Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 92. Tidak ingin membunuh


__ADS_3

"Kakek kenapa dia begitu kuat?" tanya Susi saat membawa kakeknya pindah ke ruang tunggu.


"Aku pikir dia hanya bisa melakukan pengobatan saja." imbuh Susi dengan rasa penasarannya.


Sebelumnya, Susi masih ragu untuk menyematkan kata tuan untuk memanggil Vindra, karena dia yang masih tidak terima dengan kekalahan yang dia dapatkan, selain itu Susi masih ragu untuk memanggilnya tuan. Namun setelah melihat semua kejadian di depan matanya dan menunjukkan kekuatannya, membuat Susi tidak ragu lagi untuk memanggilnya tuan.


Kakek Dewa tetap tenang, dan dia tersenyum pada cucunya." Keterampilan medisnya sangat bagus, itu menunjukkan banyak pemikiran, dan memiliki seni beladiri itu hal normal, makanya kakek tidak heran."


"Sudahlah jangan dibahas lagi, minta semua orang untuk membersihkan tempat kejadian dan memblokir berita malam ini. Terutama soal jurus Vindra. Dia tidak punya pilihan selain bergerak, dan buru-buru pergi setelah dia bergerak. Itu artinya dia tidak ingin ikut terlibat dalam masalah ini." lanjut kakek Dewa.


"Aku mengerti kek."


"Walaupun kita tidak bisa menyebutkan namanya dalam kejadian malam ini, tapi jangan pernah melupakan kebaikannya. Setelah ini, pindahkan tanah Kota antik dengan namanya. Grup Kiko menolak memberikan 50% saham. Tapi tanah kota antik ini dia tidak boleh menolaknya." Kakek Dewa ingin menjalin ikatan dengan Vin.


"Baik kek, aku akan mencarinya besok. Kalau dia tidak mau menandatanganinya, aku akan memaksanya sampai menangis."


"Kita harus melakukan ini, dan mengikat grup Kiko sebanyak mungkin. Selain itu karena dia sudah menyelamatkan aku dan seni beladiri dan juga keterampilan medisnya dia layak untuk terikat persahabatan dengan keluarga Marlin.


Susi menepuk kepalanya sendiri, "Sepertinya bajingan itu bisa melihat harta Karun. Jika dia tidak memiliki penglihatan yang cukup kuat dengan empat harta Karun itu, bagaimana dia bisa mengetahui masalahnya dengan sekilas."


Mata kakek Dewa berbinar, lalu dia menepuk pindah Susi dan tersenyum, "Jika kamu bisa, kakek berharap kamu bisa menikah dengannya."


"Kakek, apa yang kakek bicarakan? dia adalah pria yang sudah menikah, dan aku tidak tau menjadi bagaimana bersikap menjadi yang muda." Setelah bicara, dia segera pergi karena merasa malu.


"Pernikahan juga bisa di ceraikan," ucap kakek Dewa sedikit berteriak pada cucunya.


Kakek Dewa tersenyum tipis lalu memandang ke arah jendela sambil meletakkan tangannya di punggung, "Vindra, apa pendapatmu tentang dia?


Setelah dia berucap seorang pria muda berpakaian hitam muncul.


"Kuat."

__ADS_1


"Bagaimana, apakah dia lebih baik darimu?" tanya kakek Dewa.


"Aku tidak tahu," jawab Johan Marlin dengan dingin.


"Tidak tau" ulang Kakek Dewa dengan sedikit penasaran.


" Keterampilan membunuhnya sangat kuat, Namun kurang pelatihan dan dan pertarungan yang nyata, yang tidak sebagus diriku. Tapi kecepatan dan kesadarannya setengah lebih baik dari aku. Itu


artinya, tubuhnya tidak kuat tapi ranahnya baik, selama tubuhnya masih bisa bertahan dia akan terus bisa menerobos. " Jelas Johan kata demi kata.


"Kamu harus menghargai dia seperti ini. Kerena aku sudah menjalin persahabatan dengannya."


"Oya, Vindra mengatakan aku dan susi mengalami radang baru-baru ini. Sangat mungkin seseorang menaruh radiasi di rumah. Selain itu aku memiliki kelabang yang tersembunyi di dalam tubuhku saat itu, dia curiga bukan aku yang memakan telur kelabang itu, tetapi seseorang sengaja meletakkannya. Sama seperti Ambar, aku juga memiliki catur yang dibeli Raul Draco. Pergi, cari tau dan bunuh! " perintah kakek Dewa.


Johan Marlin, sedikit menunduk dan mundur untuk segera menjalankan perintah.


*


*


*


Meskipun bau mesiu masih tersisa dua tubuhnya, tapi Vin tetap tenang.


Romi melihat darah di baju Vin, namun dia tidak banyak bertanya. Segera dia mengambil kunci mobil untuk segera pergi.


Tiba-tiba terlihat bayangan yang seketika berlutut di depan Vindra dengan menjatuhkan diri, dia adalah Martin.


Vin mundur satu langkah, "Martin apa yang kamu lakukan?"


Tangan Martin masih patah, bajunya sangat kotor dan kanker hati yang menyiksa.

__ADS_1


Martin menghela nafas sebelum dia bicara. "Vin, aku tau kamu membenciku. Jadi aku tidak akan mengatakan hal apapun yang tidak berguna. Aku mencarimu dan berlutut kepadamu untuk membuat kesepakatan."


"Kesepakatan?!"


" Bantu aku membunuh Wiliam dan Regina dan aku akan memberikan semua kekayaanku senilai tiga puluh milyar untuk mu." Martin


tau satu-satunya yang bisa membunuh mereka saat ini hanyalah Vindra.


"Tiga puluh milyar. Bunuh Wiliam dan Regina."


Vin memandang Martin ringan, "Apa kamu sedang bercanda? Jangankan tiga puluh milyar, ratusan milyar pun aku tidak akan membunuh."


Martin terkejut, "Apa kamu tidak membenci Regina?"


"Benci, tapi sekarang dia tidak melanggar hukum untukku, jadi aku tidak akan melanggar hukum untuknya. Selain itu aku masih harus melakukan sesuatu. Asal kamu tau, target pertamaku adalah kamu, tapi kamu membawanya pergi dari awal." Jawab Vin dengan dingin.


Martin memundukan kepalanya, ekspresinya menyakitkan, tapi dia tidak tau harus bicara apa. Dia pun menjambak rambutnya sendiri dan berteriak, "Aku benci, aku benci mereka, aku ingin membunuhnya."


Vin berjongkok dan menepuk pundak Martin, dia bisa merasakan rasa sakit yang saat ini Martin rasakan, saat wanita yang dia cintai di rebut orang lain. Rasa yang sama saat Regina di rebut dari tangannya. namun Vin menganggap itu semua adalah masa lalu, membenci Martin yang sekarat pun tidak ada gunanya lagi. "Aku tahu kamu merasakan sakit dan sangat marah, tetapi kamu tidak perlu menggunakan tanganku untuk membunuh orang. Walaupun Wiliam sangat kuat, tapi harimau juga kadang tidur, Kamu paham kan?" ucap Vin dengan lembut.


"Aku juga ingin..." Mata Martin berbinar sebenar, lalu dia menggelengkan kepalanya dengan sedih.


"Jangan katakan aku bukan lawan Wiliam, tapi bahkan jika aku bisa melawannya, aku tidak punya kekuatan. aku memiliki kanker hati stadium lanjut dan di vonis aku bisa bertahan satu bulan saja. " Martin sangat putus asa.


"Aku tidak bisa balas dendam. Aku tidak bisa." Marin benar-benar putus asa saat ini.


Seketika Vin menusukkan jarum perah di tubuh Marin dan menuliskan resep untuknya. "Aku sudah melakukan akupuntur padamu, rasa sakit mu akan hilang 80% dan kekuatanmu 50% lebih banyak dari sebelumnya. Ambil resepnya di klinik dan kamu bisa bertahan hidup tiga bulan lagi. "


"Tiga bulan itu lebih dari cukup, untuk melakukan banyak hal."


Vin menepuk pundak Martin. "Tiga puluh milyar, kamu bisa mempersenjatai dirimu sendiri." Setelah bicara dengan martin, Vin segera membawa Romi untuk segera pergi.

__ADS_1


Martin sangat terkejut, kemudian matanya bersinar. Dia pun mengepalkan tinjuannya.


To Be continued ☺️☺️


__ADS_2