Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 67


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu, setelah masa pengenalan kampus selesai, mereka kini telah resmi menjadi mahasiswa.


Naya dan Rani tetap satu kampus dan mengambil jurusan yang sama. Begitu juga dengan Arsen dan Rangga. Kedua pria calon bos besar itu jelas mengambil jurusan yang sama untuk kemajuan perusahaan di masa mendatang.


Tapi yang membuat Naya dan Rani kesal, lagi-lagi dia harus satu kelas dengan Tika. Nenek lampir itu seolah mengikuti mereka kemanapun mereka pergi.


"Nay, nunggu Arsen sambil makan di kantin yuk?"


"Oke." Kemudian Rani dan Naya berjalan menuju kantin kampus. Mereka memesan bakso kemudian duduk bersebelahan di kursi kantin.


"Ran, jadi lo udah gak akan balikan lagi sama Kak Virza?" tanya Naya. Dia membuka air mineral lalu meminumnya.


Rani menggelengkan kepalanya. "Ya kita memang masih berteman, kita udah mutusin untuk jalan sendiri-sendiri. Kalau memang nanti kita jodoh ya kita langsung nikah aja."


"Emang gitu lebih baik sih. Tapi, gini, lo serius gak ada perasaan apa-apa sama Rangga?"


"Itu-itu aja dari kemarin yang lo tanya. Hubungan gue dan Rangga ya masih tetap kayak dulu, bestie."


Naya hanya tersenyum, kemudian dia mendekatkan bakso yang baru diantar penjualnya.


"Nay, gue semalam lihat berita. Bokap lo mau nyalon jadi walikota lagi ya, dan nyokap lo jadi DPR." kata Rani.


"Iya, urusan jabatan mereka memang menggebu. Bukan urusan gue lagi juga sih, dan gue sekarang udah gak dituntut lagi untuk terjun ke dunia politik. Sejak sama Arsen, gue bisa menikmati hidup gue banget." Setelah menuang sambal, caos dan kecap, Naya kini memakan baksonya.


"Enak ya jadi lo, udah nemuin tambatan hati."


"Ya, kalau udah waktunya, lo pasti juga akan nemuin orang yang cocok sama lo. Gue aja dulu gak ngira bakal hidup sama Arsen. Orang yang gue kira hidupnya berantakan ternyata justru bisa membahagiakan gue."


Rani hanya menganggukkan kepalanya. "Ngomong-ngomong lo pernah ke makam Ibu lo?"


"Udah sering. Satu sampai dua minggu sekali gue ke sana sama Arsen."


"Makamnya dimana?" tanya Rani.


"Makam yang ada di kampung lama itu."


Rani hanya menganggukkan kepalanya. Dia juga memakan baksonya sambil mengobrol. "Nama Ibu lo siapa?"


"Maya."


"Jadi nama lo itu turunan dari nama Ibu lo?"


"Ya mungkin." Kemudian tidak ada pembicaraan di antara mereka sampai bakso mereka habis.

__ADS_1


Naya kini mengambil ponsel dan mengirim pesan pada Arsen bahwa dia menunggu di kantin.


"Udah chat Arsen?" tanya Rani.


"Udah."


Naya menghabiskan minumannya sambil menatap Arsen yang berjalan menuju kantin. "Arsen sama siapa tuh?"


Seketika Rani melihat arah pandangan Naya. "Wah, Arsen diincar cewek-cewek."


Naya menggembungkan pipinya sambil mengepalkan tangannya. Di dekat Arsen ada dua cewek yang terus mengikutinya.


"Udah, gue mau jalan dulu sama cewek gue," kata Arsen karena sepertinya kedua cewek itu tidak mau menyingkir.


"Mana pacar lo?"


Arsen kini duduk di samping Naya dan bergelayut di lengannya. "Ini cewek gue."


"Cewek lo? Lo gak bisa cari cewek yang lebih cantik gitu, cewek cupu kok dipacarin."


"Emang kenapa? Gue cinta kok." Arsen menatap Naya yang cemberut. "Cewek gue itu cantik." Arsen melepas kacamata Naya lalu melepas ikat rambut Naya. "Memang kecantikannya khusus buat gue, gak diumbar kayak kalian."


Kedua cewek itu sangat kesal dipermalukan seperti itu. Akhirnya mereka pergi meninggalkan Arsen. "Dasar!"


Sedangkan Rani hanya tertawa melihat mereka berdua.


"Nay, kok marah." Arsen menahan tangan Naya.


"Seneng banget direbutin cewek-cewek. Pasti bangga."


Arsen tertawa dan merengkuh bahu Naya. "Cemburu ya?"


"Nggak! Udah ah sana aku mau pulang." Naya melepas tangan Arsen lalu melangkah pergi.


"Pulang sama siapa?"


"Sendiri!"


"Nay, jangan gitu. Kalau cemburu gemesin banget." Arsen menggandeng tangan Naya dan tidak melepasnya lagi. "Kita ke rumah lama yuk, mengenang indahnya waktu kita awal jatuh cinta."


Rani hanya tersenyum melihat tingkah Naya dan Arsen. Saat dia akan berdiri, ada Rangga yang duduk di sebelahnya.


"Gimana? Gak lupa lagi kan?" tanya Rangga.

__ADS_1


"Nggak. Nama Ibunya Naya memang Maya makamnya di dekat kampung lama."


Rangga menganggukkan kepalanya. "Berarti benar, Naya memang adik sepupu aku."


"Tapi kata Naya Ibunya itu meninggal karena kecelakaan."


Rangga menggelengkan kepalanya. "Bukan, tante Maya dibunuh."


"Lo gak bilang sama Naya tentang ini, dia pasti senang kalau tahu dia masih punya keluarga dari pihak Ibunya."


Rangga menggelengkan kepalanya. "Ini terlalu bahaya untuk Naya."


Kemudian mereka sama-sama terdiam. Rangga membeli air mineral dan langsung menghabiskannya.


"Lo udah balikan sama Virza?"


Rani menggelengkan kepalanya. "Kan gue udah bilang, gue gak mau pacaran. Gue mau langsung nikah aja. Biar lo gak ganggu terus."


Rangga tersenyum kecil lalu mengusap puncak kepala Rani. "Menikah itu gak semudah seperti yang lo bayangkan."


Rani menghindari usapan Rangga. "Udah ah, jangan ngomongin pasangan. Gue paling males kalau ngomongin pasangan sama lo. Lo selalu ngeracuni pikiran gue." Rani berdiri dan melangkahkan kakinya meninggalkan Rangga.


"Ran, gue antar pulang." Rangga menyusul langkah Rani.


"Lo gak ke resto?"


"Ya, setelah antar lo.


"Gue ikut, mau makan gratis."


"Oke, ayo ikut aja."


.


💕💕💕


.


Mau dibawa kemana nih hubungan Rani dan Rangga? 🤭


.


Like dan komen ya...

__ADS_1


__ADS_2