
"Ibu, malam ini temani Shena tidur ya?" pinta Shena. Dia menahan lengan ibunya saat akan pergi.
"Iya sayang, ibu temani. Sudah jangan takut lagi." Naya memeluk tubuh kecil putrinya. Untunglah putrinya tidak sampai demam meskipun sempat menggigil kedinginan.
"Shena, kenapa takut sama air dalam? Shena kan bisa renang." tanya Naya. Dia sebenarnya ingin mengatasi phobia putrinya dengan kedalaman air. Baik Shena maupun Arnav sama-sama sudah diajarkan berenang sejak berusia satu tahun.
Shena menggelengkan kepalanya. "Shena tidak tahu. Pokoknya Shena takut."
"Ya sudah, Shena sekarang tidur. Ini sudah malam." Naya membelai lembut rambut putrinya agar segera terlelap.
Sedangkan Arsen kini berada di kamar putranya yang sedari tadi cemberut karena dia marahi.
"Arnav, Ayah gak bermaksud marah. Sini sama Ayah," kata Arsen sambil menyentuh bahu putranya yang sedang memunggunginya.
"Gak mau!"
Arsen menghela napas panjang. Kenapa bisa sifat Arnav benar-benar mirip dengannya dulu. Tapi dia ingin Arnav menjadi anak yang penurut, tidak bandel seperti dirinya.
"Arnav sayang gak sama adik?"
"Ya sayang, Ayah."
"Jadi bantu Ibu dan Ayah jaga Shena ya. Seorang laki-laki harus bisa menjaga perempuan. Shena adik perempuan kamu satu-satunya, baik kamu, Rey, Vicky, juga harus menjaga Shena. Jangan biarkan Shena jatuh dan menangis."
Arnav yang sedari tadi memunggungi Ayahnya seketika memeluk tubuh Ayahnya. "Arnav takut lihat Shena hampir tenggelam tadi."
Arsen mengusap punggung putranya. Meskipun Arnav dan Shena sering bertengkar tapi dia tahu mereka saling menyayangi dan tidak ingin kehilangan satu sama lain. "Maafin Ayah tadi sudah memarahi Arnav."
__ADS_1
Arnav menganggukkan kepalanya. "Arnav memang salah. Mulai besok Arnav gak akan nakal lagi sama Shena."
"Ya sudah, kamu sekarang tidur. Ini sudah malam. Ayah temani."
Arnav menganggukkan kepalanya lalu dia memejamkan matanya. Hingga larut malam, kedua mata Arsen masih saja belum terpejam. Akhirnya perlahan dia turun dari ranjang dan menuju dapur. Bukannya minum air putih tapi Arsen justru membuat kopi.
"Loh, Mas. Malam-malam kok buat kopi? Nanti malah gak bisa tidur," kata Naya. Dia kini berdiri di samping Arsen.
"Iya, aku gak bisa tidur. Buat kopi biar makin gak bisa tidur." Arsen tersenyum kecil. "Kamu mau juga? Ayo ngopi berdua."
"Iya, kopi susu aja ya."
"Udah punya susu masih minta susu," goda Arsen.
"Ih, Mas." Naya mencubit pinggang Arsen.
Arsen mengambil satu cangkir lagi dan membuatkan Naya kopi sesuai permintaannya.
"Waduh, alamat ngedrakor lagi ini." Arsen mengikuti langkah Naya lalu duduk di samping Naya.
Naya sudah memutar drama favoritnya dengan volume suara yang sangat kecil. "Arnav udah gak ngambek lagi kan?"
"Udah nggak. Kadang aku juga merasa bersalah terlalu memanjakan Shena. Padahal harusnya Shena juga bisa menjaga dirinya sendiri."
"Iya, nanti kita ajarkan Shena mandiri pelan-pelan. Kita juga harus hilangkan phobia Shena pada kedalaman air.".
"Iya, nanti kita konsultasi pada ahlinya saja." Arsen meminum kopinya pelan sambil melirik Naya yang sedang fokus dengan filmnya. Setelah kopinya tinggal sedikit, dia letakkan cangkir kopi itu di atas meja lalu dia menggeser dirinya hingga tidak ada jarak sama sekali dengan Naya. Satu tangannya kini juga merengkuh bahu Naya.
__ADS_1
Naya masih saja fokus dengan filmnya sambil menikmati kopinya sedikit demi sedikit.
"Memang kalau siang gak bisa lihat film?" tanya Arsen sambil menyelipkan rambut Naya di telinganya.
Naya meletakkan cangkir yang telah kosong sambil menggeleng pelan. "Kalau siang Shena selalu ngikuti aku. Gak mungkin lah aku ajak lihat drama 18 plus."
"Ternyata begini ya punya dua anak. Seru, kadang buat tertawa, kadang buat emosi."
"Tapi tetap mereka penyemangat dan kebahagiaan kita. Aku sendiri gak menyangka kita udah punya dua anak di umur 25 tahun."
"Iya. Waktu cepat banget berlalu." Tangan Arsen semakin mendekap tubuh Naya dan menyandarkan kepala Naya di bahunya.
Mereka kini terdiam sambil menikmati momen bersama. Adegan di dalam film itu semakin romantis yang membuat gairah tiba-tiba muncul di keduanya.
"Sayang daripada lihat orang beradegan, lebih baik kita sendiri yang beradegan." Arsen mencium bibir Naya lalu ciuman itu turun ke lehernya.
"Ar, jangan di sini."
Arsen mematikan televisi itu. "Ya udah yuk ke kamar." Arsen mengangkat tubuh Naya ala bridal style lalu membawanya ke kamar.
Naya hanya tersenyum sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Arsen.
💕💕💕
.
Othor mau intip Arsen dulu. Reader gak boleh ikut. 😂
__ADS_1
.
Makasih ya udah mengikuti cerita ini. Pencapaiannya melebihi ekspektasi othor meskipun kebanyakan silent reader tapi othor tahu kalian setia baca sampai di bab ini. Kurang dikit lagi tamat nanti lanjut ke cerita anaknya di kamar baru. 😘😘