Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 87


__ADS_3

"Ar, ngumpul dulu yuk sama anak-anak," ajak Virza sambil memelankan laju motornya.


"Gue mau pulang, Naya udah nungguin di rumah. Kasihan dia bosan gak bisa ngapa-ngapain." kata Arsen sambil menoleh Virza sesaat.


"Oo, ya udah. Kasihan juga." Tiba-tiba mereka menghentikan motornya saat melihat seseorang sedang dihajar. "Ar, Ar, itu kayaknya Roni."


"Iya." Arsen langsung turun dari motornya dan melepas helmnya. Begitu juga dengan Virza. "Ngapain kalian!"


Ketiga orang itu ternyata anak buah Bara.


"Kalian sama-sama anak buah Bara, kenapa keroyok Roni!"


Ketiga anak buah Bara itu tertawa dengan keras. "Hah, dia bagian dari geng kita?! Dia itu cuma kacung!"


"Kalian pergi dari sini! Sebelum kita hajar!" Arsen mengepalkan kedua tangannya dan bersiap memukul.


"Oke, kita pergi! Ambil saja bekas anak buah lo! Gak ada gunanya juga!" Mereka bertiga kembali menaiki motor mereka dan pergi.


Arsen dan Virza kini menatap Roni yang terkapar kesakitan.


"Za, kita tolong dia."


"Ya udahlah. Makanya jadi orang itu gak usah berkhianat. Sekarang udah tahu kan balasannya." Virza dan Arsen membantu Roni berdiri lalu memapahnya.


"Za, di sana ada klinik. Kita bawa ke sana saja." Mereka berdua memapah Roni sampai di klinik agar Roni segera mendapatkan penanganan pada luka-lukanya.


Arsen dan Virza menunggu sampai Dokter selesai mengobati luka Roni.


"Gue minta maaf sama kalian karena gue udah berkhianat. Terutama lo, Ar," kata Roni setelah keluar dari ruang pemeriksaan dan sedang menunggu obat.


"Ya udahlah, semua udah berlalu. Kita juga udah maafin lo." kata Arsen. Dia kini berdiri sambil melihat jam di ponselnya lalu membuka pesan whatsapp nya. "Loh, kenapa kuota gue habis. Aduh, Naya bisa marah." Kemudian Arsen memasukkan kembali ponselnya. "Gue pulang dulu. Nanti lo anter Roni pulang dulu, Za."


"Iya."

__ADS_1


Arsen segera melangkahkan kakinya menuju motornya. Dia naik ke atas motornya dan memakai helmnya. "Aduh, hampir aja lupa. Naya kan pesan martabak telur." Arsen memutar motornya dan mencari penjual martabak terlebih dahulu.


...***...


"Arsen kok lama sih?" Naya menatap ponselnya dan berusaha menghubungi Arsen tapi panggilannya tidak juga terhubung. "Kan seharusnya udah pulang sedari tadi. Ih, pasti nongkrong dulu nih."


Naya meletakkan ponselnya di atas nakas kemudian menarik selimutnya. Entahlah, sejak pulang dari rumah sakit mood nya naik turun, mungkin karena dia sudah bosan tidak beraktifitas sama sekali.


"Awas aja kalau pulang nanti. Enak banget dia bisa nongkrong santai, sejak di rumah sakit terus pulang, aku gak bisa ngapa-ngapain. Bosan banget gak keluar rumah, gak ketemu sama teman-teman juga."


Tiba-tiba saja Naya menangis. Rasanya dia sangat kesal meskipun hanya soal sepele.


Tiga puluh menit kemudian Arsen sampai di rumah. Dia langsung ke kamarnya sambil membawa martabak telur sesuai pesanan Naya.


"Udah tidur?" Arsen melihat Naya yang sudah berselimut rapat. Dia meletakkan martabak yang dia bawa di atas meja lalu dia ke kamar mandi. Setelah itu dia naik ke atas ranjang dan mengusap rambut Naya tapi Arsen justru mendengar isak tangis dari Naya.


"Sayang, kenapa kamu nangis?" Arsen meraih pundak Naya dan memutar tubuhnya. Pipi Naya sudah basah dengan kedua mata yang sembab. "Ada yang sakit?"


"Sayang, jangan salah paham dulu. Dengerin penjelasanku. Aku gak nongkrong. Tadi aku nolong Roni yang dikeroyok."


"Kamu bohong. Kamu enak bisa nongkrong dan kumpul-kumpul sama teman. Aku di rumah saja. Bosan!"


Arsen mengernyitkan dahinya menatap Naya. Tidak biasanya Naya seperti ini. Mungkin saja ini bawaan dari kehamilannya, ditambah dengan rasa bosan yang sudah diujung. Arsen meraih tubuh Naya dan memeluknya. "Aku gak pernah bohong sama kamu. Aku tahu kamu bosan di rumah terus dan gak boleh ngapa-ngapain. Besok jalan-jalan yuk ke taman. Kata Dokter juga sudah tidak apa-apa asal tidak mengerjakan pekerjaan yang berat."


Naya mulai berhenti menangis. Dia kini menghapus air matanya.


"Baru kali ini kamu ngambek gini dengan masalah yang sepele. Pasti dedek nih yang cari perhatian sama Ayah." Arsen melepas pelukannya dan membungkukkan badannya lalu mencium perut Naya. "Iya? Dedek mau diperhatiin sama Ayah ya. Ayah gak pernah nongkrong lagi sama teman-teman. Ayah cuma kuliah, kerja, dan keluar jika ada urusan saja. Jangan ngambek lagi ya, jangan buat Ibu nangis lagi."


Kemudian Arsen mengusap perut Naya berharap ada satu tendangan kecil dari dalam. Beberapa kali usapan, Arsen sudah mendapat tiga tendangan dari dalam.


Naya kini sudah bisa tersenyum kecil. Mood nya sudah kembali membaik. Apalagi melihat interaksi Arsen dengan buah hatinya yang berada di dalam perut benar-benar terlihat sangat manis.


"Eh, tuh Ibu sudah senyum. Mau makan martabak? Tadi Ayah sampai cari ke tiga tempat karena udah pada habis."

__ADS_1


"Kalau gak ada, lain kali pulang aja."


Arsen menegakkan dirinya lalu mengusap puncak kepala Naya. "Aku tahu rasanya ngidam kayak gimana. Aku pasti cariin sampai dapat."


"Terus kenapa WA kamu tadi gak aktif?"


"Kuota aku habis setelah video call sama kamu."


Naya menghela napas panjang menghilangkan rasa sesak di dadanya. "Aku juga gak tahu kenapa tiba-tiba aku kesal banget dan pengen nangis kayak gini."


"Iya, itu bawaan orang hamil. Sini makan dulu, pasti lapar." Arsen membantu Naya turun dari ranjang dan duduk di dekat meja belajar. "Martabak telur spesial kesukaan kamu. Mau aku suapi?"


Naya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


Tentu saja, Arsen menyuapi Naya dengan senang hati. Dia pasti akan selalu memanjakan Naya selama dia bisa. "Kamu habiskan gak papa." Arsen terus menyuapi Naya sampai habis setengah porsi.


"Kamu makan juga." Naya berganti menyuapi Arsen. Akhirnya satu kardus martabak itu telah habis.


"Bumil yang ngidam, aku ikutan kenyang. Lemak perut aku udah kemana-mana. Harus atur jadwal nge gym lagi nih."


"Ih, nanti aja setelah aku lahiran. Sekarang biar ada temannya aku, kita gendut bareng."


"Gendut kok minta barengan." Kemudian Arsen mengambilkan botol air mineral Naya dan membantunya minum.


"Ar, kenapa kamu masih membantu Roni? Bukannya dia udah berkhianat?"


"Ya, meskipun begitu, dia tetap teman aku. Gak baik juga dendam sama orang lain."


Naya menatap Arsen dengan mata berbinarnya. Hati Arsen memang baik, hanya saja dulu tertutup dengan tingkahnya yang nakal. "Aku makin sayang sama Ayahnya dedek."


"Aku juga makan sayang sama calon Ibu yang cantik ini."


Kemudian wajah mereka saling mendekat dan saling memagut untuk menyesapi manisnya madu yang sudah menjadi candu.

__ADS_1


__ADS_2