
Vindra meraih tangan Rahendra untuk menghentikannya. Vindra merasa hukuman Marcel sudah cukup dan tidak perlu menambahnya lagi.
Akhirnya Rahendra pun mengurungkan langkahnya dan kembali mundur, namun bukan berarti Marcel lolos begitu saja. Dia masih harus merasakan tendangan kaki ayahnya sebagai hukuman atas sikapnya.
Setengah hari berlalu, Tiger Wang pun mengadakan perjamuan untuk Vindra. Tiger juga mengesankan Vindra untuk menjadi konsultan Redblack dan memiliki status sama dengan Tiger wang.
Pada akhirnya, Tiger Wang meminta seseorang untuk membawakan sebuah tongkat kehormatan yang memiliki ukiran Naga dan burung Phoenix dan bertuliskan 'Melindungi Rumah dan Membela Negara.'
Tiger biasa menyebutnya sebagai tongkat pemukul. Tongkat itu merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan Redblack. Tiger belum menggunakannya jadi dia serahkan kepada Vindra.
Berulangkali Vindra menolak, namun Tiger dengan tegas mengeluarkan keagungan dan tekanan yang membuat Vindra tidak bisa lagi melakukan penolakan.
Hal unik dari tongkat Naga Phoenix itu bisa menyusut hingga seukuran jari telunjuk. Jadi Vindra bisa menyimpannya dengan mudah, sama halnya dengan pedang legenda yang bisa menyusut.
Sekarang Vindra telah memegang empat benda yang memiliki kekuatan yang luar biasa, Batu permata, pedang legenda, Batu giok, dan tongkat Naga Phoenix.
Vindra pun akhirnya meninggalkan kediaman Tiger Wang, Meskipun Vinda kini memiliki kekuatan dan kekuasaan di SB, tapi dia tidak memiliki banyak kebanggaan dalam hatinya,
Setelah menenangkan suasana hati, siang harinya Vindra kembali ke klinik dan membantu yang lain untuk menangani pasien.
Menjelang senja, dan klinik sudah tutup, Vindra pun akhirnya bisa merenggangkan otot tubuhnya sambil menikmati secangkir teh.
Tak lama suara manis dan renyah datang dari arah belakang.
"kakak ipar." panggil Tiffani.
Tiffani berjalan mendekat dan meraih lengan Vindra." Apakah kakak ipar ada waktu malam ini?" tanya Tiffani sambil tersenyum penuh harapan.
"Apa ada sesuatu?" Tanya Vindra.
__ADS_1
"Bagaimana pencarian pekerjaanmu?" tanya balik Vin.
Walaupun Tiffani tinggal di paviliun klinik, tapi mereka jarang bertemu, karena Tiffani selalu pergi lebih awal untuk mencari pekerjaan dan pulang lebih lambat membuat mereka jarang bertemu untuk mengobrol dan bertatap muka.
Vin tidak memperlakukan Tiffani seperti keluarga Gultom, membuat keduanya menjadi akrab seperti teman.
"Aku masih bekerja keras, dan setiap hari melakukan wawancara. Jangan khawatir aku ini cantik dan pintar, aku akan segera menemukan pekerjaan yang bagus." jawab Tiffani optimis walaupun belum mendapatkannya.
"Apa kamu tidak pergi ke perusahaan BBI Farmasi Star? Kenapa kamu tidak pergi kesana? Atau apa wawancaranya gagal?"
Awalnya Vin ingin membantu Tiffani, namun melihat karakter Tiffani yang keras kepala dan masih membutuhkan beberapa pengalaman, Vindra pun memutuskan untuk tidak membantunya.
Wajah cantik Tiffani langsung berubah saat mendengar kata-kata Vindra, dan kemudian dia cemberut.
"Aku ingin pergi ke perusahaan BBI, tapi secara naluriah aku merasa jijik saat memikirkan Johan ada disana, jadi aku memutuskan untuk tidak pergi."
"Kamu benar-benar plin-plan," ucap Vin sambil memukul kepala Tiffani pelan.
"Hah! Kenapa dia bisa mengundurkan diri?" Tiffani terkejut dan juga senang, namun kemudian dia menggelengkan kepalanya."Sayangkan aku sudah menyia-nyiakan kesempatan wawancara itu."
Vindra terkekeh pelan." Kirimkan saja resume mu lagi, siapa tahu masih ada harapan dan kamu bisa di terima bekerja di sana."
"Baiklah, aku akan memikirkannya nanti."
Tifani menepuk jidatnya yang hampir melupakan tujuan dia menemui Vindra.
"Apakah kakak ipar malam ini ada waktu?" Tanya Tiffani lagi.
Vindra pun mengangguk." Malam ini aku bebas."
__ADS_1
"Kalau begitu aku akan menjebakmu satu malam." Tiffani merasa senang. "Malam ini aku akan pergi ke pesta dan aku ingin membawamu bersamaku."
"Pesta lagi?" Vin melebarkan matanya dan kemudian dia menggelengkan kepalanya tanpa ragu." Aku ragu untuk pergi. Terakhir kali aku pergi bersamamu ada masalah, aku tidak ingin terjadi konflik lagi saat pergi. Lebih baik aku tinggal dirumah saja."
Ada bayangan di pikiran Vindra setiap datang ke pesta atau perjamuan pasti ada sesuatu yang terjadi. Dia takut ada masalah lagi jadi dia ingin menghindar sebisa mungkin.
"Malam ini ada pesta besar yang diadakan Reni. Aku tidak ingin pergi tapi aku tidak ingin mengecewakan Reni dan aku merasa lebih baik mengenal beberapa orang lagi. Jadi aku menyetujuinya untuk datang." Tifani menatap Vindra dengan sedih." Selain itu aku juga putri dari keluarga terhormat jadi tidak sopan jika aku tidak datang. Hanya saja jika aku pergi sendirian aku sedikit takut, karena banyak orang yang tidak aku kenal. Jadi aku berfikir untuk membawamu pergi ke sana. Jangan khawatir pesta ini bisa membawa siapa saja dan aku dengar banyak makanan enak disana."
Tiffani meraih tangan Vindra dan menjabatnya dengan lembut. "Kakak ipar, mau kan menemani aku? Aku janji ini untuk yang terakhir kalinya bulan ini..."
"Terakhir kali bulan ini, itu artinya masih ada bulan depan."Vindra pun menjawab dengan gusar. "Jangan pergi!"
Tiffani masih tidak mau menyerah, dia pun menempel pada Vindra." Kakak ipar kamu sudah lama menjadi saudara iparku. Jika kamu tidak menemani aku, dan jika terjadi sesuatu kepadaku apa kamu tidak merasa bersalah? Dan banyak wanita cantik di pesta itu, kamu telah bercerai dengan kakakku, itu artinya cepat ataupun lambat kamu akan memulai hubungan bai dengan wanita lain. Temukan saja wanita cantik di pesta nanti."
"Cukup, jangan lanjutkan. Baiklah kalau begitu aku akan pergi ganti pakaian dulu. Tapi sebelum pergi kamu harus janji, tidak perduli kamu menikmati pestanya atau tidak, kamu harus pulang sebelum jam dua belas malam." Vindra pun akhirnya menyerah, walaupun Tiffani keras kepala, tapi Vindra tidak ingin Tiffani mendapatkan masalah apapun.
"Apapun yang kakak ipar katakan aku akan menurut...." Jawab Tiffani dengan semangat.
Setelah keduanya bersiap dan ingin berangkat. Sebuah mobil melaju dan berhenti di dekat Vindra dan Tiffani.
Pintu mobil terbuka dan seorang wanita keluar dengan mengenakan kacamata hitam. Dia tak lain adalah Reni.
"Reni. Kenapa kamu ada disini?" Tanya Tiffani.
Vindra menyipitkan matanya, tanpa diduga Reni datang untuk menjemput Tiffani, seolah-olah dia khawatir Tiffani tidak ikut berpartisipasi dalam pesta.
"Tiffani apa yang kamu lakukan?" Wajah cantik Reni tenggelam saat melihat Teffani mendekatinya bersama Vindra.
"Jika kamu membawa dia, tuan Glen tidak akan senang..."
__ADS_1
...****************...