Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 53


__ADS_3

"Naya, gimana semalam?" tanya Rani sambil duduk di samping Naya pagi hari itu.


Naya tersenyum lalu mencubit lengan Rani. Dia kini mulai berbisik-bisik dengan Rani. "Bisa-bisanya lo kasih gue barang gitu."


"Biar mantap. Udah dipakai?"


Naya menggelengkan kepalanya. "Masih belum berani pakai. Bisa-bisa digempur semalaman aku sama Arsen. Cari momen yang tepat aja."


Rani masih saja tertawa. "Berarti lo udah belah duren?" tanya Rani sambil berbisik.


Naya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Bahkan rasanya dia sudah ketagihan dengan Arsen.


"Selamat deh, udah sah jadi nyonya besar Arsen. Tinggal tunggu ponakan gue jadi."


"Apaan sih. Belum sampai mikir ke sana. Gue mau fokus dulu buat ujian akhir nanti."


Mereka kini mengeluarkan buku pelajaran karena sebentar lagi pelajaran akan dimulai.


...***...


Saat jam istirahat, Arsen menghampiri Naya yang masih duduk di bangkunya. "Mau ke kantin gak?" tanya Arsen. Dia mengusir Rani dan menggantikan posisinya.


"Ar, gue kan udah bilang kalau di sekolah jangan deket-deket gini.


"Gue kan ketemunya cuma di sekolah." kata Arsen karena sedari tadi ada beberapa mata yang mengintainya. Sepertinya mereka mulai curiga dengan hubungannya dan Naya.


"Ya tapi gak harus terus berdua kali."


Arsen justru semakin mengusir Rani dengan mengibaskan tangannya.


"Oke, gue mau ke toilet dulu. Nanti pas kembali lo harus udah pergi." Kemudian Rani keluar dari kelas.


Kelas sudah mulai sepi. Kini hanya tinggal Arsen dan Naya.


"Gak ke kantin?" tanya Arsen.


"Lagi malas. Kita kan udah bawa bekal. Aku mau makan itu aja." Kemudian Naya mengeluarkan bekal makanannya.


"Kamu makan aja dulu. Aku belum lapar."


Naya menganggukkan kepalanya lalu membuka kotak bekalnya.


Arsen kini mengambil ponselnya yang bergetar beberapa kali lalu mengangkat panggilan dari Papanya.

__ADS_1


"Iya, hallo Pa... Besok Mama pulang, ya udah besok aku akan ikut jemput ke bandara sama Naya... Pagi? Ya udah besok aku kabari lagi..."


Naya melirik Arsen yang kini tersenyum. Sepertinya hubungan Arsen dan Papanya semakin membaik.


"Gak perlu dirayain, udah besar... Iya, Pa..." Kemudian Arsen mematikan panggilan dari Papanya.


"Mama kamu besok pulang?" tanya Naya.


Arsen menganggukkan kepalanya. "Iya, setelah sekian lama akhirnya Mama mau menetap di sini dan mutusin gak balik lagi ke luar negeri."


"Bagus dong."


Arsen hanya terdiam sambil menatap Naya yang sedang makan.


"Kamu masih marah sama Mama kamu?"


"Aku gak pernah marah. Hanya ingin disayang aja. Selama ini yang menjadi alasan Mama tinggal diluar negeri adalah pekerjaan, tapi akhir-akhir ini aku berpikir, sepertinya ada alasan lain mengapa Mama menetap di sana. Bahkan menghubungi aku jarang banget. Apa Mama punya keluarga lagi ya di sana dan sekarang udah pisah?"


"Arsen, gak boleh berburuk sangka dulu."


Arsen menganggukkan kepalanya. "Iya sih."


"Emang Papa kamu mau rayain apa? Rayain kepulangan Mama kamu?"


"Terus apa?" Naya meletakkan sendoknya lalu minum air putih yang ada di botolnya. Kemudian dia menatap Arsen yang masih saja memainkan ponselnya. "Kamu hari ini ulang tahun?"


Arsen hanya tersenyum, tak menjawab pertanyaan Naya.


"Ar? Kok kamu gak bilang sih?"


Lalu Arsen menyimpan ponselnya dan mencubit pipi Naya. "Buat apa hari ulang tahun diumumin? Lagian kamu sebagai istri harusnya tahu tanggal lahir suami." Arsen menaik turunkan alisnya menggoda Naya.


"Aku gak tahu." Satu tangan Naya kini menggenggam tangan Arsen. "Selamat ulang tahun ya, moga panjang umur, sehat selalu, diberi kemudahan dalam segala hal, dan satu lagi." Kemudian Naya mendekatkan dirinya di telinga Arsen. "Makin sayang sama aku."


Setelah itu Naya menjauhkan dirinya dan melepas tangannya.


"Gitu aja? Kadonya?" Arsen semakin mendekat tapi Naya menahan Arsen.


"Ada cctv."


"Oke." Arsen kembali menjauh. "Nanti malam ya? Eh, tapi pulang sekolah dulu langsung gas."


"Ih, capek. Ntar malem aja." Naya memainkan matanya menggoda Arsen.

__ADS_1


"Oke, tapi dobel."


"Ih," Kemudian Naya kembali makan dan menghabiskan bekalnya.


Arsen masih saja menatap Naya. Satu tangannya diam-diam merayap dan menyelinap masuk ke dalam rok Naya.


"Ar, tangannya." Naya menutup kotak bekalnya karena makanannya telah habis lalu dia menatap tajam Arsen karena tangan Arsen semakin nakal.


Arsen hanya tersenyum sambil mengusap paha mulus itu. Semakin lama jemari itu semakin ke atas dan berhenti di area yang sudah membuatnya kecanduan.


Naya menatap pintu kelas. Takut jika ada yang tiba-tiba masuk. Kemudian dia mengambil tasnya dan menutup tangan Arsen yang semakin beroperasi.


"Ar, udah. Nanti ada yang masuk." Meskipun dia menginginkan lanjut tapi waktu dan tempat tidak tepat.


Arsen hanya tersenyum. Dia sangat suka sekali melihat wajah Naya yang memerah. "Baru bentar udah basah." Kemudian dia menyudahi permainannya.


"Dih, kayak punya kamu gak aja." Naya dengan sengaja me re mat milik Arsen yang memang sudah tegang.


"Sekarang udah berani ya. Pokoknya nanti siang."


Naya hanya memutar bola matanya lalu dia melihat Rani yang kini masuk ke dalam kelas sambil membawa makanan.


Arsen akhirnya berdiri dan keluar dari kelas tanpa berdebat lagi.


"Akhirnya bucinnya lo keluar juga." kata Rani sambil duduk di samping Naya.


"Ran, gue baru tahu kalau hari ini Arsen ulang tahun. Enaknya kasih kado apa ya?" tanya Naya.


Rani justru tertawa. "Kalau soal kado gampang, gak usah beli. Diri lo bisa buat kado. Gampang kalau suami istri mah."


Naya memutar bola matanya. Sepertinya dia punya satu ide menarik.


.


💕💕💕


.


Mau cerita ini sampai Naya dan Arsen punya anak gak? 🤭🤭


.


Komen ya...

__ADS_1


__ADS_2