
Area Laras dan Virza. Kurang greget kayaknya karena semua gaya udah dipake Arsen.. 😂
Othor yana polos ini bingung ngetiknya.
.
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
"Kenapa?" Lalu Virza menindih tubuh Laras. "Aku akan membuat kamu melayang dan mabuk kepayang." Kemudian dia labuhkan lagi ciumannya di bibir Laras. Virza semakin memposisikan dirinya dan satu kali hentakan dia berhasil memasuki Laras.
Spontan Laras menggigit bibir Virza. Ini memang bukan yang pertama untuknya tapi rasanya masih sakit seperti tersayat.
"Maaf..." Laras mengusap bibir bawah Virza yang memerah karena gigitannya. Tapi Virza justru menghisap ujung jari Laras sesaat.
"Gak papa. Aku suka." Kemudian Virza mulai menggerakkan dirinya untuk mencapai kenikmatan yang akan menjadi candunya.
"Ah, Mas..."
"Kenapa? Sakit?" Virza menyingkirkan rambut Laras yang menutupi keningnya. Lalu dia usap pipi Laras yang bersemu merah itu.
Laras mengangguk kecil karena rasanya memang perih.
"Aku pelan-pelan." Virza memelankan gerakannya. Dia nikmati dengan penuh perasaan.
Laras berpegangan pada leher Virza sambil terus menatap wajah Virza. Wajah tampan itu semakin terlihat tampan dengan rambut yang teracak di dahinya.
Virza kembali membungkukkan dirinya dan menelusuri leher Laras. Dia sesapi hingga beberapa tanda merah membekas. Perlahan bibir itu singgah di dekat telinga Laras. "Masih sakit?" bisiknya.
__ADS_1
Laras menggelengkan kepalanya karena rasa sakit itu kini berubah menjadi rasa nikmat.
Seketika Virza menambah tempo gerakannya. Dia men de sah pelan di dekat telinga Laras. "Nikmat sekali."
"Mas, rasanya sesak banget."
"Justru itu yang enak. Aku gak percaya kamu sudah pernah melakukannya, rasanya masih menggigit gini." Virza kembali mengusap pipi Laras yang bersemu merah.
"Aku cuma sekali dan, ya gitu, gak tahulah jangan diingatkan lagi." Laras semakin mencakar punggung Virza saat Virza semakin menambah gerakannya.
Virza hanya tersenyum miring. "Itu tandanya beda di size dan durasi."
"Gak tahu. Mas..." Laras menekan tengkuk leher Virza lalu mencium bibir Virza. "Aku..." Napas Laras semakin berat. Perutnya terasa penuh.
"Kamu mau keluar?" Virza semakin menambah gerakannya dengan kedua tangan yang terus me re mas buah sintal yang ikut bergerak naik turun seiring hujamannya.
Kemudian Virza menarik kedua lengan Laras hingga dia duduk di pangkuannya. Dia memeluk tubuh yang telah berpeluh itu lalu menghentaknya dari bawah.
"Mas..." Laras semakin melingkarkan tangannya di leher Virza. Rasanya dia semakin melayang dan dibawa Virza terbang tinggi. Dia semakin mendongak saat Virza menyesapi lehernya. Gerakan Virza kini bisa dia imbangi, hingga suara tepukan itu terdengar semakin keras saat saling bertemu. Laras sudah tidak tahan lagi. Tubuhnya bergetar lagi, dia sudah sampai di pelepasannya yang kedua.
"Mas, masih belum?" Laras sudah lemas untuk kedua kalinya tapi Virza masih semangat, seolah tenaganya belum berkurang sama sekali.
"Kamu baru dua kali, nanti setelah ketiga kalinya." Virza kembali merebahkan Laras di atas ranjang lalu dia angkat kaki kiri Laras ke bahunya. "Kamu mau cepat punya momongan kan. Gak aku tunda lagi ya. Bentar lagi aku sampai." Virza semakin mempercepat gerakannya. Dia hentakkan semakin kuat dan dalam.
De sah an Laras semakin keras. Akhirnya dia mencapai pelepasannya yang ketiga bersamaan dengan Virza.
Virza menumpahkan semua hasratnya di titik terdalam, berharap dia segera memiliki momongan seperti Arsen. Setelah itu dia melepas dirinya lalu menghempaskan tubuhnya di sebelah Laras. Lalu dia peluk tubuh Laras yang berpeluh itu dengan erat. "Makasih sayang." Satu kecupan mendarat di pipi Laras.
__ADS_1
"Sama-sama." Laras juga mengeratkan pelukannya. "Kadang aku masih gak nyangka, aku justru menikah sama kamu."
"Semua ini jalan takdir. Kita tidak sengaja bertemu di jalan dan ternyata kamu kakaknya Naya." Kemudian Virza menarik selimut hingga menutupi tubuh polos mereka berdua. "Setelah memanas, kenapa sekarang dingin lagi."
"Iya." Tiba-tiba Laras melebarkan matanya saat merasakan sesuatu yang keras menyentuh perutnya. "Jangan bilang kalau mau..."
Virza mengangkat tubuh Laras hingga berada di atasnya. "Kita puasin sekali lagi."
"Mas, durasi tadi masih kurang?"
"Kurang. Aku akan terus merasa kurang. Rasanya bikin nagih tapi sekarang kamu yang di atas."
"Aku? Aku gak bisa. Nanti sakit."
"Gak akan, justru kalau kamu yang di atas gak akan sakit. Kamu bisa mengontrol gerakan kamu, mau pelan atau cepat, senyaman kamu." Kedua tangan Virza sudah menangkup dada Laras. Dia beri stimulasi di puncak dadanya agar Laras kembali terbuai lagi. "Ayo sayang. Satu kali lagi kemudian kita istirahat."
Laras ragu mengangkat tubuhnya. Dia pegang milik Virza dan mengarahkannya, tapi dia tak juga memasukkannya. Akhirnya Virza membantunya dari bawah yang membuat Laras memekik lagi.
"Udah, tinggal kamu goyang."
Awalnya Laras ragu dan hanya bergerak perlahan tapi saat rasa nikmat itu semakin menjalari tubuhnya dia semakin menambah gerakannya dan berpacu di atas tubuh Virza. Hingga mereka mencapai pelepasan bersama.
.
💕💕💕
.
__ADS_1
Like dan komen ya...