Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 167. Terjebak 2


__ADS_3

*Di Hotel Mandala*


Sifa jatuh di atas kasur king size dengan lembut. Kepalanya pusing, kesadarannya kabur dan dia tidak punya kekuatan untuk melawan.


Fendi berdiri di salah satu sudut dan mengeluarkan tripod juga kamera. Hobinya yang suka dengan fotografi, membuat Fendi lebih mudah menentukan sudut kamera yang bagus, agar bisa mengambil gambar dari sudut yang luas dan bisa merekam seluruh area ranjang.


Setelah menyiapkan kamera, Fendi mengambil segala air dan memasukkan pil putih didalamnya, dan memaksa Sifa untuk meminumnya.


Tidak lama, Sifa mendengus dan perlahan membuka matanya. "Fendi kamu bajingan..." Teriak Sifa yang mulai sadar namun seluruh tubuhnya masih lemas.


"Sifa, kamu sudah bangun? Ah, kamu terlihat cantik dan seksi." Melihat Sifa yang mulai sadar, Fendi berjalan mendekati.


"Apakah kamu tahu? kamu berbaring di atas ranjang ini adalah suatu maha karya yang sempurna. Kaki, tangan, tubuh dan wajah ini semua terlihat sempurna. Jangan khawatir aku akan mencintai kamu dengan baik, dan aku pastikan tidak akan menyakiti kamu sama sekali."


"Bajingan." Sifa sangat marah dengan kata-kata Fendi yang terus terang, dia ingin melawan namun tiada daya.


"Bajingan, jika kamu memperlakukan aku seperti ini, apa kamu tidak takut Keluarga Gultom akan balas dendam?"


Fendi tersenyum jahat, "Selama kamu bersamaku, aku tidak perduli apapun. Selain itu paman dan bibi memiliki kesan yang baik terhadapku. Mereka akan sangat senang melihat aku memiliki hubungan denganmu dan mereka tidak akan mengeluh. Adapun kamu... Setelah ini tidak akan ada pilihan selain menikah denganku."


"Menikah denganmu? Jangan mimpi." Sifa berteriak. "Aku akan menuntut mu agar kamu masuk penjara."


"Menurutku."


"Dengan status paman dan bibi, ditambah status keluargaku yang terpandang, polisi tidak akan mengurus masalah ini. Selain itu sama saja kamu mengumumkan kepada publik, dan menyatakan bahwa kamu diperkosa olehku, bukankah itu akan menunjukkan pada mereka kalau kamu adalah wanita kotor dari keluarga Gultom. Itu artinya kamu akan mempermalukan keluarga Gultom. Selain itu jika kamu menuntutku aku akan menuntut mu juga dengan tuduhan kamu mencoba menjebakku karena menginginkan aset yang aku miliki. Aku juga akan meminta para klien untuk bersaksi jika kamu melakukan konspirasi terhadap ku. Akibatnya tidak akan ada yang bisa membongkar kebenaran. Aku kehilangan wajah aku tidak perduli, tapi kamu reputasi mu akan hancur."


Fendi menghancurkan kekuatan Sifa "Apa kamu akan mempermalukan dirimu sendiri? Apakah kamu juga ingin mempermalukan keluarga Gultom? Sifa berhentilah melawan, jadilah wanitaku yang patuh, percayalah kamu akan bahagia." Fendi berdiri depan Sifa dan mulai melepas kancing bajunya sambil menunggu obat itu bereaksi.

__ADS_1


Sifa mengempal tinjunya, dia ingin melawan namun sayangnya tidak ada kekuatan sama sekali. Namun saat itu ada reaksi aneh dalam tubuhnya. Dia berusaha menggigit lidahnya untuk mempertahankan kesadarannya.


"Fendi, kamu berani menyentuhku, aku akan pastikan kamu mati." Pada saat ini wajah dingin Sifa mulai berubah kemerahan, keningnya berkerut dan keringat mulai membanjiri tubuhnya.


"Sifa apakah kamu ingin aku naik?" Fendi mulai menangkap perubahan Sifa, namun masih berpura-pura sopan.


"Fendi kamu... Tinggalkan aku..." Sifa berusaha membuat suaranya stabil mungkin. "Aku bersumpah, kamu berani menyentuhku aku akan membunuhmu."


"Sifa aku sangat mencintaimu."


Fendi menatap Sifa dengan tajam. "Aku tidak mengerti, kamu bercerai dengan sampah, tidak hanya tidak mau menikah denganku kamu juga memutuskan hubungan denganku."


Sifa berkata dengan susah payah. "Maksudmu?"


"Ya, aku yang menjebakmu di bar waktu itu, dan aku berpura-pura menyelamatkan bibi. Tapi aku melakukan itu semua karena aku mencintaimu. Jika aku tidak mencintaimu, untuk apa aku melakukan hal-hal itu? Bisakah kamu memiliki rasa dihatimu untukku? atau kamu masih merindukan sampah itu?"


"Aku akui penampilan Vindra sangat mengejutkan aku. Menjadikan Ambar Wijaya sebagai loncatan. Tapi bagaimanapun juga dia hanya harimau palsu. Dia tidak memiliki latar belakang ataupun masa depan. Cepat ataupun lambat dia akan di tendang Ambar Wijaya. dan aku yang memiliki kekayaan miliaran akan membuatmu kaya seumur hidup."


Fendi mulai bersikap galak. "Kamu memikirkan Vindra, apakah otakmu masih waras?"


"Itu tidak ada hubungannya dengan yang ada di otakku. Bagaimanapun, di hatiku, kamu tidak bisa menyandingi jari Vindra. dibanding Vindra, kamu jauh tidak berguna. Aku memandang mu rendah sampah."


Fendi pun menjadi marah dengan penghinaan Sifa dan langsung menamparnya. Lima sidik jari langsung membekas di wajah cantik Sifa.


"Siapa yang kamu bilang sampah?" Fendi seperti orang kesurupan menjambak rambut Sifa dan berteriak. "Katakan padaku Vindra adalah sampah."


Sifa memuntahkan seteguk darah, lalu menatap Fendi " Kamu adalah sampah."

__ADS_1


"Aku akan memberitahumu apa itu sampah." Fendi merobek pakaian Sifa dengan ganas seperti serigala.


Sifa berusaha mundur dan terpojok, dia memberontak dan berteriak. Tanpa sengaja tangan kirinya menyentuh menyentuh lampu.


Bang...


Sekuat tenaga Sifa memukul kepala Fendi dengan lampu tidur hingga lampu itu pecah dan dari kepala Fendi mengalir darah segala dan langsung membuat penglihatannya kabur.


"Berani sekali kamu memukulku. Aku akan membunuhmu." Fendi benar-benar frustasi dan langsung mengangkat tangan dan menampar Sifa langsung hingga pipinya bengkak.


Fendi mencekik leher Sifa dan membuat Sifa sulit bernafas, merasakan seperti dia akan mati.


Braakkkk....


Pada saat ini, suara keras, pintu ditendang hingga terbuka.


"Fendi apa kamu Ingin mati?"


Fendi yang gila terkejut dan tanpa sadar menoleh ke arah pintu.


Meski ruangan remang-remang, tapi masih bisa melihat dengan jelas, sosok pria tinggi yang ada diambang pintu.


Sifa merasa familiar dengan sosok itu, yang sama saat dia di bar waktu itu, menendang pintu sama persis dengan saat ini.


"Vindra..." Sifa berteriak tanpa suara.


To be continued 👍👍👍

__ADS_1


__ADS_2