
"Kak Laras gak ikut? Terus Vicky bagaimana?" tanya Naya pada Laras lewat panggilan whatsappnya. "Ya sudah, Vicky biar aku jemput." Kemudian Naya mematikan panggilannya.
"Bu, Kak Vicky ikut kan?" tanya Shena sambil bergelayut di kaki Ibunya.
"Iya ikut, nanti kita jemput ya. Soalnya Aunty Laras lagi gak enak badan."
"Yee, Kak Vicky ikut." Shena berlari menghampiri kakaknya yang sedang memasukkan beberapa cemilan ke dalam tasnya.
"Kak Laras kenapa?" tanya Arsen. Dia kini menyisir rambutnya setelah keluar dari kamar mandi.
"Kak Laras morning sickness. Adiknya Vicky udah otw."
"Akhirnya jadi juga setelah sempat ditunda. Ya udah kita jemput aja Vicky. Rangga juga udah di jalan. Kita janjian di depan taman bermain." Arsen memasukkan dompet dan juga ponsel Naya ke dalam tas Naya. "Sayang, ada uang cash kan?"
"Ada." Naya mengambil tasnya dan memeriksa barangnya lagi lalu dia keluar dari kamar dan menghampiri Arnav dan Shena yang sudah siap. "Arnav, Shena, cemilannya sudah dimasukkan tas semua?"
"Sudah, Bu. Shena juga bawa susu sama yogurt, sama bawa buat Kak Vicky juga."
"Buat Kak Rey mana?" tanya Arsen. Dia selalu mengajarkan putra dan putrinya untuk berbagi.
"Ada di dalam tas Kak Arnav. Tas Shena gak muat."
"Ya udah kita berangkat sekarang." Naya menggandeng Shena sedangkan Arsen menggandeng Arnav. "Ingat, di sana gak boleh lari-larian sendiri. Karena ini hari libur pasti taman bermainnya ramai."
"Iya, Ibu."
Kemudian mereka semua masuk ke dalam mobil. Arnav memilih duduk di depan, di samping Ayahnya. Sedangkan Shena berada di belakang bersama Ibunya.
"Ayah, nanti Arnav mau renang sama Rey. Sudah bawa ganti baju juga."
"Iya, tapi hati-hati ya. Jangan di kolam yang dalam."
"Iya, Ayah."
Beberapa saat kemudian, Arsen menghentikan mobilnya di depan rumah Virza.
"Kalian berdua di dalam mobil saja sama Ayah. Biar Ibu yang jemput Vicky." Lalu Naya keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah Virza. Beberapa saat kemudian Naya menggandeng tangan Vicky lalu masuk ke dalam mobil.
"Shena di tengah saja."
Shena tersenyum melihat Vicky yang kini sudah duduk di sampingnya. Paras Vicky memang paling tampan di antara Arnav dan Reynand. Wajahnya sangat mirip dengan Virza dengan kulit yang putih bersih seperti Laras.
"Kak Vicky nanti temani Shena ya. Soalnya Kak Arnav sama Kak Rey mau berenang."
__ADS_1
"Iya, nanti aku temani. Aku juga masih belum bisa berenang."
Arnav justru tertawa. "Aku udah bisa renang, di air yang dalam juga sudah bisa. Makanya ikut les renang."
"Arnav, gak boleh sombong gitu. Vicky sudah bisa renang sebenarnya. Iya, Kan Vicky?" kata Naya karena dia tahu persis Vicky sudah pandai berenang sejak usia dua tahun. Justru Shena yang sangat sulit dia ajak les berenang karena sepertinya Shena punya phobia kedalaman air.
"Jadi Shena saja yang tidak bisa berenang ya." kata Shena dengan kecewa.
"Aku juga gak bisa berenang. Nanti kita main sama-sama ya," kata Vicky berusaha menghibur Shena.
Seketika Shena tersenyum lagi. Dia kembali bercerita pada Vicky.
Naya tersenyum melihat interaksi mereka berdua. Sepertinya sifat Virza yang selalu mengalah juga menurun pada Vicky.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di depan taman bermain. Arsen menghentikan mobilnya di tempat parkir bersamaan dengan mobil Rangga.
Mereka semua turun dari mobil lalu menuju loket pembelian tiket untuk membeli tiket terusan.
"Kak Laras gak ikut?" tanya Rani. Dia menggandeng tangan Rey.
"Kak Laras lagi hamil muda. Tadi Vicky aku jemput biar dia ikut."
Setelah mendapat tiket, mereka semua masuk ke dalam taman bermain. Banyak wahana permainan di dalam taman itu.
"Iya, ayo."
"Aku sama Rey mau main bombomcar. Ayo, Rey." Arnav menggandeng tangan Reynand. Kedua bocah itu memang memiliki kesukaan yang sama. Sama-sama suka bermain yang penuh tantangan.
"Biar aku sama Rani yang mengawasi mereka. Kamu sama Naya saja." kata Rangga pada Arsen.
"Oke." Kemudian mereka berpisah. Mereka menikmati beberapa wahana hingga akhirnya mereka berkumpul di area kolam renang.
"Shena, kalau kamu mau renang Ibu juga bawakan baju ganti. Tuh, ada yang dangkal airnya."
"Ayo Shena, nanti sama aku," ajak Vicky.
Shena akhirnya menganggukkan kepalanya lalu dia berganti baju dengan Ibunya. "Nanti di kolam yang dangkal saja ya, jangan dekat-dekat sama kolam yang dalam. Ibu juga akan awasi Shena di pinggir kolam."
Shena menganggukkan kepalanya. Mereka kini berkumpul di kolam renang. Shena hanya berani berada di kolam renang yang paling dangkal dengan Vicky.
Awalnya Shena memang bermain dengan Vicky tapi karena Arnav dan Rey terus memanggil Vicky agar ikut bergabung di kolam renang yang berkedalaman antara 1 meter - 1,5 meter, akhirnya dia ikut bergabung.
"Kita balapan yuk!" ajak Arnav.
__ADS_1
"Ayo, siapa takut!"
Tiga bocah yang berumur empat dan lima tahun itu sudah bersiap untuk berlomba renang. Mereka memang sudah terlatih berenang sejak kecil. Setelah hitungan ketiga, mereka saling beradu kecepatan berenang sampai ke seberang kolam yang luas itu.
Shena menggembungkan pipinya saat dia ditinggal Vicky. "Mau ke Ibu saja." Saat Shena akan melangkahkan kakinya, ada segerombolan anak laki-laki yang berlarian dan menyenggol Shena.
Shena kehilangan keseimbangan dan tercebur ke dalam kolam yang berkedalaman sedang itu.
Shena yang tidak bisa berenang, jelas saja dia akan tenggalam. Dia menggerakkan kaki dan tangannya berusaha agar tidak tenggelam.
"Shena!" teriak Naya saat melihat Shena jatuh ke dalam kolam. Seketika Arsen berlari tapi larian Arsen kalah sigap dengan seorang anak yang kini menahan tubuh Shena. Dia membawa Shena menepi.
"Shena..." Arsen segera mengangkat tubuh Shena.
Shena terbatuk dan mengeluarkan air kolam yang sempat terhirup.
"Shena, gak papa kan?" Naya langsung mendekap tubuh Shena yang bergetar.
Shena hanya terisak. Dia masih sangat ketakutan.
"Terima kasih ya. Nama kamu siapa?"
Anak laki-laki yang seumuran Arnav itu tersenyum. "Nama saya Sky. Jangan menangis ya, tidak apa-apa." Setelah mengusap rambut Shena sesaat, dia kembali berenang dengan cepat bergabung kembali dengan teman-temannya.
"Maafin Ibu ya, harusnya Ibu jagain Shena."
Arsen kini berjalan jenjang menghampiri Arnav. "Arnav, kenapa kamu gak jagain Shena?"
Arnav hanya menatap kemarahan Ayahnya.
"Maaf Om, Vicky yang meninggalkan Shena sendiri. Shena tidak apa-apa kan?"
"Harusnya ini menjadi tanggung jawab kamu, Arnav. Siapa yang mengajak lomba renang gini?"
Arnav keluar dari kolam renang dan mengakui kesalahannya. "Arnav yang ajak mereka."
Arsen menghela napas panjang. "Arnav, Vicky, kita pulang sekarang!"
"Rey, kita duluan."
"Rey, kita pulang juga. Ayo!" ajak Rangga. "Lain kali, kamu juga harus bisa jagain Shena. Kalian bertiga itu Kakak Shena."
"Iya, Pa..."
__ADS_1