
Miranda nampak tertegun, dan sedikit linglung saat menatap Vindra yang nampak tenang.
'Apakah dia menantu sampah?' pertanyaan didalam benaknya.
Sifa juga bergumam pada dirinya sendiri." Jadi, dia benar-benar tahu cara menyembuhkan?"
Ambulans datang dengan cepat dan segera memeriksa gadis kecil itu apakah sudah keluar dari bahaya.
Keluarga gadis kecil itu ingin membawa gadis kecil itu kerumah sakit untuk observasi, namun Vin mengatakan mereka tidak perlu pergi, mereka hanya butuh menebus dua resep dan putrinya baik-baik saja.
Vindra tahu keluarga gadis itu bukan orang kaya, setidaknya jika mereka tidak pergi ke rumah sakit itu akan menghemat biaya.
Setelah membantu putrinya melewati masa kritisnya, pria itu percaya dan menuruti perkataan Vindra, lalu dia menebus dua resep dari Vindra dan membayar dua ratus ribu.
Melihat semua orang memuji Vindra dengan hormat, Miranda tidak nyaman dan tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak. " Kamu tidak ingin pergi untuk melakukan observasi putrimu, bagaimana kalau racun itu masih menyebar dan tinggal menunggu kematian?"
Sebelum Vindra dapat menjawab, pria itu segera mendekati Miranda dan menampar wajahnya sambil berteriak." Pergi dari sini! Pergi. Aku sudah melihat banyak bajingan, tapi aku belum pernah melihat wanita bajingan seperti kamu. Jika bukan karena dokter Vindra menyembuhkan putriku. Aku pasti sudah mencekik mu sampai mati."
Semua orang yang ada berteriak untuk mengusir Miranda dan keluarganya. Hal tersebut membuat Miranda panik dan mundur beberapa langkah.
Sebelum Miranda pergi dan berteriak. "Kalian semua biadab, sekelompok sampah. Mengabaikan rumah sakit hanya untuk klinik seperti ini.
Setelah aula medis kembali tenang, Vin meminta Billy untuk kembali merawat pasien dan membawa Sifa ke tempat peristirahatan di paviliun belakang.
Setelah mempersilahkan Sifa duduk, Vin menuangkan segelas air untuk Sifa, lalu pergi untuk mengambil obat. Dari mata Sifa tidak bisa disembunyikan kondisinya yang kelelahan dan menahan sakit.
Sifa memandang Vin yang g sedang sibuk. Dia selalu berfikir, jika Vin bukanlah orang yang terlalu tampan, tapi saat melihat wajahnya membuatnya nyamanan. Temperamennya yang acuh tak acuh dan tenang memberikan rasa aman.
Vin sudah menyelamatkan dirinya dua kali, saat di bar dan di hotel. Jika Vin tidak datang tepat waktu mungkin hidupnya akan berubah. mengingat penggunanya dimasa lalu, membuat Sifa merasa bersalah dan membuatnya menjadi sedih.
__ADS_1
"Aku akan mengobati kamu "
Kebrutalan keluarga gadis kecil itu membuat Sifa harus mengalami tendangan, tidak hanya mengotori baju dengan sepatu tetapi itu juga melukai perutnya yang membuat perut Sifa merah dan bengkak.
Vindra duduk di depan Vindra, kalau dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya." Biar Tiffani datang untuk membantumu menggosok obatnya."
"Tidak kamu saja." Jawab Sifa dengan cepat dan meraih tangan Vindra." Kamu adalah dokter, kamu pasti lebih baik dari pada Tiffani.
Vindra melirik tangan Sifa yang begitu langka memegang tangannya, dengan sedikit ragu akhirnya Vin pun mengangguk." Baiklah."
Setelah itu dengan hati-hati Vindra membuka sedikit baju Sifa dan segera mengoleskan obat racikannya dengan lembut.
Setelah memberi obat, Vindra segera pergi untuk mencuci tangan dan mengambil air panas. Dia mengambil handuk yang dibasahi dan diperas untuk kompres dan menyerahkannya pada Sifa. "Pergi dan berbaringlah di bangku dan kompres perutmu. Mungkin ini akan sedikit panas.
Sifa melakukan apa yang Vin katakan, dia berbaring miring dengan menutupi perutnya dengan kain kompres." Sepertinya keterampilan medis mu benar-benar bagus, aku sudah tidak merasakan sakit lagi, dan kemerahannya juga mulai memudar. Mengapa aku tidak menyadarinya dari dulu..." Dia menjadi malu setelah mengakuinya dan ada jejak menyalahkan diri sendiri. Dimasa lalu Vin mengatakan bahwa dirinya bisa menyembuhkan lebih dari sekali, tapi Sifa menganggap Vindra bicara omong kosong.
"Aku hanya tahu sedikit." Jawab Vindra tidak lagi meyakinkan. Dia menggelengkan kepala, "Aku hanya mengobati pasien ringan, bukan pasien yang serius."
Vin terkejut dengan pertanyaan Sifa dan dia berfikir untuk bicara dengan jujur.
Meskipun Ambar terlalu sibuk dan tidak ikut campur dengan hidupnya, tapi Ambar akan selalu datang setiap hari baik untuk mengantarkan makanan ataupun buah-buahan untuk dirinya. Tidak hanya mengurus dirinya, Ambar juga tidak segan untuk berkenalan dengan orang-orang yang bersama dirinya dan juga terkadang membantu menyambut pasien. Ambar juga menyatakan jika dirinya hanyalah wanita simpanan.
Vindra tidak tahu apakah dia mencintai Ambar Wijaya, tapi Ambar selalu ada saat dirinya membutuhkan.
"Haruskah aku senang kamu masih memata-matai ku, ataukah aku harus kecewa karena mantan suamiku bergaul dengan wanita lain." Senyum Sifa kaku,
dia merasa sedikit sedih.
Vindra tersenyum, "Aku hanya mantan suamimu."
__ADS_1
Sifa segera melepaskan kompresnya dan melemparnya ke dalam baskom kembali.
"Vindra ini kesalahan ku sebelumnya. Seharusnya aku tidak membecimu, tidak boleh meragukanmu dan tidak boleh menentangmu dari sudut pandang ibuku. Aku minta maaf atas semua kesalahanku, yang membuatmu kecewa. Aku juga ingin mengucapkan terimakasih karena kamu sudah menyelamatkan aku dari Leo Ederson dan Fendi. Jika tidak ada kamu yang datang menyelamatkan aku, mungkin hidupku sudah hancur." Sifa mencoba menekan kemarahannya pada dirinya sendiri.
"Vindra, kamu mengatakan jika aku tidak mencintaimu. Apakah kamu bisa memberiku satu kesempatan dan membiarkan aku mencoba jatu cinta padamu? Aku pasti akan melakukan yang terbaik dari sebelumnya." Sifa meraih tangan Vindra." Kali ini, hatiku bukan lagi batu."
Vindra terkejut dengan kata-kata Sifa, dan yang lebih mengejutkan lagi adalah sikapnya yang belum pernah dia lihat.
"Sifa, maaf, Vindra tidak akan pernah bersama kamu lagi."
Pada saat ini suara dingin datang dari pintu, dan Ambar Wijaya dengan cepat muncul. "Dia sekarang adalah laki-laki ku, kamu sudah tidak ada dihatinya lagi."
Saat bicara, Ambar membuang kontrak perjanjian yang sudah tidak diingat Vindra lagi.
"Vindra katakan padaku jika ini tidak benar."
Vindra menghela nafas," Itu benar."
Sifa bagai disambar petir, tangan dan kakinya gemetar." Kamu... apakah kamu benar-benar bersamanya?"
"Kamu bajingan." Tanpa sadar Sifa ingin menampar Vindra. Namun sayangnya tangan itu di tangkap Ambar dan langsung diremas pergelangan tangan Sifa.
"Nona Sifa, Vindra adalah laki-laki ku. Kamu bisa bertarung denganku jika kamu mau. Apa kamu tidak ingat bagaimana keluarga Gultom memperlakukan dia sebelumnya, bagaimana kamu melecehkannya. Karena itu sudah berlalu aku tidak akan mempermasalahkannya lagi. Tapi mulai sekarang aku tidak akan membiarkan kamu dan keluarga Gultom menggertaknya lagi. Jangan bicara tentang merampok... kamu dan Vindra sudah bercerai, jadi siapapun bisa mengambil hatinya."
Ambar menatap Sifa dengan dingin." Selain itu Vindra adalah pria yang baik, jika kamu tidak bisa menghargainya, tidak bisakah wanita lain yang menghargainya? Sifa kamu tidak bisa terlalu egois dan sombong.
'Ya, dia sudah menyerah.'
Sifa menarik tangannya dan berjalan terhuyung-huyung menuju kepintu. Dia kehilangan jiwanya dan Sifa melihat Vindra tidak mengejarnya.
__ADS_1
To be continued 👍👍👍