
Keesokan harinya, Vin bangun lebih pagi, setelah berlatih, Vin terkejut saat mengetahui kekuatannya kini sudah naik ke tahap dua, namun dirinya belum bisa memastikan antara kecepatan atau kekuatan karena keduanya berada di level yang sama. Vindra berharap, dia segera memasuki tahap ke tiga agar dia bisa menggunakan jarum akupuntur semaksimal mungkin.
Setelah selesai sarapan, Vin ingin menanyakan keberadaan Ivana, namun lebih dulu Romeo Wiguna menghubungi.
"Vindra, kamu dimana?"
"Di rumah. Ada apa kak? Apa ada masalah lagi dengan farmasi Star?"
"Tidak, tidak, Star farmasi baik-baik saja. Resep putri malu yang kamu berikan telah di uji, dan hasilnya mampu menyapu semua produk kecantikan dipasaran. Aku tidak berani mengatakan sepuluh tahun lebih muda, tapi setidaknya lebih dari lima tahun. Kakakmu Dewi berfikir, bahwa jika produk putri malu sudah di keluarkan, pasti akan meledak di pasaran. Kakakmu memutuskan untuk menunda kehamilan selama setengah tahun, hanya untuk melihat keajaiban putri malu. Sepertinya setelah aku menyerahkan perusahaan kepadamu dan menghilangkan keraguan padamu. Itu adalah keputusan yang tepat, haha."
Tawanya sangat bahagia, tindakan tidak sengaja telah melahirkan produk yang luar biasa dan mengantarkannya pada keuntungan milyaran.
Ditengah-tengah tawa Romeo, Vin bertanya-tanya, kebahagiaan seperti apa lagi yang akan mereka ekspresikan saat mengetahui bahwa dirinya masih punya resep kecantikan ajaib.
"Oya, aku hampir lupa, sebelum aku menghubungi mu untuk membahas farmasi Star, aku mendapat informasi paman, kalau ibunya di racuni dengan obat. Bisakah kamu mendetoksifikasinya?"
"Apa ibunya Piter Santoso?"
__ADS_1
"Iya, tepat sekali." jawab Romeo sambil memukul pahanya. "Saat ini dia mencari perawat medis, tapi dokter berpengalaman pun angkat tangan."
Vin terkejut, dan merasa ada kesempatan saat Romeo mengatakan jika Piter Santoso mencari dokter ahli.
"Aku hanya ingin tahu apakah keterampilan medis mu bagus? Aku hanya ingin kamu mau membantu memeriksanya."
"Baiklah aku akan segera pergi ke sana." Jawab Vindra
Setelah menutup panggilan dari Romeo, Vin mendapatkan panggilan dari Dominic, Jack Mars, Dokter Mega dan yang lain-lain. Mereka semuanya mencari Vindra dan memintanya untuk mengobati ibunya Piter Santoso.
Beberapa saat kemudian, Vin sampai di rumah sakit, dan melihat banyak mobil mewah, bahkan para dokter dari rumah sakit kemarin.
"Vindra akhirnya kamu datang juga." Romeo segera menyambutnya dan menepuk pundaknya.
"Apa pasien dalam kondisi serius?" tanya Vindra.
"Sangat serius. Lebih dari lusinan medis bertindak bersamaan, namun tidak ada satupun yang berhasil mengendalikan penyebaran racun. Pasien dalam keadaan koma satu jam yang lalu." jelas Romero dengan wajah serius.
__ADS_1
"Saat ini tuan Santoso sangat cemas. Kami juga mengundang ahli pengobatan tradisional dan dia akan datang."
"Apa racunnya cukup rumit?'
"Toksinnya tidak keras, tapi tidak bisa dibersihkan. Pasien koma dan polisi mengintrogasi tersangka, tapi tidak tahu."
Vindra segera mengerti, yang dimaksud tersangka yaitu ibu mertuanya. Vin tidak memiliki perasaan yang baik dengan Miranda Bakti dan perasaannya terhadap keluarga Gultom semakin rendah. Tapi Sifa, dia masih ingin ibunya di bebaskan.
"Aku akan mendetoksifikasi pasien sesegera mungkin." jawab Vin membuat Romeo terkejut.
"Apakah kamu kenal tersangkanya?"
"Dia adalah ibu mertuaku." jelas Vindra.
"Ah." Romeo sangat terkejut, lalu dia memanggil dengan cepat dan membawa Vindra segera untuk melihat pasien.
To be continued 🙂🙂🙂
__ADS_1