Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 122


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju villa, tangan Virza dan Laras saling terpaut. Laras menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Virza. Tempat bersandar yang paling nyaman adalah di bahu Virza sejak dia menikah tiga hari ini. Beberapa kali dia rasakan usapan lembut di punggung tangannya. Ya, baru mendapat usapan dari Virza saja sudah membuat hati Laras berdebar tak karuan.


Hawa dingin sudah mulai terasa saat mobil itu mulai melaju naik ke puncak. "Masih dingin ya, untung kita berangkatnya pagi-pagi," kata Virza sambil mencium puncak kepala Laras. Dia memang sengaja mengajak Laras berangkat pagi sekali, bahkan saat matahari masih belum menampakkan sinarnya agar dia bisa menikmati udara sejuk pagi hari bersama Laras.


Laras kini mendongak menatap Virza. Tatapan itu begitu menggoda Virza.


"Nanti saja di villa," bisik Virza.


Beberapa saat kemudian mobil itu berhenti di sebuah villa yang cukup luas dan berlantai dua. Lalu mereka turun dari mobil.


"Pak, kalau mau istirahat dulu tidak apa-apa," kata Laras pada sopir keluarganya.


"Saya langsung kembali saja. Nanti kalau mau jemput langsung hubungi saya."


"Iya Pak, terima kasih."


Satu tangan Virza kini membawa koper mereka sedangkan satu tangannya menggenggam tangan Laras.


"Kalau mau jalan-jalan, di sini ada sepeda motor juga." Virza melepas tangan Laras lalu membuka pintu villa itu.


"Ini sebenarnya villa siapa?" tanya Laras.


"Villa keluarga aku," jawab Virza. "Nenek dulu asli orang sini, ya ini pemberian dari nenek. Ada yang menjaga, jadi villanya pasti bersih."


Kemudian mereka berdua masuk ke dalam villa itu. Laras mengedarkan pandangannya. Villanya lumayan luas dan bersih. Tangannya kini ditarik Virza untuk menaiki tangga lalu masuk ke dalam kamar utama yang berada di lantai atas. Ada jendela besar dengan view pegunungan yang sangat indah.


Sekelebat bayangan masa lalu bersama Rani di tempat itu tiba-tiba terlintas di benak Virza. Bisa-bisanya dia dulu hampir melakukan kesalahan pada Rani.


Virza meletakkan koper itu di dekat lemari lalu dia duduk di dekat jendela sambil menatap pemandangan. "Jujur saja, kamu bukan wanita pertama yang aku ajak ke villa ini."


"Gak papa. Semua orang punya masa lalunya masing-masing." Laras kini duduk di sebelah Virza. Mereka sama-sama menikmati pemandangan yang indah itu.


"Aku hampir melakukan kesalahan besar pada Rani, untunglah Rangga datang. Sejak saat itu aku gak mau lagi pacaran dan berjanji pada diri aku sendiri, kalau aku sudah menemukan wanita yang tepat aku akan langsung melamarnya."

__ADS_1


"Jadi beneran Rani itu mantan kamu."


Virza menganggukkan kepalanya. "Aku hanya sebentar sama Rani karena aku tahu antara Rani dan Rangga memang memiliki perasaan cinta. Aku bahagia saat akhirnya mereka bersatu." Virza tersenyum kecil. "Bahkan dulu yang paling lucu itu saat aku bertemu Naya. Aku gak pernah mengira kalau dia istri Arsen. Pernah naksir juga."


"Jadi kamu itu sebenarnya sad boy, bukan bad boy."


Virza masih saja menertawakan dirinya sendiri. "Iya dan aku sekarang sudah bahagia memiliki kamu. Semoga saja kita selalu bersama sampai berpuluh tahun usia pernikahan kita dan hanya maut yang akan memisahkan kita." Virza merengkuh pinggang Laras dan mencium pipinya.


Laras menganggukkan kepalanya. "Iya, semoga saja kita selalu bersama. Sifat aku keras, ambisi aku besar kadang aku juga tidak bisa diatur. Tapi aku akan berusaha menekan ego aku. Kamu tetap bilang sama aku ya kalau kamu merasa aku keterlaluan, dan mulai sekarang aku akan panggil Mas Virza."


"Tapi kan aku..."


"Gak papa. Umur bukan sebuah patokan karena Mas Virza sekarang suami aku dan aku harus lebih menghormati Mas Virza."


Virza semakin mengembangkan senyumnya. Dia memeluk tubuh Laras dengan erat. "Kita cari kehangatan sekarang ya?"


Laras mengangguk kecil sambil tersenyum.


Perlahan wajah mereka saling mendekat. Bibir itu kini saling bersentuhan. Saling memagut pelan. Tangan Virza semakin memeluk pinggang Laras. Begitu juga dengan Laras yang kini melingkarkan kedua tangannya di leher Virza. Ciuman itu semakin lama semakin dalam hingga suara decapan memenuhi kamar yang terasa dingin itu.


Laras semakin mendongak saat bibir Virza semakin membuat sensasi geli di lehernya.


Ciuman Virza kembali ke atas dan memagut bibir Laras. Dia peluk tubuh Laras dengan erat lalu menggendongnya tanpa melepas ciumannya. Dia jatuhkan tubuh Laras di tengah ranjang dan ciuman itu terlepas.


Mereka sama-sama mengatur napas mereka yang telah sesak. Mereka saling menatap dan tersenyum. Lalu Virza melepas kaos lengan panjangnya. Tubuh atletis dengan dada bidang itu sangat menggoda.


Perlahan tangan Laras menyentuh dada bidang Virza lalu otot bisepnya yang terbentuk secara alami karena Virza tipe pekerja keras. "Pasti ini terbentuk secara alami selama kamu bekerja."


Virza menganggukkan kepalanya. "Hanya beberapa kali ngegym. Sisanya terbentuk secara alami." Kemudian satu tangan Virza menyusup ke dalam blouse Laras. Dia telusuri perut Laras dengan jemarinya, semakin ke belakang dan melepas pengait Laras dengan dua jarinya.


Laras hanya melebarkan matanya. "Jarinya pro banget."


Virza tersenyum miring. "Cowok bengkel pasti ahli." Kemudian dia singkap blouse Laras sampai melewati kepalanya. Lalu dia buang penutup buah sintal itu ke sembarang tempat.

__ADS_1


Pipi Laras seketika memerah saat Virza menatap kedua buah sintal yang lumayan besar dan sangat menggoda Virza untuk segera menjejakinya.


"Sexy." Virza menangkup dada Laras yang melebihi telapak tangannya. Dia me re mas nya pelan lalu memainkan puncak dada itu yang membuat Laras melenguh.


"Kamu sexy sekali." Virza mendekatkan wajahnya lalu menelusuri buah sintal itu dengan bibirnya.


Laras semakin membusungkan dadanya saat Virza bermain di kedua puncak yang telah menegang. Kedua tangan Laras telah mengacak rambut Virza. "Mas, geli..."


Ciuman Virza semakin turun ke bawah dan menelusuri perut datar Laras.


"Mas, geli ih. Jangan di situ."


Bukannya berhenti tapi Virza semakin menyesapi perut Laras.


"Za?" Napas Laras semakin berat. Rasa geli itu sudah bercampur aduk menjadi satu di perutnya.


Virza menegakkan dirinya lalu melepas celana Laras.


Seketika ekspresi Laras berubah. Dia menautkan kedua alisnya sambil menatap Virza. "Mas, aku..."


"Ssttt, jangan bahas itu lagi. Aku bisa menerima kamu apa adanya seperti kamu yang bisa menerima aku apa adanya. Sekarang tinggal kamu nikmati saja." Jemari Virza membelai lembut inti Laras yang telah basah itu.


Virza tersenyum miring. "Udah basah, sudah siap ke next adegan." Lalu Virza menurunkan celananya. Dia usap guratan ototnya sesaat untuk menggoda Laras.


Laras hanya menelan salivanya menatap Virza. "Itu..."


"Kenapa?" Lalu Virza menindih tubuh Laras. "Aku akan membuat kamu melayang dan mabuk kepayang."


.


💕💕💕


.

__ADS_1


Bersambung....


😂😂😂😂😂😂


__ADS_2