
"Arsen sama Naya pasti di puas-puasin malam ini," kata Virza. Dia kini merebahkan dirinya di sebelah Laras. Terasa sangat canggung. Bahkan di antara mereka masih menyisakan ruang kosong.
"Biar kita nambah ponakan lagi. Orang tuanya Arsen udah pengen cucu lagi sepertinya. Gak papa mumpung masih muda."
Virza kini menatap Laras. Sejak sah dia hanya memegang tangannya dan memeluknya sesaat. Dia belum menyentuh lebih. Entahlah, mengapa rasanya sangat mendebarkan seperti ini. Perlahan tangan Virza memeluk pinggang Laras dan menarik tubuhnya hingga mendekat.
"Hmm, maaf, aku bukan tipe cowok yang romantis."
"Tapi kalau menurut aku, kamu romantis kok. Ya, mungkin karena kita baru mengenal beberapa bulan jadinya kita masih canggung."
Virza semakin mendekap tubuh Laras. Sedangkan tangan Laras kini memainkan lengan Virza. "Za, aku mau jujur sama kamu."
"Apa?"
Laras terdiam beberapa saat. "Hmm, harusnya aku bilang ini sama kamu sebelum kita menikah. Aku..." Laras mengumpulkan semua keberniannya. "Sebenarnya aku ingin menutupi ini dari kamu, tapi hal itu juga gak mungkin bisa."
Virza meregangkan pelukannya dan menatap Laras. "Bilang saja, gak papa. Aku pasti akan menghargai setiap kejujuran kamu."
"Sebenarnya aku pernah berhubungan satu kali sama Riki. Aku kira dia akan serius setelah kita melakukannya, ternyata dia berselingkuh. Harusnya aku tidak pernah melakukan itu. Aku sangat menyesal tidak bisa menjaga ini."
Virza hanya terdiam mendengar pengakuan Laras.
"Harusnya aku jujur sama kamu sebelum kita menikah. Maaf, aku salah. Aku gak bisa jaga diri."
"Sssttt, udah gak papa. Aku gak peduli dengan masa lalu kamu, yang penting adalah masa depan kita. Bagaimana kita menjalani kisah kita selanjutnya."
Laras tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Aku juga pernah melakukannya dengan wanita bayaran di klub malam. Aku juga bukan cowok baik-baik, aku anak geng motor, perokok, kadang juga sering mabuk. Tapi aku udah berubah. Dua tahun terakhir ini aku juga gak pernah lagi mabuk dan ke club. Aku fokus dengan kuliah dan bengkel aku. Ya, semoga saja ke depannya kita bisa menjadi lebih baik. Aku akan berusaha menjadi suami yang baik buat kamu."
"Iya, kita sama-sama belajar ya."
"Setelah ini rencananya kita tinggal dimana? Apa kamu mau tinggal di rumah aku? Maksudnya bukan di rumah kedua orang tua aku. Rumah aku di sebelah bengkel, ya cuma bersebelahan saja sama rumah orang tua." kata Virza. Dia terus menatap wajah Laras.
__ADS_1
"Terserah kamu saja. Gak papa, aku tahu hari-hari kamu sibuk di bengkel."
"Ya sudah, kalau begitu besok aku bantu kamu siap-siap pindah ke rumah ya. Tapi boleh kan sama orang tua kamu?"
"Pasti boleh. Tapi nanti kalau kedua orang tua aku sudah pensiun dan tua, aku ingin merawat mereka. Kalau sekarang mereka masih sibuk dengan jabatan dan karir, pasti tidak akan kesepian."
"Iya gak papa. Aku akan dukung apapun mau kamu." Virza kembali mengeratkan pelukannya lalu dia mencium kening Laras. Perlahan ciuman itu turun ke hidung lalu ke bibir. Singgah di bibir tipis itu cukup lama, perlahan dia lu mat bibir Laras dan mencari celah agar bisa masuk ke dalam bibir tipis itu.
Kedua tangan Laras kini mengalung di leher Virza saat Virza semakin menindih tubuhnya. Dia membalas pagutan bibir Virza. Ciuman lembut itu kini berubah menjadi ciuman yang penuh gairah. Saling berbalas dan menyesap dengan sesekali menggigit kecil.
"Nanti kita bulan madu ke puncak ya? Kita ke villa saja." kata Virza setelah melepas ciumannya. Dia kini mengusap rambut Laras.
"Cari yang hawanya dingin?"
Virza menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Iya, biar hangatnya terasa."
"Terserah kamu saja."
Virza kembali merebahkan dirinya di samping Laras. Mereka saling berhadapan dan memeluk. Malam itu meskipun tidak melakukan malam pertama tapi mereka mengobrol hingga malam telah larut.
Pagi hari itu, sampai matahari merangkak ke atas, Naya dan Arsen belum juga bangun. Setelah melewati malam yang panas, mereka masih tidur dengan nyenyak dengan tubuh yang saling memeluk.
"Mas," Naya membuka kedua matanya. Dia menguap panjang sambil meregangkan otot-ototnya yang terasa pegal. "Udah siang."
"Iya, bentar lagi." Arsen semakin mengeratkan pelukannya. Rasanya dia juga masih sangat mengantuk dan ingin bermalasan.
"Mas, aku udah kangen sama Arnav. Semalam udah tiga kali, aku capek banget."
"Ya udah." Kemudian Arsen bangun dan mencium bibir Naya sesaat karena jika Arnav alasannya dia tidak akan menolak. "Kita mandi terus sarapan di resto lalu pulang."
Naya menganggukkan kepalanya kemudian Arsen menggendong tubuh Naya dan membawanya ke kamar mandi. Dia turunkan tubuh Naya di bawah shower lalu dia hidupkan shower air hangat itu hingga mengguyur tubuh mereka berdua.
"Ih, Mas, buat tanda merah sampai banyak gini di dada." Naya mengusap beberapa tanda merah di dadanya.
__ADS_1
"Kamu juga buat tanda merah di leher aku."
Naya tertawa sambil mengusap tanda merah di leher Arsen. "Yah, nanti Mama sama Papa lihat tanda merah kamu ini. Ih, aku jadi malu."
"Gak papa. Biar mereka tahu kalau menantunya ini ganas."
"Ih, malu."
Arsen kembali memeluk tubuh Naya. Dia mencium bibir yang selalu membuatnya kecanduan itu. "Aku sayang kamu. Sekali lagi ya, setelah itu kita sarapan."
Naya sudah tersihir oleh tatapan Arsen. Dia tidak akan bisa menolak.
"Adik kecil udah berdiri dan siap membuat kamu men de sah." bisik Arsen lalu dia lu mat cuping telinga Naya sesaat. Kemudian dia putar tubuh Naya lalu dia dekap dari belakang.
"Ah, Ar..." Kedua tangan Naya ikut bertumpu pada tangan Arsen yang mendekap dadanya.
"Kali ini gak akan lama kayak semalam jadi kamu nikmati. Kamu men de sah juga sepuas kamu."
Naya semakin berpegangan pada tangan Arsen saat Arsen memulai aksinya.
"Sayang, satu kaki kamu naik sini." Arsen mengangkat satu kaki Naya naik ke atas kloset agar dia lebih leluasa menggeakkan pinggulnya.
Suara de sah mereka semakin bersahutan hingga mereka mencapai pelepasan bersama.
.
💕💕💕
.
Arsen udah ya, jangan kasih tutor othor yang polos ini.
.
__ADS_1
Like dan komen ya.. nungguin bocil-bocil nya Rangga sama Virza lahir dulu habis itu tamat ya... ðŸ¤