Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 101. Memanfaatkan Keadaan


__ADS_3

Pagi-pagi Vindra bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Ketika tiba di bangsal tempat Sifa di rawat Vindra melihat Fendi Rapunzel dan Medina Rapunzel ada di dalam.


Pada saat yang sama, ibu mertuanya yaitu Miranda Bakti dan juga ayah mertuanya Steven Gultom berjalan buru-buru ke koridor.


"Ada apa ini Vindra? kenapa Sifa masuk rumah sakit dan kamu sudah dua hari tidak pulang?" tanya Miranda Bakti dengan tegas.


"Vindra apa yang terjadi dengan Sifa? Cepat katakan sesuatu!" teriak Steven Gultom dengan marah. " Apa kamu bodoh!"


Miranda Bakti lari menuju ranjang Sifa dan menyentuh wajah cantik Sifa yang terlihat pucat. Miranda nampak cemas dengan apa yang terjadi pada putrinya.


Vindra melirik wajah Sifa yang pucat, tapi merasakan nafas dan detak jantungnya stabil, salah satu alasan Sifa belum bangun karena dia kelelahan.


Vin menghela nafas lega, lalu mencoba menjelaskan. " Dia bertemu klien yang mabuk tadi malam..."


" Diam!" bentak Fendi yang tiba-tiba menyela.saat Vin hendak menjelaskan.


"Apa kamu masih ingin berbohong kali ini? kamu benar-benar menggunakan trik untuk menipu. Kamu hanyalah pembohong. Apakah kamu masih layak untuk Sifa? dan juga mendapatkan kepercayaan paman dan bibi?" Fendi tiba-tiba memarahi Vindra.


Ekspresi Miranda langsung tenggelam." Fendi ada apa sebenarnya?"


Fendi menggelengkan kepalanya, "Jangan sampai Vindra mengatakan kalau aku memprovokasi perselisihan, dia pasti akan marah dan memukuliku."


"Dia berani?" Teriak Gultom.


Vindra menyernyitkan keningnya, dan bertanya-tanya dalam hati, permainan apa yang sedang dimainkan Fendi Rapunzel.


"Paman, bibi, Vindra telah mempermalukan Sifa dengan kakakku beberapa hari yang lalu, dia meminta kakakku untuk memberi kompensasi sebesar 100 juta dan menggunakan tuan Dominic Wang untuk menekan kami." Medina memberitahu tentang masalah tersebut.


Miranda pun terkejut dan berseru, " Seratus juta? Gangster macam apa kamu ini? Benar-benar kejam."


Gultom langsung mengangkat wajahnya dan berteriak pada Vindra, " Apa yang kamu lakukan? Apa masalahmu?"

__ADS_1


"Ada. Dia menghancurkan porselen langka milikku yang senilai delapan miliyar. Jadi itu masuk akal jika aku meminta kompensasi." Jawab Vindra dengan datar.


"Darimana kamu mendapatkan porselen langka itu? Kamu pikir kamu percaya kamu memiliki barang antik senilai milyaran? Karena cemburu kamu melakukan trik kotor seperti ini, kamu benar-benar buruk." Saut Miranda.


"Dia membujuk Vindra, tapi Vindra menolak untuk mendengarkan, dan membuat Sifa jadi sedih. Tadi malam dia pergi menemui Leo Ederson untuk membicarakan bisnis, dia kesal. Tanpa memeriksa dia minum dan mabuk oleh obat yang di masukan Leo Ederson. Ana yang merasa tidak beres segera menghubungi Vindra, tapi Vindra tidak perduli dan mengabaikannya. Ketika saudaraku mendengar berita itu dia langsung menyelamatkan Sifa dari tangan Leo Ederson. Lihatlah saudaraku masih memiliki luka bekas pengawal Leo Ederson." Medina mengompori Miranda gan Gultom sambil menunjuk wajah Fendi yang masih lebam.


Mendengar penjelasan Medina dan tanpa mencari tahu kebenarannya dia marah dengan Vindra dan langsung menamparnya.


"Bajingan. Sudah kubilang padamu, kalau terjadi sesuatu pada putriku aku akan mencabut nyawamu."


Vindra meraih tangan Miranda, "Bu, semua tidak seperti yang dia katakan."


"Kalau bukan itu yang dia katakan, lalu apa? Bukankah seratus juta itu nyata? Bukankah benar kalau Sifa kesal denganmu? Jika bukan kamu membuat masalah dan membuat dia marah dan minum. Dari dulu Sifa tidak pernah minum saat berbicara tentang bisnis. Apakah kamu berani mengatakan kalau kamu tidak bertanggung jawab atas masalah ini?"


"Lepaskan tangan ibumu! apa yang kamu lakukan dengan memegang tangan ibumu? Apa kamu ingin membunuh ibumu?" teriak Gultom.


Vindra langsung melepaskan tangan Miranda dan mendesah dalam hati.


"Bibi kamu baik-baik saja?" Fendi yang memperhatikannya Miranda dengan cepat membantunya duduk.


"Jangan khawatir Bi, Sifa baik-baik saja dan dia akan bangun."


"Fendi, bibi berterimakasih kepada mu, jika sampai terjadi sesuatu pada Sifa, kami tidak sanggup hidup." Miranda menurunkan emosinya.


Setelah itu dia menunjuk ke arah Vindra, " Keluar... Keluar kamu diri sini. Aku akan meminta Sifa menceraikannya kamu. Cerai! Aku sangat buta, membiarkan kamu menjadi menantu di keluarga Gultom dari awal. Pergi!!!! Menghilang dari pandangan ku sekarang!" Miranda sudah tidak ingin melihat Vindra lagi.


Vindra nampak acuh tidak acuh, " Orang tua, Sifa, aku bertanggung jawab, tapi kamu dapat yakin kau dia tidak akan terluka lagi dimasa depan."


"Tidak terluka lagi?" Medina mengendus dingin." Ketika Sifa minta bantuan, dia malah bersembunyi seperti kura-kura, apakah kamu menjamin dia tidak terluka lagi?"


"Kamu tidak mau melindungi wanitamu sendiri, kamu sama sekali tidak berguna." Gultom masih lanjut memarahi Vindra dengan getir.

__ADS_1


Vindra memandang Medina dan mencibir, " Siapa yang menyelamatkan Sifa dari Leo Ederson? Apakah kamu tidak bisa melihat?"


"Buka saudaraku? Mungkinkah kamu yang menyelamatkannya? Apakah kamu mempunyai kekuatan untuk melawan Leo Ederson? Apa kamu ingin mengatakan kalau kamu yang menyelamatkannya?"


"Vindra, jika kamu salah katakan salah, jangan mencari wajah." tegur Gultom.


"Tanyakan pada Anna, siapa yang menyelamatkan Sifa."


"Pergi! aku tidak ingin melihatmu lagi." Usir Miranda sambil menunjuk ke arah pintu.


Fendi menulis cek dan melemparkannya ke Vindra.


"Seratus juta, aku akan membayar mu. Jangan ganggu Sifa lagi."


Miranda segera maju dan mengambil cek tersebut dan merobeknya menjadi dua bagian dan berteriak. " Hutang Fendi menjadi tanggung jawab kami. Jika kamu ingin seratus juta datang pada kami untuk mendapatkannya. Keluarga Gultom tau bagaimana berterima kasih, dan tidak akan membiarkan Fendi ditindas olehmu. Cepat pergi dari sini! Apa kamu tidak mendengarkan?"


Ketika Vindra hendak bicara, Fendi lebih dulu mau dan mendorong Vindra ke pintu. "Apakah kamu akan marah dengan mereka? Apakah kamu sangat marah?" Fendi terus menekan Vindra dan mencari wajah dihadapan orang tua Sifa.


Melihat mertuanya dengan penuh amarah, Vindra menghela nafas, dan mengurungkan niatnya untuk menjelaskannya, dia percaya Anna pasti akan menjelaskannya nanti kenapa Meraka.


Vindra pun berbalik dan meninggalkan bangsal.


Lima menit kemudian, Vindra sudah berada di halaman rumah sakit dan tak lama enam Hummer muncul. Dominic Wang mengenakan jaket, dan membuka pintu mobil dan memberi hormat.


" Dimana orang itu?" tanya Vindra dengan ringan.


"Rumah teh Ex." jawab Dominic


Vindra langsung masuk kedalam mobil yang dikendarai Dominic dan Dominic segera menginjak pedal gas lalu pergi meninggalkan rumah sakit, diikuti lima Hummer lainnya yang mengikutinya. Mereka langsung menuju rumah Teh Ex dengan tujuan yang jelas.


To Be continued ☺️☺️☺️

__ADS_1


__ADS_2