
"Ngga, gue udah dapat satu bukti penting." Arsen duduk di taman kampus dengan Rangga siang hari itu.
"Bagus. Kalau begitu tinggal atur rencana."
Arsen melihat sekitar lalu mendekatkan dirinya agar tidak ada orang lain yang mendengar pembicaraannya. "Lo tahu darkweb penjualan organ tubuh manusia punya Sagara?"
"Iya, hacker keluarga gue sedang bekerja. Gila! Gue dengar dari anak-anak ada beberapa anak buah Bara yang sampai nekad menculik untuk diambil organ pentingnya dan dijual lewat darkweb itu."
"Kita harus segera bertindak."
Rangga mengambil ponselnya dan menunjukkan beberapa foto. "Ini dugaan sementara markas gelap mereka. Anak buah gue masih menyelidiki. Nanti setelah hacker gue berhasil, kita bisa langsung mengepung mereka. Ada salah satu Dokter juga yang terlibat di dalamnya."
Mereka terdiam beberapa saat sambil berpikir.
"Lo udah atur anak buah buat jagain Naya kan?" tanya Rangga.
"Sudah, sebentar lagi gue langsung antar dia pulang. Di rumah juga udah dijaga ketat."
Sedangkan Naya yang baru saja keluar dari kelas, dia mencari keberadaan Arsen tapi langkahnya terhenti saat berpapasan dengan Tika. Mereka kini saling bertatapan.
"Mau apa lo? Gue tahu, lo yang nyebarin video itu. Tapi gue mau bilang makasih sama lo karena setiap kali lo ganggu hidup gue, gue justru nemuin kebahagiaan gue." Naya akan melangkahkan kakinya tapi dia ditahan oleh Tika.
"Apa hubungan lo sama Pak Rahardi?"
"Pak Rahardi? Bukannya itu bokapnya Rangga."
"Rangga?" Selama ini Tika memang belum tahu jika sebenarnya Rangga lah anak Pak Rahardi.
Naya menutup bibirnya. Dia kira Rangga sudah tidak menyembunyikan identitasnya. Dia lupa jika Tika belum tahu masalah ini.
"Oke, kali ini gue salah. Lo tolong bilang sama Rangga untuk mengembalikan dana partai, karena Papa gue akan dipecat dari ketua partai jika dana partai tidak juga turun."
Naya tersenyum miring. "Itu balasan dari apa yang lo dan orang tua lo lakuin." Naya menarik kasar tangannya. "Lo bilang sendiri sama Rangga. Gue gak ada sangkut pautnya sama Pak Rahardi." Kemudian Naya melangkahkan kakinya pergi menyusul Rani yang sedang berada di toilet.
"Nay, gak makan dulu di kantin?" tanya Rani setelah keluar dari toilet.
"Gue langsung pulang aja. Soalnya Arsen udah nungguin," kata Naya sambil menatap layar ponselnya.
"Oo, ya udah, gue ke kantin sendiri aja. Bapaknya dedek protektif banget." kata Rani sambil mengusap perut Naya sesaat. Dia juga sangat suka mengusap perut sahabatnya sejak Naya hamil.
__ADS_1
"Iya, gue duluan ya." Kemudian Naya melangkahkan kakinya menuju tempat parkir. Tiba-tiba ada yang menarik tangannya dengan kasar. "Lo siapa? Lepasin!" Pergelangan tangannya semakin sakit saat orang itu semakin memaksanya berjalan mengikutinya. "Arsen!" teriak Naya saat melihat Arsen yang berada di dekat mobilnya. Tapi bibir Naya dibekap dengan obat bius hingga dia tak bisa memberontak lagi.
Arsen mendengar teriakan kecil Naya. Matanya melebar saat melihat Naya sudah dibawa masuk ke dalam mobil. Bahkan anak buah Arsen kini juga mengejarnya tapi gagal.
Rangga yang sudah duduk di atas motornya segera mengejar mobil itu dengan kencang.
"Kalian aku suruh jagain Naya, kenapa teledor!"
"Maaf Tuan, saya kira mereka mahasiswa biasa. Kejadiannya begitu cepat dan mereka sempat mencegat kita."
"Shits! Kalian kumpulkan semua anak buah Papa, ikuti share lokasi aku."
Arsen masuk ke dalam mobil. Dia berusaha melacak keberadaan Naya dengan ponselnya karena kemarin dia sempat menyadap akun Naya agar dia selalu tahu keberadaan Naya. "Ketemu."
Arsen segera melajukan mobilnya menuju tempat Naya. Sayang sekali jalanan yang dia lalui tiba-tiba macet. Ada sebuah truk yang terguling di tengah jalan.
"Sial!" Arsen menghubungi Papanya. "Hallo, Pa. Naya di culik. Rangga sudah mengejarnya."
"Iya, barusan Rahardi sudah mengirim polisi dan anak buahnya ke lokasi yang dituju. Rangga sudah mengirim lokasinya."
"Pak Rahardi sudah mengirim polisi ke sana? Ini aku kejebak macet." Arsen mematikan panggilannya. Rangga memang cepat dalam melakukan segala hal.
"Maksudnya bagaimana?"
"Aku harus segera menolong istri aku. Mobil aku terjebak macet gak bisa putar arah dan bergerak. Ini kunci mobil aku. Kalau motor Bapak gak kembali, Bapak ambil mobil aku." kata Arsen sambil memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan.
"Ini serius?"
"Iya, Pak. Ini sangat darurat."
Akhirnya tukang ojek itu memberikan motornya. Arsen tak peduli jika nanti mobilnya hilang, yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan Naya.
Arsen memakai helm dan melihat ponselnya lagi. "Mereka udah jauh." Arsen segera memotong jalan dan memilih jalan pintas.
...***...
"Lepaskan Naya!" Rangga melepas helmnya dan menghadang mereka yang akan membawa Naya masuk ke dalam markas.
"Berani sekali lo ke sini sendiri!" kata Bara yang ternyata ikut andil dalam penculikan ini.
__ADS_1
"Kita dapat dua mangsa penting bos. Keturunan utama keluarga Rahardi."
Rangga mengepalkan tangannya. Dia kini melawan mereka semua. Meskipun Rangga sangat hebat tapi banyaknya anak buah Bara membuatnya kewalahan. Kedua tangan Rangga berhasil dikunci.
"Lepasin gue!" Rangga berusaha memberontak tapi salah satu dari mereka memukul punggung Rangga dengan keras hingga membuatnya tak sadarkan diri.
"Ikat dia, kita pindah tempat. Sepertinya anak buah Rangga akan segera ke tempat ini." Bara membuang tas Naya dan juga ponsel Rangga agar tidak ada yang melacak keberadaannya.
Kemudian mereka semua masuk ke dalam mobil. Setelah tiga puluh menit berlalu, mereka tiba di sebuah markas yang lainnya.
Mereka membawa Naya dan Rangga ke sebuah ruangan.
"Bos, kita apakan mereka? Langsung di eksekusi?"
"Tunggu perintah dari Papa dulu." Kemudian mereka menutup ruangan itu dan menguncinya
Beberapa saat kemudian Rangga sadar. Dia kini melihat Naya yang masih tak sadarkan diri. Dia berusaha melepas ikatan itu tapi sulit. "Nay, bangun, Nay."
Rangga melihat sekitar tempat itu dan mencari cara agar bisa melepas ikatan tangannya. Dia mendekat ke sebuah paku besar yang menancap di kayu. Dia berusaha membuka ikatan di tangannya. Beberapa kali gagal, tapi dia tak menyerah. Akhirnya ikatan itu berhasil terlepas. Dia segera meraih tubuh Naya dan membangunkannya.
"Nay, sadar, Nay." Dia tepuk pipi Naya agar segera terbangun.
Akhirnya Naya terbangun sambil merintih kesakitan. "Rangga, kita dimana?"
"Kita disekap. Aku coba cari jalan keluar. Kamu bisa duduk?"
"Perut aku sakit, Ngga." Naya mengusap perutnya yang terasa sakit.
"Sakit? Jangan-jangan efek dari obat bius barusan."
"Ngga, aku takut. Gimana kalau terjadi apa-apa sama anak aku. Rasanya sakit banget."
Rangga semakin panik. Dia menahan tubuh Naya dan mencari jalan keluar.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
__ADS_1