Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 154. Klarifikasi


__ADS_3

"Bagaimana kalian bisa melakukan ini?" teriak Tiffani penuh amarah.


Kemarahan Tiffani dipicu saat Johan dan yang lain memilih melepaskan hubungan dan membiarkan Vindra menyelesaikan sendiri.


"Dia sudah menyinggung tuan Raditya, dia ingin mati, tetapi kami tidak ingin mati. Tiffani lebih baik kamu menjauh darinya dan jangan terlibat dengannya." ucap Johan.


"Iya Tiffani, jika kamu tidak meninggalkan Vindra kamu juga akan hancur." imbuh Fina.


Raditya tidak segera mengambil tindakan, tapi membiarkan Fani dan yang lainnya mengungkapkan niat mereka dan membiarkan Vindra merasakan sakitnya pengkhianatan.


"Tinggallah kakak iparmu, aku tidak akan mempermalukan kamu. Kalau tidak kamu tidak akan pernah beruntung," ucap Raditya sambil tersenyum main-main.


Tiffani menggigit bibirnya. "Aku... aku...." Vindra menatap Tiffani dengan penuhi minat.


Tiffani menjadi pucat saat semua pihak mendesak. Dia merasakan tekanan dan keputusan yang tak terungkapkan. Tapi pada akhirnya dia tidak lari dari Vindra melainkan lebih mendekat.


"Aku tidak akan meninggalkan kakak ipar." jawab Tiffani dengan tegas saat sudah bulat dengan keputusannya.


"Baiklah, aku akan memenuhi keinginan mu." Raditya sangat menyesal dengan keputusan Tiffani dan dia pun mengambil botol anggur.


"Apakah kamu memiliki kemampuan." ucap Vindra tanpa komitmen.


Raditya tertawa, "Apa kamu bilang memiliki kemampuan?" Raditya tertawa penuh amarah dengan kejadian yang baru dialami. Bagaimana tidak, seorang menantu tanpa latar belakang sudah menamparnya tiga kali di depan kerumunan dan sekarang dia bertanya apakah memiliki kemampuan? Jika masalah ini tersebar, Raditya tidak akan memiliki wajah.


Vindra tidak takut sama sekali, dia malah duduk di atas meja dan menuang anggur ke dalam gelas untuk dirinya sendiri.


"Ayahmu sangat rendah hati, tetapi kamu begitu sombong. Tidakkah kamu takut saat dipermalukan?"


Mendengar kata-kata Vindra, Raditya murka. Dia mengusir semua orang yang ada di bar untuk keluar termasuk Johan dan yang lainnya.

__ADS_1


Karena setelah ini tidak ada yang boleh melihat dan tidak akan dilihat oleh mereka lagi.


Banyak orang menggelengkan kepalanya saat pergi keluar, berteriak jika Vindra menyia-nyiakan hidupnya.


Ketika Tesa di usir dia sangat marah. "Bajingan kamu ingin membunuh kami."


Vindra menepuk punggung Tiffani. "Pergilah bersama mereka."


Tiffani menggelengkan kepalanya tanpa ragu-ragu, dan menarik tangan Vindra lebih erat." Aku tidak akan pergi, aku ingin bersamamu."


"Ayo pergi. Aku baik-baik saja."


Vin berbisik ditelinga Tiffani. "Disini tidak ada sinyal, dan tidak ada gunanya kamu tetap disini. Ada kesempatan untuk menyelamatkan aku saat kamu ada diluar."


Melihat Tiffani tidak bicara. Vindra melirik Raditya." Jika kamu ingin menghabisi kami, pertama kamu harus habisi aku lebih dulu, batu kamu bisa menyelesaikan Tiffani."


"Menarik." Raditya melambai untuk membiarkan Tiffani pergi.


Raditya tidak segera melakukan tindakan apapun, dia membiarkan Vindra minum anggur lalu tersenyum. "Setelah kamu minum, aku akan membiarkan nyawamu keluar dari tubuhmu."


Beberapa teman-teman Raditya membawa botol-botol besar yang sudah kosong. Satu orang memegang dua botol. Tidak ada keraguan pada mereka untuk melenyapkan Vindra.


"Vindra, aku sarankan kamu jangan mengambil keuntungan dari siapapun, cepat berlutut dan memohon belas kasihan! Jika kamu berlutut mungkin tuan Raditya akan membiarkan kamu," ucap Grita dan beberapa teman wanita yang dibawa Raditya. Mereka memandang Vin dengan penuh penghinaan.


Namun Vin sama sekali tidak berlutut untuk memohon belas kasihan.


"Sebulan yang lalu, aku tidak berlutut di tempat ini." ucap Vin sambil meneguk anggur dalam satu tarikan nafas.


Raditya tersenyum dan menjatuhkan pemantik api, sepatu kulitnya mengetuk tanah, dan Nias sengit mengalir. " Vindra jangan melawan, dan jangan bersembunyi. Aku akan menghancurkan seratus botol anggur di kepalamu, setelah itu aku tidak akan mempermalukan kamu, entah itu hidup atau mati. Tapi jika kamu berani melawan, atau menghindarinya, maka aku akan menghancurkan kamu dengan seluruh botol anggur di bar ini."

__ADS_1


Ketika lusinan orang mencondongkan tubuhnya ke arah Vindra. Vin dengan ringan mengangkat tangan kirinya dan sebuah benda di jatuhkan di atas meja.


Suara renyah bergetar.


selusin pria saling memandang, tubuh mereka langsung kaku. Senyum tegas Raditya juga mandek, dia tidak bisa bergerak saat melihat lencana perintah Piter Santoso.


Raditya menatap Vindra dengan kaget, dia tidak bisa menerima adegan ini sama sekali. Semua yang berada dibawah kekuasaan Piter Santoso tahu bahwa lencana perintah Piter Santoso setara dengan kehendak Piter Santoso, tidak hanya memobilisasi uang, makanan, dan personel, tapi juga memiliki kekuatan hidup dan mati seseorang.


Bahkan otoritas Raditya tidak sebagus lencana perintah Piter Santoso, tidak perduli seberapa besar statusnya, itu tidak bisa mengalahkan aturan dan otoritas lencana perintah Piter.


Aditiya dan yang lainnya tahu, bahwa lencana perintah Piter ada di tangan ayahnya, yang berarti bahwa Vindra dan ayahnya memiliki hubungan persahabatan. Dia juga merasakan bahwa ayah nya sangat mementingkan Vindra, kalau tidak, ayahnya tidak akan membiarkan orang luar memegang lencananya.


"Siapa kamu?" tanya Raditya dengan sungguh-sungguh.


"Siapa aku?" Vin menuang segelas anggur lagi, mengambil dan menyesapnya." Aku menyelamatkan nenrkmu, dan aku menyelamatkan ayahmu. Menurutmu siapa aku?"


"Nenekku... Ayahku... kamu menyembunyikannya?" Raditya mengulanginya, lalu wajahnya berubah drastis." Apakah kamu Vindra? Dokter Vindra?" Meskipun Raditya suka mabuk dan bersenang-senang sepanjang hari, tapi dia masih tahu apa yang terjadi pada keluarganya, dia juga tahu siapa penyelamat nenek dan ayahnya.


Ayahnya pernah mengatakan padanya bahwa tidak peduli siapa yang di ganggu, ayahnya tidak bisa menggertak Vindra.


Dia tidak menyangka bahwa laki-laki yang akan dia habisi adalah dokter Vindra.


Sebelum yang lain bisa bereaksi, Vin mengeluarkan ponselnya dan menghubungi salah satu nomor lalu menekan pengeras suaranya.


Segera telepon itu terhubung, dan suara tawa serak dan menusuk terdengar. "Halo, tuan Vindra, selamat malam, apakah ada waktu luang sampai anda bisa menelepon ku?"


Begitu suara itu terdengar, wajah Raditya langsung pucat. Teman-temannya langsung menjatuhkan botol, dan keringat dingin langsung menembus bagian belakang. Mereka semua mendengarnya, itu adalah suara Piter Santoso.


"Tuan Santoso, maaf seharusnya aku tidak menggangu mu selarut ini. Hanya saja aku bertemu seseorang di Lintang Bar. Dia menyebut dirinya Raditya Santoso dan dia mengatakan jika dia adalah putra mu di depan banyak orang. Dia juga menyukai teman wanitaku dan dia memintanya untuk tinggal bersamanya semalam. Aku mengatakan beberapa patah kata dan menamparnya tiga kali, dan dia memerintahkan orang-orangnya untuk menghabisi ku dan memecahkan kepalaku dengan seratus botol anggur. Aku bertanya-tanya, bagaimana tuan Santoso bisa begitu bijaksana dalam mendidik putranya. Jadi aku ragu tentang identitasnya, jadi aku menghubungimu untuk memastikan." Jelas Vindra pada Piter Santoso.

__ADS_1


Kelopak mata Raditya terbelalak, tangannya mengepal tinju dia sangat marah, tapi dia lebih takut saat ini.


To be continued 🙂🙂🙂


__ADS_2