Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 58


__ADS_3

"Untung tangan lo cuma terkilir. Jangan banyak digerakkin dulu," kata Rangga.


Rani masih saja menekuk wajahnya. Tangannya kini dibalut perban coklat dan dia gendong.


"Bentar lagi Mama lo ke sini. Biar lo dirawat aja semalam di sini." kata Rangga lagi. "Makanya lo dengerin gue. Jangan pernah ke tempat anak geng motor."


"Bawel banget sih lo. Lo jangan salahin Kak Virza lagi, ini bukan salah dia. Dia udah mau antar gue pulang tapi gue gak mau."


Rangga tersenyum miring. "Gue juga udah pernah bilang sama lo, jangan pernah serius sama cowok. Apalagi sampai bela-belain dia kayak gini."


"Kayak lo gak pernah bucin aja. Lo gak ingat perasaan lo sama Naya dulu." Rani berdengus kesal sambil membuang pandangannya. "Gue udah jadian sama Kak Virza. Jangan ganggu hubungan gue."


"Lo udah jadian sama Virza? Lo baru kenal, udah jadian. Lo yakin kalau perasaan lo itu cinta?"


"Itu urusan gue. Udah lo sekarang pulang aja sana! Urusin aja diri lo sendiri," usir Rani. Dia memang sudah biasa bertengkar dengan Rangga, nanti pasti juga akan baikan lagi.


Rangga menghela napas lagi. Dia tetap menunggu Rani sampai orang tua Rani datang meskipun Rani terus marah padanya.


Beberapa saat kemudian orang tua Rani datang. "Apa yang terjadi?" tanya Mamanya Rani.


"Maaf Tante, tadi jatuh dari motor saya karena jalan yang berlubang," kata Rangga.


Mendengar hal itu, seketika Rani menatap Rangga.


"Tangannya cuma terkilir kan?"


"Iya, nanti 3-5 hari sudah boleh bergerak. Saya permisi dulu." Kemudian Rangga keluar tanpa berpamitan dengan Rani.


Rangga, mengapa selalu belain gue?


...***...


"Arsen kok belum pulang juga." Naya kini duduk di tepi ranjang kamar Arsen yang luas. Malam itu mereka memang menginap di rumah orang tua Arsen. Mungkin saja Arsen merasa tenang saat keluar karena Naya ada yang menemani di rumah. Jam sudah menunjukkan pukul 9 lebih tapi tidak ada tanda-tanda kedatangan Arsen.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Bu Ririn mengetuk pintu kamar Naya yang terbuka itu.


"Belum tidur?" tanya Bu Ririn.


"Belum, Ma."


Bu Ririn masuk ke dalam kamar Naya dan duduk di sampingnya. "Arsen sering keluar malam?"


"Jarang banget, Ma. Biasanya kerja pulang jam 8 tapi mungkin karena Naya ada di sini, jadi bisa tenang berkumpul sama teman-temannya."


"Ya udah kamu tiduran, Mama temani. Kita mengobrol saja malam ini."


Naya menganggukkan kepalanya lalu dua merebahkan dirinya di samping Bu Ririn. Mendapat usapan di rambutnya dari Mamanya Arsen rasanya sangat nyaman. Dia tidak pernah merasakan kasih sayang setulus ini.


"Hmm, maaf Ma, kalau boleh tahu, Mama memang sibuk bekerja di luar negeri? Karena Arsen selalu bilang dia kurang perhatian dan kasih sayang tapi yang Naya rasakan Mama orangnya sangat perhatian."


Bu Ririn justru tersenyum. "Tidak apa-apa kalau Arsen menganggap Mama seperti itu. Justru Mama senang, Arsen tidak terlalu khawatir sama Mama di sana."


"Mama sebenarnya berobat di sana. Mama sudah melewati tiga operasi besar. Mama punya penyakit jantung setelah melahirkan Arsen. Awalnya Mama memang berobat di Indonesia tapi semakin lama jantung Mama semakin parah. Akhirnya Mama ke luar negeri untuk berobat. Operasi yang pertama dan kedua gagal, akhirnya operasi yang ketiga enam bulan kemarin berhasil. Dan Dokter sudah menyatakan sembuh, meski harus sering check up, tapi masih bisa check up di sini."


"Jadi sepeti itu. Mengapa Mama tidak bercerita sama Arsen?"


"Karena Mama tidak mau membuat Arsen khawatir. Mama ingin Arsen tumbuh tanpa beban apapun. Papa juga suami yang hebat, apapun masalah Arsen selalu berusaha mengatasi sendiri dan sekarang Arsen sudah punya kamu. Terima kasih ya, kamu sudah mengubah Arsen jadi pria yang baik."


Naya memeluk Bu Ririn saat air mata itu menetes di pipinya. "Mama jangan nangis. Boleh Naya menganggap Mama seperti Mama kandung Naya sendiri."


"Boleh, sayang. Mama dulu ingin sekali punya anak lagi tapi kondisi Mama tidak memungkinkan. Mama bersyukur, Mama sekarang juga punya anak perempuan. Kalau ada apa-apa kamu cerita sama Mama ya." Bu Ririn mencium puncak kepala Naya.


Naya memejamkan matanya merasakan kehangatan pelukan itu.


"Kamu putrinya Pak Walikota kan? Besok-besok Mama mau bertemu kedua orang tua kamu."


Naya menggelengkan kepalanya. Dia semakin mengeratkan pelukannya. "Tidak perlu, Ma. Sebenarnya Naya hanya anak selingkuhan Papa dan Ibu kandung Naya sudah meninggal. Naya..." Naya menghela napas panjang. "Maaf ya Ma, Naya hanya anak yang gak dianggap. Apa Mama malu mempunyai menantu seperti Naya?"

__ADS_1


Bu Ririn tersenyum dan mengusap pipi Naya. "Jangan bilang seperti itu. Kamu sekarang sudah bagian dari keluarga Wiratama."


Senyum bahagia kembali mengembang di bibirnya. Bersama Arsen, dia bisa merasakan kehangatan keluarga lagi.


Ujung mata Naya kini bisa menangkap bayangan Arsen yang sedang berdiri di dekat pintu. Sejak kapan Arsen berada di sana?


"Kalau boleh tahu, siapa nama ibu kandung kamu?" tanya Bu Ririn.


Naya mengalihkan pandangannya dari Arsen dan menatap Bu Ririn lagi. "Maya."


"Maya?" Seketika Bu Ririn melepas pelukannya pada Naya. "Kamu tidur dulu ya, tidak usah menunggu Arsen. Mama mau ke kamar dulu. Mama baru ingat kalau udah janji nemenin Papa."


Naya menganggukkan kepalanya. Dia melihat sudah tidak ada Arsen di ambang pintu.


Bu Ririn keluar dari kamar Naya dan berjalan menuju kamarnya tapi terhenti saat Arsen memanggilnya.


"Mama." Arsen kini duduk di sofa ruang tengah. Dia menatap Mamanya dengan mata nanarnya.


"Ar, kamu sudah pulang? Ditunggu Naya di kamar."


"Aku mau bicara sama Mama."


Kemudian Bu Ririn duduk di sebelah putranya.


"Aku mau tanya, jawab dengan jujur. Sebenarnya Mama hidup di luar negeri ada kepentingan apa?"


Bu Ririn hanya menatap Arsen. Apa Arsen mendengar obrolannya dengan Naya barusan?


💕💕💕


.


Like dan komen ya...

__ADS_1


__ADS_2