Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 62. Ingin Membeli Klinik Tua


__ADS_3

Setelah selesai makan. Vin meminta Romi membawanya pulang dan ia pun membuat janji dengan Romi untuk pergi melihat klinik yang rencananya akan dia beli. dan memintanya untuk menjemput esok hari pukul sembilan. Romi mengangguk paham dan setelah itu segera mengantar Vindra kembali ke rumah.


Sesampainya di rumah, Vin tak mendapati Sifa ada di rumah. Biasanya Sifa akan kembali antara pukul lima sampai tujuh malam namun sampai jam delapan malam belum mendapati Sifa kembali. Vin ingin menghubungi Sifa namun ia urungkan saat mendengar suara langsung sepatu yang mendekati kamar.


Vin melihat Sifa masih mengenakan stelan kerja, namun wajahnya terlihat merah dan tercium bau alkohol di nafas dan tubuhnya tak hanya itu Vin juga memperhatikan beberapa kerutan kemeja yang seperti di tarik seseorang.


Sifa yang melihat Vin pun langsung tersenyum. "Bagaimana kamu bisa kembali bersama dengan Romi?" tanya Sifa setengah mabuk.


"Dia bekerja denganku. Kenapa jam segini kamu baru pulang? tidak seperti biasanya. Apa kamu lembur? Apa kamu juga minum alkohol? tanya Vin.


"Iya, aku lembur untuk mengatasi masalah perusahaan dan akhirnya masalah terselesaikan. Aku hanya minum sedikit untuk merayakan keberhasilan dengan beberapa klien." Jelas Sifa.


"Apakah Fendi ada bersamamu?" tanya Vin, yang mencium parfum milik Fendi yang aromanya sama persis yang dia cium saat di restoran waktu itu.


Sifa terkejut, "Bagaimana kamu kamu tau aku bersama dengan kak Fendi?" tanya Sifa.


"Aku mencium aroma parfum dia di tubuhmu. Sifa apakah kamu tidak membencinya? Setelah apa yang sudah dia lakukan padamu? dan kenapa kamu malah minum bersama dengannya?" tanya Vin dengan kesal.


"Fendi mengenalkan aku dengan beberapa klien penting dan dia juga mentraktirku sebagai bentuk permintaan maaf. Lagian itu sudah berlalu, aku tidak mau masalah waktu itu mengganggu. Perusahaan membutuhkan pelanggan." Jelas Sifa.


"Lagian aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya." imbuhnya.


"Apakah setelah ini kamu bisa tidak berhubungan lagi dengannya?" Vin tidak ingin Fendi kembali berada di tengah-tengah hubungan mereka namun sayangnya Perkataan Vin membuat Sifa marah.

__ADS_1


"Aku sudah katakan padamu kalau aku tidak ada hubungan apapun dengannya. Sudahlah aku tidak punya kewajiban untuk menjelaskannya padamu. Sudahlah aku telah, tapi kamu malah mengungkit hal sepele seperti ini," ucap Sifa.


"Aku hanya ingin kamu tidak memiliki hubungan lagi dengannya. Apa itu salah?"


"Kalau aku tidak bertemu dengannya lagi, apa kamu bisa membantuku mencari klien untuk perusahaan ku. Tidak kan. Jadi jangan melarang ku. Lagian sebelum kamu meminta aku menjauh dari kak Fendi apa kamu sudah mendengarkan kata-kataku untuk tidak berhubungan lagi dengan Ambar." Dengan marah Sifa pun pergi ke kamar mandi bahkan meluapkan amarahnya dengan membanting pintu.


Sikap Sifa membuat Vin sangat sedih bahkan ia sampai melupakan untuk mengobati luka di punggungnya.


Keesokan harinya setelah selesai sarapan, Vin berencana untuk bicara baik-baik mengenai masalah semalam. Namun belum sempat buka pembicaraan, Sifa sudah di jemput oleh Fendi dan hal itu membuat Vin sakit hati. Namun untuk saat ini Vin masih berusaha menahan rasa sakit itu seorang diri.


Setelah pukul sembilan pagi, Romi datang untuk menjemput Vindra dan saat itu mereka segera pergi menuju ke klinik yang ingin dia kunjungi. Mereka membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai klinik. Vin segera mengedarkan pandangannya melihat klinik yang terlihat sudah tua dan sepi. Hanya ada sedikit penghuninya.


Tanpa sadari Vin,Ambar keluar dari dalam mobilnya. Dengan mengenakan kemeja putih dan rambut di kepang kuda, membuat Ambar terlihat sangat cantik dan terlihat menyegarkan. Ambar berdiri di samping Vin dan keduanya saling melempar senyuman.


"Bukankah kamu banyak hal yang harus di selesaikan? Kenapa kamu malah datang kesini?" tanya Vin.


"Untuk saat ini, aku akan banyak menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dan melihatmu membuka klinik ini dan menjadikan aku sebagai pasien pertamamu." Ambar meraih lengan Vin lalu menyandarkan kepalanya dikenangnya.


"Apa kamu sakit?"


Ambar menggelengkan kepalanya," tidak, aku sehat."


"Aku punya penyakit jantung yang selalu berdetak kencang saat berada di dekat kamu, dan aku juga sedang mabuk cinta setiap melihat senyumanmu,"R

__ADS_1


Rayu Ambar membuat bulu kuduk Vin langsung berdiri dan menjadi salah tingkah.


"Jangan di ambil serius, aku hanya bercanda tau. Ayo kita masuk kedalam dan lihat, apa yang nantinya perlu di renovasi."


Mereka pun segera masuk ke dalam dan melihat bangunan klinik yang sudah tua, Beberapa tempat sudah terlihat rusak parah, bahkan tempatnya begitu menyeramkan seperti bangunan kosong. Padahal di beberapa bagian masih di fungsikan.


Vin dan Ambar berkeliling dan melihat-lihat bangunan yang masih berfungsi. Mereka melihat Beberapa pasien lansia yang berjalan mondar-mandir. Melihat kedatangan keduanya ternyata menarik perhatian mereka.


Seorang wanita berbaju merah membawa termos menghampiri Mereka dan memberikan Secangkir kopi untuk keduanya.


"Dimana dokter Wisnu berada?" tanya Ambar yang mengenal dokter tersebut sebelumnya.


"Dokter Wisnu ada di belakang, sedang membawa cucunya jalan-jalan dan berjemur di bawah matahari. Mungkin sebentar lagi dia akan kembali. Kalian tunggu saja di sini." ucap wanita itu kalau pergi.


Vin kembali mengedarkan pandangannya dan memperhatikan setiap sudut bangunan tua itu.


"Dulu ini adalah klinik terkenal yang ada di kota ini dan saya pernah datang kesini saat masih kecil karena sakit. Klinik pengobatan tradisional ini sangat populer cukup lama bahkan dokter Wisnu sangat antusias untuk membantu para pasien. Namun suatu hari musibah datang menghampiri dokter Wisnu Putranya meninggal karena kecelakaan. Hal itu membuat dokter Wisnu terus diselimuti kesedihan dan tak ada gairah lagi untuk mengobati. Hingga akhirnya klinik ini mulai redup dan banyak pasien tidak lagi datang kemari." Jelas Ambar dan dengan antusias Vindra mendengarkannya. Ambar pun melanjutkan ceritanya.


"Aku dengar beberapa bulan yang lalu. Cucu satu-satunya dokter Wisnu yaitu Lusiana, tiba-tiba mengalami kelumpuhan di kedua kakinya. Saat di periksa ternyata cucunya mengalami atrofi otot tulang belakang . Itu merupakan penyakit neuromuskular yang fatal. Jika tidak di obati dengan efektif, Lusiana hanya akan bisa bertahan kurang lebih lima bulan. Karena alasan tersebut membuat Dokter Wisnu tidak bisa mengurus dirinya sendiri dan juga klinik, karena dia fokus untuk mengobati cucunya. Bahan dokter Wisnu membutuhkan banyak biaya karena obat yang harus ditebus cukup mahal. Dan itu alasannya kenapa klinik ini akan di jual." Jelas Ambar panjang lebar.


Vin merasa klinik itu sangat strategis. Jika Vin berhasil mengambil alih, maka dia akan merenovasi dan di aktifkan kembali.


Ambar menyarankan untuk menurunkan dari harga yang ditawarkan.

__ADS_1


"Berapa harga harga yang di tawarkan?" tanya Ambar. Vin ingin buka suara namun seseorang lebih dulu menjawab.


To be continued ☺️☺️☺️


__ADS_2