
Naya dan Arsen kini duduk berdampingan sambil makan malam. Sedari tadi Naya hanya cemberut saja dan tak bicara apapun pada Arsen. Bahkan sampai makanan mereka habis, bibir Naya masih saja mengerucut.
"Ini bibirnya kenapa?" Arsen menangkup bibir Naya dengan dua jarinya.
"Ih!" Naya menepis tangan Arsen. Dia kini melipat kedua tangannya. "Kenapa lo bilang sama Rangga kalau kita udah nikah?"
"Emang lo mau kalau dia ngira kita di sini kumpul kebo."
Naya berdiri dan menghentakkan kakinya. "Awas ya kalau lo bilang-bilang lagi masalah ini sama orang lain." Naya kini melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.
"Ya nggak, Nay." Arsen mengikuti langkah Naya dan berhenti di dekat meja belajar. "Gue gak mungkin asal ngomong. Lagian Rangga juga gak mungkin cerita sama orang lain. Dan satu lagi keuntungan gue." Arsen membungkukkan dirinya dan bersandar di bahu Naya. "Mulai sekarang Rangga gak mungkin lagi berani deketi lo."
"Licik! Emang kenapa lo takut kehilangan gue?" Naya menggeser dirinya hingga membuat Arsen hampir terjatuh.
"Ya, lo kan istri gue." Arsen kini menghempaskan dirinya di atas ranjang sambil memeluk guling.
"Dih, kayak istri yang paling dicintai aja. Padahal kan istri yang selalu disakiti." Naya masih saja mendumel sambil menyiapkan buku pelajarannya buat esok hari. "Buku lo masukin juga nih." Naya menumpuk buku Arsen dan hanya tinggal dimasukkan saja ke dalam tas. "Lo tuh belajar yang rajin. Bentar lagi ujian. Mau jadi apa lo kerjaannya santai muluk."
__ADS_1
Arsen hanya tersenyum sambil menatap Naya yang terus mengomel. Entah mengapa tiap kali dengar omelan Naya bukannya kesal tapi dia merasa sangat gemas.
Dia kini justru membayangkan, andai saja Mamanya bisa menemaninya setiap hari dan selalu mengomel padanya setiap kali dia melakukan kesalahan, pasti rasanya sangat bahagia. Selama ini dia hanya melakukan semua sesukanya tanpa ada yang melarangnya.
Tak terasa kini ujung matanya mengembun.
"Lo kenapa?" tanya Naya yang melihat tatapan nanar Arsen.
Arsen menyusut ujung matanya dan tersenyum. "Gue seneng aja denger lo cerewet kayak gini. Selama ini gue sama sekali gak pernah dimarahi Mama. Makanya gue selalu bertingkah seenaknya. Ternyata begini rasanya dimarahi demi kebaikan gue."
Naya hanya terdiam dan menatap Arsen. Jadi selama ini Arsen kurang perhatian dari orang tuanya. Naya kini mendekat dan duduk di samping Arsen. "Aneh, dimarahi malah seneng. Kalau gue kebalikan lo. Gue udah bersikap baik tapi masih aja dituntut dan selalu kena marah." Kemudian Naya merebahkan dirinya dan menarik selimut.
Naya hanya menatap langit-langit kamarnya. Kedua orang tuanya tidak pernah menghubunginya sama sekali sejak dia menikah dengan Arsen. Apa kedua orang tuanya sudah tidak menganggapnya ada di dunia ini?
"Lo pernah gak merasa rindu sama orang tua lo selama di sini?" tanya Naya.
Arsen hanya tersenyum kecil. "Gue udah biasa gak diurus. Meskipun hidup gue sempurna dan apa yang gue mau selalu dituruti tapi kedua orang tua gue selalu sibuk." Arsen memutar tubuhnya dan menatap Naya. "Lo kangen sama orang tua lo, ayo gue antar ke rumah lo besok."
__ADS_1
Naya menggelengkan kepalanya. "Mama dan Papa aja gak pernah hubungi gue. Gue selalu dituntut sempurna, jika gue ngelakuin kesalahan ya gini akibatnya. Mungkin gue gak dianggap anak mereka lagi. Padahal gue anak perempuan, bisa aja di sini gue gak diperlakukan baik sama lo atau gue gak bisa makan di sini. Apa Mama atau Papa pernah mikirin itu? Sebegitu malunya punya anak kayak gue. Bahkan Papa lo aja masih ngasih tempat tinggal dan kehidupan layak seperti ini. Sedangkan gue..." Naya memutar tubuhnya dan memunggungi Arsen. Setetes air mata mengalir di pipinya. Entah mengapa dia jadi curhat panjang lebar dengan Arsen.
"Sssttt, jangan sedih. Lo sekarang sudah punya gue." Tangan Arsen kini melingkar di perut Naya.
Naya tidak melepas pelukan itu. Dia justru menggenggam tangan Arsen yang ada di perutnya. Benarkah Arsen masa depannya kini?
"Baru tiga minggu gue hidup sama lo, sedikit-sedikit gue bisa berubah, Nay. Ya meskipun belum signifikan tapi gue akan berusaha jadi yang terbaik buat lo." kata Arsen.
"Gue sendiri aja gak tahu, pernikahan kita ini ujungnya kayak gimana?"
"Loh, ya gak ada ujungnya. Pernikahan kita tetap lanjut." Arsen semakin mengeratkan pelukannya pada Naya.
"Emang kenapa?" tanya Naya lagi.
Arsen hanya tersenyum kecil. Dia mendekatkan wajahnya dan menghirup aroma rambut Naya. "Suatu saat nanti lo pasti akan mengerti."
💕💕💕
__ADS_1
.
Like dan komen ya...