
Keesokan harinya Vindra terbangun, dan merasakan tenggorokannya kering. Dia segera mengambil air yang ada didalam gelas yang terletak diatas nakas.
Dia segera meminumnya dalam sekali teguk, dah membuat kesadarannya pulih.
Dia menemukan dirinya bukan di rumah keluarga Gultom, ataupun di rumah sewaan. Dia sama sekali tidak mengenali tempat dimana dirinya saat ini.
Pada saat ini pintu diketuk beberapa kali, kemudian sosok Ambar Wijaya muncul dengan mengenakan piyama.
"Ah, Vindra, ternyata kamu sudah bangun. Aku pikir kamu akan tidur sampai siang." Sapa Ambar sambil tersenyum.
"Dimana aku?"
"Apartemen Mangrove. Apartemen pribadiku dimana tempat persembunyianku."
"Kamu mabuk tadi malam, dan menggangguku, memaksaku membawamu masuk. Aku hanyalah wanita lemah dan tidak sekuat dirimu. Aku hanya bisa menggertak mu saja, tapi kamu setengah mendorongku. Kamu harus ingat kamu harus bertanggungjawab di masa depan." Ambar duduk disamping tempat tidur dan menggoda Vindra.
"Ambar, apakah kamu bercanda?" Vin benar-benar melupakan kejadian tadi malam. Jadi dia bingung.
"Apanya yang bercanda?"
Ambar mendekati Vindra dan sedikit membungkuk.
"Lihatlah bibirku sedikit retak, karena kamu menggigitku." Ambar menunjukkan beberapa foto yang diambil dari kamera Ferrari.
Saat melihat foto-foto tersebut, kulit kepala Vindra seakan mati rasa. Sepertinya dia benar-benar mabuk dan melakukan yang tidak seharusnya dilakukan.
Ambar mengeluarkan sesuatu dari kotak laci dan melemparnya ke depan Vindra. "Apakah kamu melihat kotak Duls ini? Baru dibuka, totalnya ada sepuluh dan sekarang sisa sembilan. Jika kamu tidak menggunakannya, apakah aku yang menggunakannya untuk mainan sendiri? Juga pakaian mu dan pakaianku, kamu yang melepasnya dan ditinggalkan dikamar mandi, tapi aku sudah mencucinya. Kamu memiliki bekas luka di betis mu, luka pisau dibahu mu dan aku juga tahu kira-kira ukurannya..." ucap Ambar sambil melirik sesuatu dibalik selimut Vindra.
"Ambar jangan katakan itu." Sela Vindra yang sedikit malu. Kata-kata Ambar dapat membuktikan jika sudah terjadi sesuatu diantara keduanya, jika tidak bagaimana Ambar bisa mengetahuinya.
Ambar mengeluarkan surat perjanjian pada Vindra. "Dan aku juga punya ini. Mulai sekarang kamu adalah orang yang aku dukung. Aku tidak akan membatasi pekerjaan dan hidupmu. Kamu hanya butuh perlu menemaniku tiga kali dalam sebulan untuk menemani makan dan belanja dan setia pada hubungan kita."
__ADS_1
Vindra hanya bisa membuka sedikit mulutnya, dia benar-benar tidak ingat jika sudah menyetujui perjanjian yang dibuat.
Minum anggur adalah kesalahan, dan Vindra berjanji tidak akan menyentuhnya lagi. Kalau tidak dia tidak akan tau apakah dia akan menjual dirinya sendiri.
"Bagaimana? kesepakatan ku jauh lebih baik dari kesepakatan yang diberikan keluarga Gultom padamu kan?" Ambar pindah duduk di sofa.
"Ambar aku minta maaf. Aku terlalu banyak minum tadi malam."
"Orang dewasa tidak perlu minta maaf, hanya perlu tanggung jawab." Ambar menatapnya dengan penuh minat.
Vindra menghela nafas, kemudian mengangguk lagi dan lagi. setelah itu tiba-tiba ponselnya berdering. Vindra buru-buru mengalihkan perhatian dan mengangkat panggilan teleponnya.
Segera suara manis dan renyah terdengar di telinganya.
"Vindra, penerbanganku pukul enam tiga puluh sore, kamu harus ke bandara untuk menjemput ku. Ingat jangan sampai terlambat."
"Oke, aku akan menjemputmu."
"Ambar, ada sesuatu yang harus aku tangani, jadi aku harus pergi dulu." Vindra meninggalkan Ambar ke kamar mandi dengan menggunakan selimut untuk membersihkan diri. "Jangan khawatir aku akan bertanggungjawab."
Setelah membersihkan diri, Vindra ingin segera meninggalkan apartemen Ambar karena rasa malu. Vindra juga butuh waktu untuk menenangkan diri.
Dibelakang Ambar membuntuti Vindra sampai ke pintu. Vindra yang sudah keluar beberapa langkah dari pintu berbalik lagi saat mengingat sesuatu untuk melihat wanita yang sudah membuatnya hampir gila. "Tidak, aku hanya minum beberapa botol saja tadi malam, dan kotak itu bukan aku yang membelinya. Itu artinya kamulah pelakunya."
"Persetan." Ambar langsung tersipu, dan segera mengambil sandal untuk memukul Vindra. Vindra segera berlari dan menuju ke lift.
Setelah keluar dari apartemen Ambar, Vindra sedikit lebih tenang. Dia segera mengambil ponselnya dan melihatnya, seketika dia menjadi tegang.
Ternyata panggilan itu dari Teffani.
Vindra tidak menyangka dirinya menjawab panggilan telepon Teffani dengan tergesa gesa dan menyetujui permintaannya.
__ADS_1
Vindra ingin segera kembali ke klinik, sebelum dia memenuhi janji untuk menjemput Teffani. Dia ingin memanggil taksi, namun sebuah mobil Mercedes Benz tua berhenti di depannya.
Ketika pintu dibuka, Muncul sosok Robi sambil tersenyum." Tuan Vin, aku datang untuk menjemputmu."
"Romi, bagaimana kamu ada disini?"
Vin menatap Romi dengan heran, dan melihat luka di kakinya. "Kenapa ku tidak tinggal dirumah sakit saja dulu?"
"perawatan dokter sangat baik dan aku juga diberi obat terbaik, dan sebentar lagi aku akan sembuh. Jangan khawatir aku tidak papa, walaupun kakiku seperti ini aku tidak akan menjadi pembunuh jalan.
Vin mengerti alasan Ambar meminta Romi untuk menjemputnya, karena dia takut dirinya akan mabuk seperti tadi malam dan dia tidak bisa menemani sepanjang waktu, jadi dia meminta Romi untuk keluar dari rumah sakit dan menjaga Vindra.
"Wanita itu benar-benar tidak waras." gumam Vindra. Ambar adalah orang kedua selain ibunya yang selalu membuat perasaannya hangat.
Vindra melangkah maju dan memeriksa Romi untuk memastikan kondisinya, setelah mengetahui Romi baik-baik saja, Vin pun setuju dan mereka segera pergi bersama.
Sepanjang jalan dengan semangat bercerita tentang hal-hal sepele saat berada dirumah sakit, dan dia mengatakan jatuh cinta dengan seorang perawat muda. Kemudian dia menunjukkan ekspresi serius. "Tuan Vindra, kamu sangat terampil, bisakah kamu mengajariku seni bela diri? Aku ingin berlatih."
Kejadian dirumah sakit membuatnya dirinya seperti tidak berarti, menjaga dirinya saja dia tidak bisa, bagaimana dia bisa menjaga orang lain.
"Apa?! kamu ingin belajar bela diri? ini sangat sulit. Tidak seperti yang kamu bayangkan."
"Aku tidak takut." jawab Romi sambil menegakkan dadanya. " Ketimbang mata yang membutakan dan penghinaan orang lain, Apa artinya kesulitan? Aku hanya takut jika aku tidak bisa lagi berkerja."
Melihat semangat Romi, Vindra pun setuju. "Oke, setelah kamu sembuh aku akan mengajarimu beberapa metode beladiri yang cocok untukmu. Jangankan satu banding sepuluh, satu banding seratus tidak tidak akan jadi masalah."
"Terimakasih tuan Vindra, aku janji tidak akan mengecewakan kami, aku akan menjadi lelaki yang kuat." Jawab Romi dengan semangat.
Saat Romi sedang bicara, tiba-tiba dia melihat mobil yang keluar dan mundur dengan sembarang. Romi buru-buru menginjak rem, namun karena posisinya terlalu dekat Mercedez Benz itu tidak langsung berhenti dan kecelakaan pun tidak bisa dihindari, walaupun tidak terlalu kencang tapi beberapa bagian mobil mengalami kerusakan.
To be continued 🙂🙂🙂
__ADS_1
👉 Yang pengen Double Up jangan lupa kirim hadiahnya yang banyak dan nonton iklan buat semangat otornya ya.ðŸ¤