Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 176. Digigit Ular


__ADS_3

Dalam perjalanan kembali ke klinik CRISHAN, telepon Vindra berdering, dia meliriknya dan menemukan jika yang menelepon tak lain adalah Miranda.


Vindra mematikannya tanpa ragu-ragu.


Tapi ternyata Miranda tidak menyerah, dia masih berusaha menghubungi Vindra beberapa kali hingga akhirnya menyerah, namun setelah itu pesan singkat dikirim Miranda yang memarahi Vindra karena tidak memiliki hati nurani dengan menghasut dirinya dengan kedua putrinya. Miranda juga mengancam akan menghubungi posisi dan menuntut Vindra yang menculik Tiffani.


Vindra masih saja mengabaikannya, dan tidak ingin membujuk Tiffani untuk pulang, karena dia tau Tiffani sudah dewasa dan memiliki hak untuk mengambil keputusan.


Sesampainya di klinik, Vin melihat sebuah mobil ada didepannya, dan dia merasa tak asing dengan mobil tersebut.


Ternyata itu adalah mobil yang dibawa Miranda dan Mateo dan saat ini berada didepan klinik menunggu Vindra.


Vindra menyernyit, dia tidak menyangka mantan ibu mertua dan iparnya itu datang untuk bertemu dengannya.


Saat Vin sedang memikirkan bagaimana menyingkirkan mereka dari klinik agar tidak membuat masalah, Suara teriakkan mengalihkan perhatian.


"Tolong... tolong..."


Seorang pria berlari sambil membopong gadis kecil. Pria itu ingin membawa putrinya ke rumah sakit, namun saat melihat klinik CRISHAN pria itu mencoba membawanya sebelum terlambat, karena jika harus kerumah sakit dia harus menunggu sampai mendapatkan taksi.


"Dokter, tolong... putriku tiba-tiba jatuh, aku tidak tahu apa yang terjadi padanya." jelas pria itu yang saat ini berkeringat deras sambil menggendong putrinya yang berusia lima tahun.


Gadis itu kejang, sesak nafas, dan wajahnya menghitam. Sedangkan di tangannya masih memegang sisa es krim.


Segera para pasien yang antri, memberi jalan pada pria itu agar putri kecil itu segera mendapatkan tindakan.


"Apa yang terjadi padanya?" tanya Billy yang menghampiri.


" Aku pergi ke toilet taman, dan memintanya untuk menunggu di depan pintu. Saat aku masuk dia baik-baik saja dan masih makan es krim. Tapi saat aku keluar aku melihatnya sudah kejang. Tolong dia, tolong sembuhkan putriku."


Vin maju untuk memeriksa, dia memegang tangan gadis itu. "Dia digigit ular." Kemudian Vin mengangkat celana gadis itu dan menemukan bekas gigitan ular di kaki kirinya.


Pergelangan kakinya sudah merah dan bengkak, dan mulai menghitam, itu menunjukkan jika gadis itu saat ini dalam kondisi serius.


"Digigit ular?!" Pria itu mengguncang tubuhnya, dia tidak menyangka putrinya mengalami naas seperti sekarang.


"Dokter tolong selamatkan putriku, tolong selamatkan dia."


"Jangan panik." Vindra mencoba menenangkan pria itu.

__ADS_1


"Apakah kamu bodoh?" tepat saat Vindra ingin mengambil jarum perak, suara Omelan marah datang dari pintu.


"Putrimu digigit ular. Dia bukan dokter ahli, apa kamu ingin melihat putrimu mati lebih cepat? Dia hanyalah seorang menantu, dan sertifikat kualifikasi dia dapatkan dari jalur belakang. Jika tidak percaya, tanyakan padanya apakah dia pernah belajar medis? Jika kamu membiarkan dia mengobatinya sama saja kamu menyerahkan nyawa putrimu."


Vin menoleh dan melihat Miranda, Mateo dan beberapa orang masuk ke klinik dan membawa kotak p3k.


Billy marah dan ingin membantah perkataan Miranda, namun Vindra melambaikan tangan menghentikan Billy bertindak.


"Tidak perlu berdebat dengan orang seperti dia, lebih baik kita lihat lebih dulu."


"Vindra, meskipun kamu memiliki sedikit keterampilan medis, kamu tidak bisa menangani gigitan ular semacam ini, kamu tidak bisa menjadi pahlawan." tegur Miranda.


"Aku direktur klinik premiere, aku Miranda Bakti. Aku punya pengalaman menangani kasus semacam ini, setidaknya sepuluh kali dalam setahun. Tenang saja aku akan menyelamatkan putrimu."


Miranda mendorong Vindra menjauh dan kemudian mengenakan sarung tangan untuk memeriksa luka gadis kecil itu. "Jenis gigitan ini hanya bisa disembuhkan dengan pengobatan barat. Aku mengenal jenis ular ini dan kebetulan aku punya serum untuk mengobati gigitan ini."


Miranda segera meminta Mateo mengambil kotak obat uang lainnya yang terdapat serum anti bisa.


Mendengar Miranda adalah dokter di klinik premiere, pria itu pun bernafas lega. "Dokter Miranda terimakasih."


Miranda melambaikan tangannya dan mengatakan tidak perlu, dia pun segera mengobati luka gadis kecil itu.


"Bibi Miranda, anda terlalu ceroboh. Anda belum mengetahui kondisi gadis kecil itu dengan serum. Bagaimana kalau serum yang diberikan itu salah? Yang ada nantinya akan memperburuk kondisinya." ucap Vindra yang sudah tidak tahan lagi.


"Vindra kamu terlalu banyak bicara."


Mateo melotot." Bibi?! Bahkan jika kamu sudah bercerai dengan Sifa, seharusnya masih bisa menghormatinya dan memanggilnya ibu."


"Aku mengingatkan sekali lagi, untuk memperhatikan serum yang digunakan dengan tidak sembarangan, atau akibatnya akan fatal." ucap Vindra menegaskan.


"Diam!" bentak Miranda.


"Apakah kamu yang dokter atau aku yang dokter? Kamu hanyalah praktisi pengobatan yang baru belajar, kamu tidak punya hak untuk menanyaiku. Aku jauh lebih berpengalaman daripada kamu."


"Luka ini didapat dari gigitan ular hitam dan aku memiliki serum anti bisa ular hitam." Jelas Miranda.


Pria itu menatap Vindra dan berteriak. "Jika kamu tidak mengerti, jangan membuat masalah."


Vindra berusaha menjelaskan situasinya. "Dia tidak digigit ular hitam, tapi dia di gigit ular merah, yaitu ular yang memiliki bisa sangat kuat yang sebanding dengan king kobra."

__ADS_1


"Ular merah?"


"Dimana disini ada ular merah? Ular merah hanya hidup di gurun."


Vindra mengerutkan keningnya. "Percaya atau tidak, dia memang di gigit ular merah."


"Diam. Jangan bicara lagi, atau itu akan membuatmu terlihat lebih bodoh."


" Tunggu dan lihatlah, setelah aku memberikan serum ini, gadis ini akan baik-baik saja setelah sepuluh menit."


"Kamu akan menundanya." Teriak Vindra.


"Anak muda, jangan memprovokasi dokter Miranda, dia dokter senior, jauh lebih baik dari dokter abal-abal seperti kamu. Jika kamu tidak mengerti, jangan bicara lagi, itu akan menunda perawatan putriku. Hati-hati aku bisa menghancurkan klinik mu." Ancam pria itu.


Miranda melirik Vindra dengan penuh kemenangan, lalu menyuntikan serum itu ke tubuh gadis kecil itu.


Beberapa saat kemudian, wajah hitam gadis itu memudar, dan bibirnya mulai cerah dan sepertinya mulai membaik.


Pria itu dan yang lainnya bertepuk tangan atas keberhasilan Miranda. Namun Vindra malah mengerutkan keningnya dan melihat gelombang naik turun dada gadis kecil itu dan merasa ada sesuatu yang salah.


Vin segera mendekati gadis kecil itu dan memeriksanya.


"Apa yang sedang kamu lakukan? Apa yang ingin kamu lakukan pada putriku?"


Kemudian dia menatap Miranda." Dokter Miranda, kenapa putriku belum juga bangun?"


"Jangan khawatir, kita tunggu selama sepuluh menit, menunggu serum itu berkerja. Setelah sadar, hanya butuh satu suntikan lagi."


"Vindra, jika aku menyelamatkan gadis ini, kamu harus menyerahkan Tiffani."


Vindra tidak bicara, melihat wajah gadis itu semakin merah, Vin berbalik dan pergi ke taman tempat gadis kecil itu di gigit ular.


"Lihat, kamu bersalah kan? Apa kamu takut? Dibandingkan kamu, keterampilan medis ku jauh lebih baik..." ucap Miranda dengan bangga.


"Ah." Tiba-tiba gadis kecil itu kembali kejang, wajahnya menghitam, dan memuntahkan seteguk darah.


Hal tersebut membuat Miranda terkejut dan langsung membuatnya panik.


To be continued 👍👍

__ADS_1


__ADS_2