
"Naya, akhirnya lo masuk sekolah juga." Rani menghampiri Naya yang baru saja berjalan dari tempat parkir. "Minggir lo!" Naya mengusir Arsen lalu menggandeng tangan Naya.
"Dasar cewek!" Arsen memundurkan langkahnya.
"Lo kan udah tiap hari ketemu." Rani menjulurkan lidahnya pada Arsen. Kemudian dia melangkahkan kakinya bersama Naya menuju kelas. "Hari ini ada tugas Matematika. Nih, lo bisa salin punya gue."
"Gue udah selesai kok."
Seketika Arsen tertawa dan melewati mereka berdua. "Udah ada gue, semua tugas Naya jelas beres." Kemudian Arsen melangkahkan kakinya mendahului berdua.
"Lo pakai ajian apa bisa merubah tuh cowok?" tanya Rani sambil berbisik di telinga Naya.
"Gak pakai apa-apa. Ya dia mau berubah sendiri. Bagus dong!"
Rani melihat sekitar untuk memastikan tidak ada mata-mata yang mendengar pembicaraan mereka. "Chat gue kenapa gak lo bales sih. Lo masih sering dimarahi sama Mama lo."
Naya menggelengkan kepalanya. "Selama masa penyembuhan hp gue disita sama Arsen biar gue gak main hp terus. Boleh pegang kalau Arsen lagi gak jaga gue aja."
"Eh, jadi lo sekarang pulang ke rumah atau gimana?" tanya Rani.
"Ya gue pulang ke rumah Arsen. Gue udah gak mungkin kembali ke rumah Papa." Naya kini duduk di depan kelas. Kebetulan hari itu memang masih pagi hanya ada beberapa temannya yang sudah datang.
Rani kini juga ikut duduk di samping Naya. "Gue tahu sedari dulu Mama lo sering marahi lo. Tapi gue gak nyangka aja disaat kondisi lo sakit, masih saja dimarahi kayak gitu."
Naya menganggukkan kepalanya. "Itu karena sebenarnya gue bukan anak kandung Mama." kata Naya sangat pelan.
Rani terkejut dengan pernyataan Naya. "Hah? Yang bener?"
Naya menganggukkan kepalanya. "Tapi lo jangan cerita siapa-siapa. Ini rahasia banget. Tapi yang jelas gue sekarang beruntung sudah bersama Arsen." Dia kini tersenyum melihat Arsen yang sedang berdiri di ambang pintu sambil melambaikan tangan menyuruhnya masuk.
"Ciee, udah bucin banget sekarang." Rani semakin mendekatkan dirinya sambil tersenyum menggoda Naya. "Lo udah unboxing belum sama Arsen?"
Seketika pipi Naya merona. "Belum."
"Tahan banget ya ternyata tuh bad boy tobat. Eh," Rani mendekatkan dirinya. "Tapi lo pasti ada rencana kan buat unboxing?"
Naya tertawa sambil mendorong bahu Rani. "Lo kepo banget. Jangan bilang kalau lo disuruh Rangga buat cari info ini."
"Wah, lo mikirnya buruk aja sama gue, tapi sebelumnya emang iya." Rani kembali tertawa dan mengakui pekerjaannya. "Lumayan satu info seratus ribu."
__ADS_1
"Eh, lo dagang info gue!"
.
"Nggak, gue cuma bercanda. Gue mau kasih sesuatu buat lo, tapi jangan kasih tahu Arsen."
"Apa?"
"Ada deh. Lo ada waktu kapan? Kita jalan-jalan berdua."
"Hmm, nunggu gue sehat dulu ya. Soalnya gue masih lemes."
"Ya udah, nanti kalau ada waktu lo bilang sama gue."
"Oke." Kemudian mereka berdiri tapi langkah mereka berhenti saat berpapasan dengan Tika.
Tika hanya menatap Naya dengan senyum licik. "Gue denger ada yang habis sakit parah. Kenapa gak sekalian lewat aja."
Naya tak mau lagi menanggapi Tika. Dia hanya melewati Tika tapi Tika menahan lengan Naya. "Ingat ya, lo udah buat gue di skorsing."
"Bukannya itu karena perbuatan lo sendiri, ngapain lo nyalahin gue!"
"Iya, lo tuh jangan ganggu Naya lagi." tambah Rani.
"Eh, jaga ya mulut lo!" Rani memotong kalimat Tika. "Gue gak kayak lo!"
Naya kini menatap Rani. Benarkah dia berteman dengannya karena disuruh Rangga dan apa Rani juga disuruh Rangga untuk membatalkan unboxing nya bersama Arsen?
Sepertinya Naya memang harus berhati-hati karena sekarang memang banyak musuh dalam selimut. Kemudian Naya masuk ke dalam kelas tanpa berkata apapun.
"Nay, jangan terpengaruh sama omongan Tika. Gue gak kayak gitu." Rani mengikuti Naya dan duduk di sampingnya.
"Sekarang gue gak tahu lagi harus percaya sama siapa."
"Ada apa?" Arsen berdiri di samping Naya lalu membungkukkan dirinya dan mengusap keringat dingin yang keluar di pelipis Naya. "Kamu baru sembuh. Duduk yang anteng di kelas." Arsen kini melirik Rani. "Ran, jangan buat masalah."
"Siapa? Buruk sangka aja lo." Kemudian Rani memegang lengan Naya. "Ran, gue gak kayak yang Tika bilang. Oke, oke, gue jujur sama lo, dulu gue temenan sama lo memang disuruh Rangga buat cari tahu tentang lo. Tapi sekarang udah gak, dan Rangga juga udah gak kepo tentang lo sejak lo sama Arsen."
"Jadi kalau Rangga gak nyuruh lo, lo gak mau temenan sama gue?" tanya Naya.
__ADS_1
"Lo tanya apa sih? Ya gue tetap jadi temen lo lah."
Arsen tersenyum miring. "Jangan percaya sama dia. Dia itu sama aja kayak Rangga, a big liar."
Naya kini mendongak menatap Arsen. "Kalau kamu tahu sesuatu kenapa kamu gak pernah bilang sama aku?"
"Ya itu, privasi Rangga sama bestienya nih."
Naya mengerutkan dahinya. "Terus sekarang aku harus percaya siapa?"
"Ya, sama akulah." jawab Arsen.
Rani meraih pipi Naya agar berpaling dari Arsen. "Jangan minta pendapat Arsen dulu. Ini gak ada hubungannya sama Arsen, dan lo Arsen, jangan cuci otak Naya. Kalau di sekolah Naya itu bukan milik lo."
"Oke, tapi kalau sampai lo menyakiti Naya juga, gue gak akan biarin lo!" Arsen kini kembali duduk di bangkunya.
"Nay, lo percaya kan sama gue?" tanya Rani lagi. "Rangga dan gue sama sekali gak ada niat buruk sama lo."
"Iya." Naya menarik bahu Rani agar mendekat. "Tapi jangan cerita lagi sama Rangga soal gue, apalagi soal yang kita bicarakan tadi."
"Oke, oke, beres." Rani kini mengeluarkan buku pelajarannya
"Ran, by the way, lo kenapa gak jalan aja sama Rangga?"
Mendengar pertanyaan itu seketika Rani menoleh Naya. "Apa! Gue jalan sama Rangga. Yang bener aja. Gue udah anggap dia kayak saudara sendiri. Lucu kali kalau ada cinta diantara kita. Bukan lucu sih, geli."
Naya tersenyum kaku melihat ekspresi Rani. "Ya, gue doain semoga beneran ada cinta di antara kalian biar gelinya lebih terasa."
Seketika Rani mendorong bahu Naya sambil tertawa. "Lo yah, mentang-mentang udah sering ngerasain geli." Seketika Rani menutup mulutnya saat kalimatnya yang keras itu mengundang perhatian.
"Rani, ih, bahu gue sampai sakit lo dorong."
"Eh, sorry, sorry. Mana suara gue kekerasan juga lagi." Rani kini membuka buku-bukunya agar berhenti bercanda.
Di ujung sana, Tika hanya melipat tangannya saat melihat mereka berdua justru semakin bercanda.
Kita lihat saja nanti, kalau gue udah punya celah, gue akan buat kalian nangis.
💕💕💕
__ADS_1
.
Like dan komen ya...