Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 47


__ADS_3

Arsen kini mendongak dan menatap wajah Naya yang bersemu merah. "Sayang, sekarang aja yuk. Mumpung belum terlalu malam. Udah gak tahan."


Naya hanya terdiam menatap Arsen. Benarkah ini sudah saatnya?


"Sayang, ayo." Arsen kembali menyentuh inti Naya dan mengusapnya lembut. Membuat sensasi agar Naya mau menerima kehadirannya.


"Ah, Ar..." Naya memejamkan matanya merasakan jemari Arsen bermain dengan lembut dan keluar masuk secara perlahan.


"Gimana rasanya? Hem?" Arsen menatap wajah Naya yang menikmati permainannya.


"Geli banget Ar, sampai ke seluruh tubuh."


"Geli nikmat?"


Naya menganggukkan kepalanya. Sepertinya memang tidak perlu menunggu malam minggu nanti untuk melakukannya.


"Kamu full power gak malam ini?"


Naya hanya menganggukkan kepalanya karena tubuhnya memang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Justru dia kini menikmati setiap sentuhan Arsen yang membuat mabuk kepayang dan seolah ingin merasakannya lebih dari itu.


Tiba-tiba Arsen melepas celana Naya yang membuat Naya menutup kakinya rapat.


"Ar, malu!"


"Jangan malu, gimana bisa ngerasain kalau ditutup gini. Kamu cukup nikmati saja setiap sentuhanku." Perlahan Arsen membuka kedua pa ha Naya yang putih mulus itu. Arsen menelan salivanya berulang kali. Benar-benar pemandangan yang sangat indah dan kombinasi yang sempurna dari ujung kaki sampai ujung rambut.

__ADS_1


"Beruntungnya aku yang jadi orang pertama melihat tubuh kamu yang sexy ini." Arsen mengusap pa ha mulus itu. Lalu tangannya semakin naik ke atas dan berhenti di inti Naya. Dia usap kli to ris Naya yang membuat Naya semakin melenguh.


"Ar! Jangan disitu Ar. Aku gak kuat rasanya." Tubuh Naya bergerak tak karuan. Tubuhnya bagai tersengat listrik. Baru kali ini dia merasakan sensasi seperti ini.


Arsen tak menggubris perkataan Naya. Dia semakin bermain di area itu. Kemudian dia membungkukkan badannya dan menggantikan kerja jemarinya dengan bibirnya.


"Arsen!" pekik Naya. Dia semakin kelimpungan merasakan serangan dari Arsen. Bibir Arsen begitu lihai menjelajah titik paling sensitif di tubuhnya. Perutnya terasa penuh gelenyar aneh yang baru kali ini dia rasakan. Rasa seperti ingin buang air kecil tapi rasanya tertahan dan semakin nikmat.


"Arsen, ah, udah..."


Arsen tak berhenti, dia semakin menjelajah. Dia tahu Naya sangat menikmati permainannya. Bahkan tanpa sadar kedua pa ha Naya mengapit leher Arsen.


"Ar, aku kebelet. Udah. Ar..." Naya semakin mencengkeram sprei dengan kedua tangannya. Ada rasa yang tidak bisa dia tahan di perut bagian bawahnya.


Bukannya berhenti, tapi Arsen semakin menjadi. Bahkan satu tangannya kini bermain di dada Naya.


"Ahh, Ar, aku gak tahan." Tubuh Naya menggelinjang beberapa saat. Kedua tangannya semakin menarik sprei. Rasanya sangat nikmat dan setelah pelepasan itu, badannya terasa ringan seolah tanpa beban sedikit pun.


Arsen menyudahi permainannya lalu mengusap pelipis Naya yang berkeringat. "Mau lanjut atau gak?"


Naya tersenyum menatap Arsen sambil mengatur napasnya. "Udah nanggung, lanjut aja."


Mendengar hal itu membuat dada Arsen berdebar tak karuan. Hal yang sudah dia nantikan akhirnya akan segera terlaksana. Dia meneguk segelas air putih dulu sebelum melanjutkan permainannya.


Kemudian dia mengambil pengaman yang sudah lama dia beli.

__ADS_1


"Hmm, Ar, sakit gak? Kok aku jadi ragu."


Arsen yang baru saja membuka kaos pendeknya seketika menghentikan gerakannya. "Kalau pertama kali ya sakit Nay. Tapi kalau kamu belum siap, gak papa besok-besok masih bisa."


Naya masih terdiam dan berpikir. Dia kini menatap Arsen. Sudah sekian lama Arsen menahannya, mana mungkin dia tolak lagi. "Sini." Naya menarik tangan Arsen agar mendekat. "Lanjutkan!"


Seketika senyum di bibir Arsen mengembang. Dia kembali me lu mat bibir Naya. Tangannya kembali menjamah titik-titik sensitif di tubuh Naya. Setelah hasrat itu kembali terpancing, Arsen kini melepas celana pendeknya.


Pipi Naya bersemu merah saat melihat guratan otot panjang itu lagi untuk kedua kalinya. Dia kini terpesona dengan tubuh Arsen yang sangat menggoda. Apalagi saat Arsen membuka bungkus pengaman itu dengan giginya. Arsen semakin terlihat sexy dimata Naya. Ternyata seperti ini scene yang selalu di sensor di drama-drama yang pernah dia tonton.


"Bukannya aku gak mau punya anak pakai pengaman gini. Malah sebenarnya enak polosan." Arsen tersenyum kecil saat memasang pengaman itu. "Tapi aku gak mau ganggu sekolah kamu. Kita lulus sama-sama lalu lanjut kuliah, baru nanti kita lanjut ke program membuat anak."


Naya menganggukkan kepalanya. Dadanya kini berdebar-debar saat Arsen mulai mengungkungnya.


"Sudah siap menjelajah nirwana bersama Arsen?" tanya Arsen.


Naya tersenyum lalu mengalungkan kedua tangannya di leher Arsen. Satu anggukan dari Naya pertanda jika Arsen harus segera berlayar.


.


💕💕💕


.


Gantung dulu. 🤣🤣

__ADS_1


.


Like dan komen ya...


__ADS_2