
Rangga hanya menatap tangannya yang memar membiru. Dia kini duduk di kantornya.
"Ini obat yang Anda minta." kata anak buah Rangga sambil meletakkan obat salep di atas meja.
Rangga menganggukkan kepalanya. "Terima kasih. Kamu kembali kerja saja."
Setelah anak buahnya keluar, dia meraih salep itu. Kemudian mengoles pelan luka di punggung tangannya.
"Mungkin gue terlalu mencampuri masalah pribadi Rani." Rangga menarik napas panjang lalu mengembuskannya kasar. Dia mengusap wajahnya dan hanya duduk melamun sepanjang hari itu.
Hingga akhirnya ada panggilan masuk dari Arsen. Rangga segera mengangkat panggilan.
"Ada apa, Ar?"
"Lo dicari Virza di basecamp."
"Gue sibuk." Rangga mematikan panggilannya secara sepihak lalu meletakkan ponselnya dengan kasar di atas meja. Dia memijat pelipisnya yang terasa pusing sambil memejamkan matanya.
Beberapa saat kemudian ada yang mengetuk pintu kantornya. "Bos, ada orang mencari Anda diluar."
Rangga menatap anak buahnya. "Siapa?"
"Virza."
"Ya udah, suruh dia masuk."
Anak buah Rangga mengangguk lalu berjalan keluar untuk memanggil Virza.
Kedua pria itu kini bertatap tajam. Kali ini Virza yang mengalah menemui Rangga karena dia mengaku salah.
"Mau apa lo?"
"Lo jangan marah sama Rani, karena ini semua salah gue," jawab Virza.
__ADS_1
Rangga hanya menatap datar Virza.
"Gue udah putus sama Rani," kata Virza lagi.
"Ck, ternyata mudah banget lo putusin Rani."
"Karena gue tahu, Rani pasti lebih sayang sama lo. Sampai kapanpun Rani gak akan mungkin bisa lepas dari lo. Begitu juga sebaliknya. Kejadian tadi pagi menyadarkan gue, kalau sebenarnya gue berada di antara lo dan Rani."
Rangga hanya terdiam dan mengeraskan rahangnya.
"Apa yang akan gue lakuin sama Rani sebenarnya hanya alibi agar Rani terikat sama gue. Karena setiap kali gue jalan sama Rani, pasti Rani akan teringat sama lo." Virza menghela napas panjang. "Sekarang gue kembaliin Rani sama lo." Kemudian Virza membalikkan badannya dan keluar dari kantor Rangga tanpa menunggu jawaban dari Rangga.
Rangga mencerna setiap kata yang diucapkan Virza. Benarkah Rani lebih menyayanginya?
...***...
Rani akhirnya menghubungi nomor restoran milik Rangga. Dia tidak bisa berlama-lama bertengkar dengan Rangga. Apalagi sampai di stadium akhir seperti ini. Sampai beberapa kali nada sambung tak juga ada yang mengangkatnya.
"Ngga, ayo angkat."
Rani tersenyum akhirnya Rangga mengangkat panggilannya.
"Ngga, jangan ditutup dulu. Gue mau ngomong sama lo."
Tidak ada jawaban diujung sana.
"Ngga, gue tahu apa yang gue lakukan tadi salah. Please, lo jangan marah kayak gini, gue takut."
"Ya udah lo tunggu di rumah. Gue ke rumah lo sekarang."
Rani tersenyum kecil. Akhirnya Rangga mau menemuinya. Rani meletakkan ponselnya di atas nakas lalu turun dari ranjangnya. Dia menatap dirinya di depan cermin. Matanya sangat sembab karena hampir seharian itu Rani menangis.
Beberapa saat kemudian terdengar deru motor Rangga di depan rumahnya. Rani segera keluar dari kamar dan membuka pintu rumahnya. Mereka saling bertatapan sesaat. Kemudian Rangga masuk ke dalam rumah meski Rani tidak mempersilakannya masuk karena dia memang sudah biasa keluar masuk rumah Rani.
__ADS_1
"Mata lo sembab banget. Ngapain lo nangis?"
"Gue gak mau lo marah kayak tadi."
"Gue cuma berusaha buat jaga lo aja. Tapi kalau lo maunya kayak gitu, ya udah gue gak bisa maksa lo."
"Iya lo benar. Gue juga udah putus Virza."
"Lo juga gak harus putus cuma gara-gara gue."
Kemudian tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Tapi tatapan Rani kini tertuju pada punggung tangan Rangga yang membiru. Dia mendekat dan memegang tangan Rangga. "Lo tuh kalau emosi di tahan. Jangan sampai melukai diri lo sendiri gini. Udah lo obati?"
"Udah." Rangga hanya menatap jemari Rani yang mengusap lembut tangannya.
"Gue tahu sifat lo keras banget. Darah bokap lo mengalir deras di tubuh lo. Diam-diam lo itu mematikan."
"Akhir-akhir ini gue memang gak bisa kontrol emosi gue. Banyak masalah yang gue pikirin." Rangga menjauhkan tangannya agar Rani berhenti mengusapnya. Tiba-tiba saja ada rasa yang aneh saat Rani menyentuhnya. Buru-buru dia mengalihkan pembicaraan. "Eh, Ran, lo tahu gak makam Ibu kandung Naya dimana?"
"Gue gak tahu. Naya udah gak pernah bahas masalah ini. Emang kenapa?"
"Apa benar nama kandung Ibu Naya adalah Maya?"
"Nah, gue juga gak tahu. Memang kenapa?"
"Lo bantu gue ya, cari tahu masalah ini. Semua bukti yang gue cari mengarah ke Naya. Sebenarnya gini..." Rangga menceritakan dugaan sementara tentang Naya pada Rani
Rani mengerutkan dahinya mendengar cerita Rangga. "Iya, gue akan bantu lo cari tahu masalah ini."
.
💕💕💕
.
__ADS_1
Like dan komen ya... 😒