Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 64


__ADS_3

Pagi hari itu, Rangga menatap ponselnya dengan serius. "Rani mau kemana?" Dia memperbesar map yang terhubung dengan nomor Rani. Selama ini Rangga memang sudah menyadap ponsel Rani. Dia pasti tahu kemanapun Rani pergi.


"Wah, gak beres!" Rangga segera memakai jaketnya dan mengambil kunci motornya. Kemudian dia mengendarai motornya dan melajukannya dengan kencang menuju titik posisi Rani.


Pasti Rani sama Virza. Gue gak akan biarin Virza ngelakuin itu sama Rani.


Rangga semakin menambah kecepatan laju motornya. Dia tak peduli dengan kendaraan yang ramai di jalanan. Dia salip beberapa mobil besar.


Akhirnya dia sampai di depan sebuah villa. Dia turun dari motornya dan menggedor pintu villa itu dengan keras. Sampai beberapa kali gedoran tak juga dibuka, akhirnya Rangga menendang pintu itu hingga rusak.


Rangga masuk ke dalam villa itu. Dia mengedarkan pandangannya. Mencari keberadaan Rani di kamar bawah tapi tidak ada. Kemudian dia naik ke lantai atas. Wajah Rangga semakin merah padam dipenuhi emosi saat melihat Rani sedang bercumbu mesra dengan Virza. Dia mengepalkan tangannya lalu berjalan mendekat.


Dia menarik paksa Virza dan memukulnya dengan keras hingga membuat Virza terhuyung ke belakang.


"Rangga!" pekik Rani.


"Apa yang lo lakuin sama Rani! Lo mau merusak Rani." Rangga akan memukul Virza lagi tapi Virza berhasil menahan tangan Rangga.


"Kita lakuin ini atas dasar suka sama suka. Lo gak usah ikut campur."


"Gue biarin lo jalan sama Rani, tapi bukan berarti sampai ke tahap ini. Kalau lo memang cinta sama Rani, harusnya lo nikahi dia. Lo gak akan rusak dia seperti ini." Rangga memukul perut Virza dengan keras.


"Ngga, udah." Rani menahan Rangga agar tidak memukul Virza lagi.


"Rani, kita pulang!" Rangga menarik tangan Rani agar mengikutinya.

__ADS_1


"Lo kenapa selalu ikut campur sama urusan gue!" Rani berusaha melepas tangan Rangga tapi cekalan Rangga sangat kuat.


"Ran, apa yang lo lakuin ini udah diluar batas! Lo jadi cewek juga harus bisa jaga diri!"


Rani terdiam sambil membuang pandangannya.


"Lo coba bayangin, selama ini orang tua lo jaga lo, terus lo relain tubuh lo gitu aja sama cowok lain tanpa ada status yang sah. Gimana gak hancur perasaan orang tua lo!"


Rani hanya memunggungi Rangga dan menangis.


"Ayo, pulang!" Rangga menarik lagi tangan Rani tapi Rani menepis tangan Rangga lagi.


"Biar gue pulang sama Kak Virza!" kata Rani.


"Ran!" Rangga membuang napas kasar lalu dia melepas tangannya. Dia pukul tembok dengan keras untuk meluapkan semua emosinya. "Oke, kalau ini mau lo! Gue gak akan ganggu lagi hidup lo! Terserah lo mau lakuin apa aja!" Rangga melangkahkan kakinya jenjang keluar dari kamar.


"Rangga..." Rani mengusap air matanya asal. Dia kini merasa sangat bersalah.


"Ran, maaf. Rangga benar, kita harusnya tidak melakukan ini hanya karena penasaran." kata Virza yang ikut menyusul langkah Rani.


Rani hanya terdiam sambil menangis terisak.


"Aku sekarang tahu, kalau Rangga sangat sayang sama kamu. Dia gak mungkin marah seperti itu jika dia gak peduli sama kamu."


Rani semakin merasa bersalah. Sebenarnya dia juga tidak ingin bertengkar dengan Rangga seperti ini.

__ADS_1


"Ran, lebih baik, hubungan kita sampai di sini saja. Aku belum bisa jadi yang terbaik buat kamu. Aku takut kita khilaf lagi. Sedangkan aku sendiri juga belum bisa menikahi kamu karena aku belum lulus kuliah." kata Virza pada akhirnya. Semua yang dikatakan Rangga langsung mengubah pola pikir Virza. Jika dia tulus dengan Rani, dia tidak akan merusak Rani.


Perkataan Virza semakin menambah luka hati Rani. Air mata itu semakin deras mengalir di pipinya.


"Ran?" Virza meraih tubuh Rani. Dia memeluknya dan mengusap rambutnya. "Ran, aku tahu kamu gak mau bertengkar dengan Rangga. Maafkan aku sudah bawa kamu melangkah sejauh ini. Sebelum semuanya terjadi, lebih baik kita berhenti."


Kemudian Virza melepas pelukannya dan menghapus air mata Rani. "Kamu tidak mau bertengkar dengan Rangga kan?"


Rani menggelengkan kepalanya.


"Aku akan kembalikan kamu sama Rangga. Makasih sudah menemaniku selama tiga bulan ini."


"Tapi, Kak. Kita gak harus putus juga."


"Nanti jika kita berjodoh, kita pasti akan bersama lagi."


Meski rasanya berat, dia harus bisa menerima keputusan ini karena dia lebih tidak mau kehilangan Rangga yang telah menemaninya sejak kecil.


"Ayo, aku antar pulang." Setelah mengambil barang, Virza membenarkan pintu yang rusak itu lalu menguncinya. Lalu mereka naik ke atas motor dan beberapa saat kemudian motor Virza sudah melaju.


.


💕💕💕


.

__ADS_1


Like dan komen ya...


__ADS_2