Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 108


__ADS_3

"Tapi bagaimana dengan kondisi mata istri saya, Dok?" Arsen semakin khawatir. Dia sangat takut kelahiran normal itu akan beresiko pada Naya.


"Semoga tidak terjadi apa-apa. Tolong dilepas kacamatanya."


Arsen melepas kacamata Naya lalu dia menggenggam tangan Naya dengan erat.


"Bunda, dengarkan aba-aba saya. Jangan terlalu mengejan. Mengejan seperti buang air besar saja. Pandang dada, jangan menutup mata saat mengejan."


Naya sudah tak mendengarkan perkataan Dokter Sinta dengan baik. Perutnya sudah sangat sakit dan dia terus ingin mengejan.


"Bunda tahan dulu sebentar."


"Nay, ikuti apa kata Dokter Sinta ya." Arsen mengusap rambut Naya agar dia bisa sedikit tenang.


"Ar, sakit." Peluh sudah membanjiri pelipis Naya.


"Iya, sayang. Sebentar lagi kita bertemu dengan Arnav. Tarik napas dulu, tahan, terus dorong." Karena Naya tidak mendengar perkataan Dokter Sinta, Arsen yang mengulangi arahan Dokter Sinta di dekat telinga Naya.


Naya semakin mencengkeram tangan Arsen dan mengerahkan seluruh tenaganya.


"Iya, bagus. Sedikit lagi." kata Dokter Sinta.


"Sayang, sedikit lagi. Kamu berusaha, kamu pasti bisa."


Naya berusaha mengerahkan seluruh tenaganya lagi.


"Sayang jangan tutup mata."


Naya menarik napas dalam hingga dadanya terlihat naik turun. "Sakit, Ar."


"Iya, sedikit lagi. Ayo, kamu pasti bisa." Arsen sangat tidak tega melihat Naya kesakitan seperti ini. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain memberi motivasi pada Naya. Andai saja rasa sakit itu bisa berpindah, biar dia saja yang merasakannya.


Setelah berjuang dengan keras, akhirnya tangisan baby Arnav memenuhi seluruh ruangan bersalin itu.

__ADS_1


"Selamat, dedeknya laki-laki ya, sehat, dan sempurna."


Arsen tersenyum lalu mencium kening Naya. "Selamat ya sayang. Kamu berhasil"


Naya juga tersenyum, dia melihat putranya yang sedang dilap lalu dibawa ke dadanya. Saat dia memandang wajah putranya, pandangannya semakin kabur dan hanya ada beberapa titik cahaya.


"Ar, kacamata aku mana?"


Arsen membantu Naya memakai kacamatanya. Lalu dia tersenyum menatap baby Arnav yang bergeliat kecil di dada Naya sambil mencari sumber kehidupannya. "Hai, Arnav. Lucu banget. Sayang, mirip kamu," kata Arsen.


Naya hanya mengernyitkan dahinya. Mengapa dia masih saja tidak bisa melihat wajah putranya dengan jelas. Hanya ada seberkas cahaya dan samar-samar saja.


"Nay," Arsen kini menatap Naya. "Nay, mata kamu merah banget." Seketika Arsen membuka kacamata Naya dan melihat kedua mata Naya yang merah seperti darah. "Sayang, kamu bisa lihat kan?"


Naya menggelengkan kepalanya. "Cuma ada cahaya aja."


Mendengar hal itu, hati Arsen sangat hancur. Apa yang dia takutkan apakah benar-benar terjadi. "Nay, coba lihat lagi." Arsen memasang kacamata Naya lagi.


"Cuma samar, Ar."


Dokter Sinta memeriksa kedua mata Naya. "Sepertinya pembuluh darahnya pecah. Semoga saja tidak ada kerobekan pada retina. Nanti kita akan langsung panggil Dokter spesialis mata agar cepat ditangani."


Seketika Arsen mendekap kepala Naya dan menciumi puncak kepalanya. Air mata itu sudah tidak bisa dia bendung. Dia menangis dalam diam. Semua ini terjadi karena kesalahannya, harusnya dia tidak perlu terpancing Bara dan meninggalkan Naya.


"Ar, dia sempurna kan? Sehat kan?" Satu tangan Naya mengusap punggung baby Arnav yang sekarang sudah berhasil menemukan sumber kehidupannya.


"Iya, dia sempurna dan sehat. Kulitnya putih bersih seperti kamu," jawab Arsen dengan suara seraknya.


"Ar, kamu kenapa?" Naya meraih wajah Arsen yang kini ada di pundaknya.


Tapi Arsen tak menjawabnya. Dia justru memainkan tangan mungil itu dengan jemarinya.


"Ar, jangan sedih. Baby Arnav udah lahir. Harusnya kamu bahagia."

__ADS_1


"Tapi kamu seperti ini, Nay."


"Ar, jangankan mata, aku rela kehilangan nyawa aku asalkan Arnav terlahir ke dunia ini dengan selamat."


Seketika tangis Arsen pecah di bahu Naya. Begitu besar pengorbanan seorang ibu. "Sayang, aku yakin kamu bisa melihat lagi. Apapun akan aku lakukan agar kamu bisa melihat wajah anak kita."


"Ar, jangan nangis. Aku jadi sedih." Naya meraba pipi Arsen lalu menghapus air matanya.


"Iya, maaf. Justru aku yang lemah. Aku keluar sebentar ya. Dokter akan membersihkan kamu dan baby Arnav." Arsen mencium pipi Naya lalu pipi putranya. Setelah itu dia melangkah jenjang keluar dari ruang bersalin. Dia mengepalkan tangannya lalu menghubungi Rangga.


"Roni dan Bara berhasil lo tangkap? Baik, gue akan ke sana sekarang." Setelah mematikan panggilannya, Arsen kembali melangkahkan kakinya.


"Ar, kamu mau kemana?" tanya Bu Ririn yang baru saja datang bersama suaminya. Setelah dihubungi Gery mereka langsung meluncur ke rumah sakit.


"Kamu kenapa? Apa yang terjadi sama Naya?" tanya Pak Tama yang melihat mata nanar Arsen.


"Pandangan Naya semakin kabur, dia hampir tidak bisa melihat."


"Kaasihan Naya, tapi cucu Mama sehat kan?"


"Sehat, Ma." Arsen melepas tangan Mamanya yang memegang lengannya.


"Kamu mau kemana?" tanya Pak Tama.


"Mau mengurus Bara dan lainnya. Mama tolong jaga Naya ya." Kemudian Arsen melangkah jenjang. Dia tidak akan membiarkan Bara dan Roni lolos. Mereka harus menanggung akibatnya.


"Ar, jangan gegabah. Biar polisi yang mengurus mereka."


Arsen sudah tak menggubris perkataan Papanya. Emosinya sudah meluap, dia pastikan Roni dan Bara mendapat balasan darinya.


.


💕💕💕

__ADS_1


.


Like dan komen ya...


__ADS_2