arsen mengecup pipi Naya. "Apa perlu aku umumin kalau aku udah nikah sama kamu."


"Ih, gak usah."


"Kalau gitu jangan ngambek lagi ya."


Naya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


Jemari Arsen kini sudah pindah ke atas dan me re mas kedua gundukan itu. "Sayang ini kamu tambah mantap gini."


"No, gak boleh! Nanti cowok-cowok pada naksir sama kamu. Kamu natural gini aja banyak yang naksir, tapi mereka sungkan deketin kamu karena setahu mereka kamu anaknya pejabat."


Naya semakin membusungkan dadanya saat Arsen me mi lin kedua pu ting Naya. Dia memiringkan kepalanya dan mencium bibir Arsen. Satu tangan Naya mengusap otot yang sedari tadi sudah menegang di bawahnya. Kemudian dia tuntun ke inti kenikmatannya yang sudah basah.


Arsen menghentaknya dari bawah yang membuat Naya memekik pelan. Kemudian Arsen melepas ciumannya lalu tersenyum menatap Naya. "Kamu udah kecanduan ya?"


Naya menganggukkan kepalanya. Dia menggerakkan pinggulnya di atas Arsen yang membuat Arsen semakin mabuk kepayang.


"Sayang, kamu makin pintar goyangnya. Ah, enak sayang." Kedua tangan Arsen tak tinggal diam. Satu jemarinya menambah stimulasi di kli to ris Naya yang membuat goyangan Naya semakin menjadi.


"Ar, jangan gitu nanti aku cepat keluar."


"Gak papa. Gak usah ditahan. Biar kamu puas sampai lemas."

__ADS_1


Naya semakin tidak bisa mengontrol gerakannya. Tubuhnya bergetar beberapa saat lalu dia melemas.


"Udah keringetan." Arsen berdiri tanpa melepasnya. Dia menuntun tangan Naya agar menapak meja.


"Ar," Naya berpegangan meja dengan erat saat Arsen mengguncang dirinya.


Sesekali Arsen menepuk pan tat Naya. Dia mengerakkan pinggulnya dengan cepat. Saking menikmatinya dia sampai lupa jika harus melepasnya saat keluar.


Naya semakin bersandar di meja karena dia sudah lemas dua kali.


Arsen kini mengusap pelipisnya yang berkeringat. Kemudian dia duduk di sofa sambil berpikir, memang sudah beberapa kali dia kelepasan di dalam. Bagaimana kalau Naya sampai hamil?


"Ar, basah banget. Kamu lepasin di dalam ya?"


"Nggak Nay, itu punya kamu. Mandi dulu yuk, biar segar." Arsen mengalihkan pembicaraan lalu mengangkat tubuh Naya.


"Beneran kamu gak bohong?"


"Iya, Nay. Lagian kalau hamil kenapa? Kan ada suaminya." Arsen menurunkan Naya di kamar mandi.


"Aku belum siap, Ar."


Arsen hanya terdiam lalu menghidupkan kran kamar mandi. Meskipun rumah itu jarang ditempati tapi rumah itu tetap bersih karena Arsen menyuruh pembantunya membersihkannya dua hari sekali.


"Ar, bentar lagi aku mau tidur. Badan aku lemas banget rasanya."


"Iya, iya. Udah puas banget barusan. Sini aku bantu mandi dulu."


.


💕💕💕


.

__ADS_1


Like dan komen ya...


__ADS_2