Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 102


__ADS_3

Laras kini duduk sambil menikmati makanannya dan melihat pembagian doorprize untuk tamu undangan.


"Mbak gak ikut ambil doorprize?" Pertanyaan itu membuat Laras tersedak. Dia batuk dan meletakkan makanannya di atas meja.


"Eh, Mbak maaf." Virza mengambilkan minum untuk Laras.


Laras segera meminum segelas air itu hingga habis. Lalu dia meletakkan gelas yang telah kosong di atas meja. "Kamu ngagetin aja sih."


"Kaget? Emang Mbak Laras lagi melamun?"


Laras hanya terdiam sambil membuang pandangannya dari bronis yang ada di sebelahnya.


"Aku baru tahu kalau Mbak ini kakaknya Naya. Tapi kalian berdua memang gak ada miripnya sama sekali."


Laras hanya memutar bola matanya. Jangan bilang dia mau membandingkan wajahnya dengan Naya. "Aku juga baru tahu kamu bukan karyawan bengkel."


Virza hanya tertawa, "Ya kan Mbak sendiri yang bilang kalau aku karyawan bengkel. Aku iyain aja."


"Ya aku gak tahu, penampilan kamu gak mencerminkan kalau kamu pemilik bengkel."


Virza mendekat dan menatap Laras. "Jangan menilai seseorang dari penampilan."


"Iya, mulai sekarang aku ngerti." Laras mengalihkan pandangannya. Bisa-bisanya tatapan mata Virza membuatnya salah tingkah. Dia kini mengambil ponselnya dan ada beberapa pesan masuk dari Riki. "Kenapa juga aku gak blokir nomor dia."


Diam-diam Virza mengintip pesan chat di ponsel Laras. "Kalau diundang ke tunangan mantan itu harus datang. Jangan jadi orang pengecut."


Seketika Larasn menyembunyikan ponselnya. "Gak sopan banget baca chat orang."


Virza hanya tersenyum miring lalu dua melihat Arsen dan Naya yang sedang berbahagia. Lalu Rangga dan Rani yang sedang mesra-mesranya. "Njir, mereka bikin iri gue aja."


"Ternyata kamu bisa iri juga."


Virza tak menyahuti perkataan Laras.


"Kirain cowok bad boy geng motor itu playboy."

__ADS_1


Seketika Virza menatap Laras. "Kata siapa? Justru cowok bad boy dan anak motor itu setia. Dia tidak akan menyakiti hati wanitanya. Mbak lihat, adik Mbak itu, dia sangat bahagia dengan Arsen. Arsen itu lebih parah dari aku tapi saat dia menemukan wanita yang tepat dia rela meninggalkan semua hidupnya yang buruk demi Naya."


"Iya, iya aku percaya sekarang. Yang aku kira setia dan seprofesi justru ternyata licik dan main cantik di belakang aku." Laras menyandarkan punggungnya di kursi sambil memutar ponselnya. "Kamu mau gak ke acara tunangan Riki nemenin aku?"


Virza semakin menatap Laras. "Sama aku?"


"Ya, kamu pura-pura aja jadi pasangan aku."


"Mbak gak malu sama brondong, karyawan bengkel pula." kata Virza sambil menahan tawanya. Dia tidak bisa membayangkan jalan dengan wanita yang lebih tua darinya.


"Ya lo dandan yang rapi lah jangan pakai celana lubang-lubang. Ya, minimal pakai kemeja kayak gini."


"Oke, kalau gitu Mbak juga dandan yang cantik ya minimal kayak Naya gitu."


"Cowok emang nilainya dari fisik."


"Eh, Mbak kalau mau buat mantan menyesal itu sekalian jangan setengah-setengah. Sayangnya aku bukan CEO, kalau aku CEO udah aku bawa Mbak ke salon yang mahal biar di vermak."


"Aku juga mampu bayar salon."


"Oke."


Virza berdiri lalu berpamitan pada pemilik acara itu. "Ar, gue duluan ya."


"Mau kemana? Ini kan masih siang." Arsen bersalaman dengan Virza.


"Ada janji sama orang. Bumil, lancar ya sampai lahiran nanti."


"Iya Kak, makasih ya."


Setelah itu Virza berpamitan pada teman-temannya yang masih menikmati hidangan.


Kemusian dia keluar dari halaman rumah Arsen dan menaiki motornya lalu segera melajukan motornya ke bengkelnya.


"Gue harus pastiin dulu mobil yang dibawa teman Papa kemarin sebelum diambil orangnya."

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Virza sampai di bengkelnya dan mengganti bajunya dengan kaos dan celana pendek. Dia mengecek mobil yang baru saja diperbaiki oleh anak buahnya. Dia masuk ke dalam mobil dan menghidupkan mesin mobil itu.


"Gimana bos? Sip?"


"Udah, sip." Kemudian dia turun dan mencatat total onderdil yang diganti dan biaya perbaikan di nota. Setelah itu dia mengambil lap dan mengelap body mobil karena terlihat ada debu yang menempel.


Beberapa saat kemudian ada seseorang yang masuk ke dalam bengkel dan melihat mobil yang sedang dilap oleh Virza.


"Sudah selesai?"


Virza menoleh dan menatap pria yang akan mengambil mobil itu. "Udah, Om."


"Kamu kan yang sama Laras kemarin."


"Iya, kenapa?" Virza menegakkan dirinya. Dia menatap Riki yang sekarang ada di depannya.


"Jadi kamu cuma pegawai bengkel?" pertanyaan Riki terdengar sangat merendahkan Virza.


"Emang kenapa, Om? Sama-sama menghasilkan uang."


"Kamu ada hubungan sama Laras? Gak pantas kamu sama dia."


Virza tersenyum miring. "Biar pun gue kayak gini yang penting gue setia." Virza menyerahkan nota agar Riki segera membayarnya. "Bayar dulu, terus pergi dari sini!"


"Baru jadi karyawan bengkel aja belagu." Setelah Riki membayar dan menyerahkan bukti servis, dia masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya keluar dari bengkel.


"Ck, sebenarnya yang sombong itu siapa? Dapat gaji dari rakyat aja sombongnya selangit. Dasar pejabat! Bangga itu kalau bisa menciptakan lapangan kerja dan bisa gaji karyawan."


"Sabar bos, sabar."


"Kurang sabar apalagi gue. Ck." Virza membalikkan badannya lalu kembali berkutat dengan beberapa mesin mobil di bengkelnya.


💕💕💕


.

__ADS_1


Like dan komen ya... 😂


__ADS_2