Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 86


__ADS_3

Malam hari itu, Rani duduk di taman menunggu Rangga. "Rangga tumben banget ajak gue ke taman." Rani menatap layar ponselnya berulang kali karena Rangga tak juga datang.


Beberapa saat kemudian dia dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang tiba-tiba duduk di sampingnya. "Kak Virza! Kok Kak Virza ke sini?" Rani tersenyum kaku menatap Virza. Jika Rangga tahu pasti Rangga akan salah paham lagi dengannya.


"Iya, aku memang sengaja cari kamu malam ini." Virza tersenyum menatap Rani. "Ada sesuatu yang mau aku bilang sama kamu."


"Apa?"


Virza mengeluarkan sebuah kotak bludru lalu membukanya. "Maukah kamu menikah denganku?"


Rani melebarkan matanya. Dia tidak mengira Virza akan melamarnya hari itu tapi Rani jauh lebih terkejut saat melihat Rangga berdiri di dekatnya dan menjatuhkan sebuket bunga mawar.


"Rangga!" Seketika Rani berdiri.


Tanpa berkata apapun, Rangga membalikkan badannya dan berjalan jenjang meninggalkan Rani.


Rani kini menatap Virza, dia bingung dengan situasi saat ini. "Kak Virza, maaf aku..."


"Ran, kalau kamu memilihku kamu bertahan di sini. Tapi kalau kamu mau menyusul Rangga, gak papa, pergilah."


Rani akhirnya mengambil buket mawar itu lalu mengejar Rangga.


Virza kembali menutup kotak cincinnya sambil tersenyum. "Cinta memang tidak harus memiliki.".


"Rangga tunggu!" Rani berlari mengejar Rangga karena Rangga terus mempercepat langkah kakinya. "Rangga!" Tapi Rani justru terjatuh.


Mendengar suara terjatuh, seketika Rangga menghentikan langkah kakinya dan berbalik arah. "Rani!" Kemudian dia membantu Rani berdiri. "Ngapain lo ngikutin gue?"


"Ya lo ngapain pergi?" Rani mengibaskan celananya yang kotor lalu menatap Rangga.

__ADS_1


"Ya, gue gak mau ganggu lo sama Virza. Udah lo kembali aja ke sana. Virza pasti nunggu jawaban lo."


"Lo bisa gak sih jadi cowok gentle. Kalau melawan musuh aja berani, tapi kalau sama cewek cemen!"


Rangga membuang napas kasar. Dia justru bertatap tajam dengan Rani.


"Nih bunga buat apa?"


"Ya gak buat apa-apa."


"Ngga! Ish, nyesel gue ngikutin lo. Padahal gue sama sekali gak ada niat buat terima Kak Virza. Udahlah." Rani mengembalikan bunga itu pada Rangga lalu membalikkan badannya tapi saat dia akan melangkah satu tangannya di tahan Rangga.


"Ran, jangan pergi. Iya, gue emang gak berani ngakuin perasaan gue. Rasanya sangat sulit mengungkapkannya. Gue takut, lo menjauh dari gue. Gue juga takut kalau ternyata lo gak punya perasaan yang sama kayak gue. Kita udah bersahabat sejak kecil, jadi untuk mengakui perasaan itu sangat sulit."


Perlahan Rani membalikkan badannya. Dia kini menatap Rangga. "Iya, gue ngerti. Tapi daripada lo marah tiap kali gue deket sama Kak Virza, lebih baik lo jujur sama gue. Gue sendiri juga bingung, makanya beberapa hari ini gue sengaja menghindari lo untuk memikirkan perasaan gue sendiri."


"Oke, gue mau jujur sama lo. Gue gak mau kehilangan lo. Gue gak mau lo dekat sama cowok lain. Karena setiap kali gue lihat lo jalan sama Virza hati gue sakit dan ingin marah. Sepertinya rasa sayang pada sahabat seiring berjalannya waktu sudah berubah jadi cinta dan rasa ingin memiliki. Ya, gue cinta sama lo."


"Njir, gue romantis woy!" Tiba-tiba Arsen muncul dari balik pohon sambil memegang ponselnya. "Kan gue udah bilang tadi siang di kampus, aku kamu kalau ngomong." Arsen menjotos lengan Rangga.


"Kok lo ada di sini?" tanya Rangga bingung.


Beberapa saat kemudian Virza juga datang. "Kamu terima saja. Aku yakin kamu juga cinta sama Rangga. Maaf soal tadi, ini hanya rencana aku dan Arsen agar kalian berdua yakin dengan perasaan kalian."


Kemudian Arsen merangkul bahu Virza dan mengajaknya pergi. "Udah yuk, urusan kita udah selesai. Nanti gue cariin lo cewek, atau siapa tahu bentar lagi lo ketemu cewek di jalan." kata Arsen sambil berjalan dengan Virza.


Rangga tak menyangka Virza melakukan ini semua untuknya. Dia kira, Virza tidak akan mungkin melepas Rani. "Mereka berdua yang bantu kita?"


"Kak Virza memang baik banget."

__ADS_1


Rangga kembali menatap kesal Rani.


"Eh, jangan tatap gue kayak gitu lagi. Itu hanya pengungkapan rasa kagum saja."


"Terus gimana perasaan lo sama gue?"


Rani tersenyum menggoda Rangga. "Mau tahu? Romantis dulu."


Rangga menggaruk tengkuk lehernya. Dia romantis sama Rani, mana bisa. Tapi dia akan mencoba.


Rangga menarik napas dalam kemudian dia berlutut di hadapan Rani sambil memberikan sebuket bunga mawar itu. "Aku cinta sama kamu. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersama kamu. Maukah kamu menjadi pacar aku, hmm, bukan. Maukah kamu menikah denganku?"


Seketika Rani tertawa. Dia menarik tangan Rangga agar berdiri. "Gak pantes ngomong romantis gitu." Kemudian Rani memeluk tubuh Rangga. "Aku juga cinta sama kamu."


Seketika senyum Rangga merekah di bibirnya. Dia semakin mengeratkan pelukan Rani. Sudah banyak waktu yang terbuang hanya untuk menyadari perasaannya, kini Rangga tidak akan menyia-nyiakan semua waktu yang ada.


"Kita nikah besok ya?"


"Ih, gak secepat itu juga kali." Rani melepas pelukannya lalu berjalan menuju bangku taman dan duduk. "Bilang dulu sama orang tua aku. Kalau mereka setuju, aku juga setuju."


"Oke, beres." Rangga masih saja tertawa. "Konyol banget."


"Iya, kamu memang konyol. Aku kamu, ck."


Rangga mengacak rambut Rani lalu kembali merengkuh pundaknya. Mereka sama-sama menatap indahnya langit malam itu.


.


💕💕💕

__ADS_1


.


🤭🤭🤭


__ADS_2