
Arsen duduk di dekat brankar Naya dengan tangan yang terus menggenggam tangan Naya. Bibirnya tersenyum meski kedua matanya berkaca-kaca.
"Anak kita kuat ya. Dia mampu bertahan untuk kita."
Naya menganggukkan kepalanya. Sedikit sesak di dada mereka akhirnya telah luruh karena kandungan Naya berhasil diselamatkan meski Naya harus benar-benar istirahat total selama beberapa minggu.
"Kamu gak boleh gerak sama sekali. Kalau mau ke kamar mandi aku gendong. Kalau mau sesuatu bilang sama aku."
Naya menganggukkan kepalanya. "Iya, makasih ya."
"Buat apa? Harusnya aku yang makasih sama kamu, perjuangan kamu ini sangat luar biasa." Kemudian Arsen mengusap rambut Naya. "Nanti aku izinin kamu untuk cuti kuliah dulu. Kamu fokus sama kesehatan kamu dan dedek dulu."
Naya menganggukkan kepalanya. "Ar, mereka mengapa menculik aku?" tanya Naya. Karena selama ini hidupnya sepertinya aman saja. Baru kali ini dia dihadapkan dengan peristiwa yang sangat menakutkan seperti ini.
Arsen terdiam. Dia takut, jika dia cerita dia akan semakin menambah beban pikiran Naya tapi Naya juga berhak tahu tengang keluarganya.
"Ar, ada apa sebenarnya? Cerita saja, gak papa."
"Jadi sebenarnya Ibu kamu adalah Adik kandung dari Papanya Rangga. Kamu dan Rangga masih saudara."
Naya melebarkan matanya menatap Arsen. "Jadi Rangga kakak sepupu aku?"
Arsen menganggukkan kepalanya. "Iya, dan sebenarnya Ibu kamu dibunuh oleh keluarga Sagara karena dendam. Jadi saat mereka tahu anaknya masih hidup, mereka berusaha mencelakakan kamu juga."
"Ibu..."
"Jangan terlalu dipikirkan. Mereka sudah mendapat balasannya, Sagara sudah ditangkap karena kasus mereka sangat banyak dan kemungkinan dia akan dihukum mati. Tinggal tunggu saja sidangnya nanti."
Naya menghela napas panjang. "Gimana keadaan Rangga sekarang?"
"Aku belum lihat. Tapi barusan aku telepon, pelurunya tidak terlalu dalam."
"Syukurlah."
Arsen tersenyum kecil. "Gak nyangka Rangga yang aku anggap rival ternyata saudara kamu. Pantas saja semakin hari dia semakin perhatian sama kamu."
Naya menganggukkan kepalanya. "Mungkin ini alasan Papa dulu melarang aku berhubungan dengan Rangga."
"Iya, tepat sekali dan kamu tahu siapa sahabat Ibu kamu?"
Naya menatap Arsen. "Siapa?"
"Mama."
"Mama kamu?"
Arsen menganggukkan kepalanya. "Dan foto bayi perempuan di sebelah aku itu adalah kamu. Ternyata kalau jodoh gak kemana ya."
Seketika Naya tersenyum dengan air mata yang telah merembes di pipinya. "Semua benar-benar sudah ditakdirkan."
"Iya."
__ADS_1
"Hmm, Ar, nanti kalau Rangga sudah baikan suruh ke sini ya. Aku mau bilang tentang Tika agar dana partai keluarga Tika tidak diberhentikan dari keluarganya Rangga."
"Kamu tuh terlalu baik ya." Arsen mencubit kecil hidung Naya.
"Ih, ya sebagai rasa syukur saja, karena takdir telah membawa aku bersama kamu." Naya meraih kedua pipi Arsen dan menariknya agar mendekat lalu menciumnya.
Saat Naya akan melepas ciumannya, Arsen kembali memagutnya.
"Eh, aduh, Mama ganggu."
Mendengar suara Mamanya, seketika Arsen menjauhkan dirinya. "Mama, ketuk pintu dulu kalau masuk."
"Mama bawa barang-barang, gak bisa ketuk pintu. Nih, Papa yang bukain."
"Arsen, di rumah sakit masih saja sempat-sempatnya." celetuk Papanya.
Arsen kini duduk di sofa. "Papa nih, sama istri sendiri dimanapun ya sempat."
"Mama panik banget waktu dengar kamu masuk rumah sakit. Syukurlah calon cucu Mama selamat. Dia kuat seperti Arsen. Mama dulu waktu hamil Arsen juga beberapa kali pendarahan tapi Arsen bertahan tuh sampai gede sekarang." Bu Ririn tersenyum lalu mengeluarkan makanan untuk Naya. "Mama bawain makanan yang banyak mengandung protein dan juga sayuran agar kandungan kamu semakin sehat."
"Makasih ya, Ma. Barusan sudah makan dari rumah sakit juga."
"Gak papa, kalau lapar makan lagi."
"Iya, masih lapar," kata Naya sambil tersenyum karena memang porsi makannya sekarang sangat banyak.
"Kalau makan sambil bersandar saja. Mama suapin."
"Bara berhasil kabur dan dia juga tidak ikut terseret dalam masalah keluarganya. Jadi kamu harus tetap hati-hati karena kemungkinan besar Sagara akan dihukum mati."
Arsen menganggukkan kepalanya, dia kini menatap Naya yang sedang disuapi Mamanya.
Aku pasti akan selalu berusaha untuk jagain kamu, Nay...
...***...
"Rangga!" Rani datang menjenguk Rangga setelah mendengar kabar bahwa Rangga terkena tembak. "Rangga, lo gak papa kan?" Rani kini duduk di tepi brankar Rangga.
"Gak papa gimana? Luka kayak gini masih tanya." kata Rangga yang kini duduk di atas brankar. Kemejanya terbuka, hanya satu lengan yang dia pakai. Di bahu kirinya dibalut perban.
"Iya, gue tahu. Ih, orang nengokin tuh pasti tanya kayak gitu." Rani melihat balutan perban itu. "Pasti sakit."
Rangga hanya menghela napas panjang. "Antar gue ke ruang rawat Naya. Gue mau lihat keadaannya."
"Tapi kondisi lo masih kayak gini. Biar gue aja yang ke sana."
"Ran, anterin gue. Daripada gue gak bisa tidur mikirin calon ponakan gue kenapa-napa."
Rani tertawa menatap Rangga. "Sayangnya sama calon ponakan."
"Iyalah, lo tahu kan gue gak punya adik."
__ADS_1
"Buat sendiri dong anak, biar makin seru."
Mendengar hal itu seketika Rangga menatap Rani. Dia tarik tangan Rani agar mendekat. "Kalau buat anak itu harus ada pasangannya."
"Ya, makanya cari."
Rangga semakin menatap dalam kedua mata Rani. Ada perasaan yang selama ini terselip di lubuk hatinya. Entah kapan perasaan itu bisa dia rasakan sepenuhnya.
"Ngga." Rani mengalihkan pandangannya.
"Kita nikah yuk!"
Seketika tawa Rani pecah. "Emang kita masih anak kecil kayak dulu main pengantin-pengantinan. Gak usah bercanda deh."
Rangga melepas tangan Rani lalu turun dari brankar. Dia menyeret tiang infusnya dengan tangan kanannya yang tidak sakit.
"Kamu mau kemana?" tanya Rani. Dia kini mengikuti Rangga.
"Aku mau jenguk Naya."
"Keras kepala banget sih. Tunggu orang tua lo biar dibantu. Nanti mereka nyariin."
"Orang tua gue masih ngurus di kantor polisi. Kan lo gak mau anterin ya udah gue ke sana sendiri."
"Ih, bukannya gak mau anterin." Rani menahan tiang infus Rangga lalu melepas tabung infus itu dan dia bawa. Kemudian satu tangannya menggandeng lengan kanan Rangga. "Tapi lo masih sakit, butuh istirahat."
"Yang sakit cuma bahu gue aja. Badan gue gak papa."
"Lo tuh dari dulu sok kuat dan sok jagoan."
Rangga hanya tersenyum kecil. "Lo udah tahu ruangannya Naya?"
"Udah, tadi gue tanya Arsen. Niatnya memang sekalian ke sana." Rani terus menggandeng lengan Arsen sambil berjalan perlahan menuju ruangan Naya.
Mereka berdua kini sampai di ruangan Naya lalu masuk ke dalam ruangan itu.
"Rangga kok lo ke sini?" tanya Arsen. Dia kini membantu Rangga berjalan mendekati brankar Naya.
"Gue ingin lihat Naya. Gimana keadaannya?"
"Dia harus istirahat total."
Naya kini tersenyum menatap Rangga. Ternyata dia mempunyai seorang kakak laki-laki meskipun kakak sepupu.
"Kak Rangga..."
.
💕💕💕
.
__ADS_1
Like dan komen ya...