
Vin dan Ambar pun meninggalkan kediaman kakek Dewa dengan membawa dua cek dengan nominal yang cukup besar.
Di perjalanan pulang, Vin pun berbincang dengan Ambar masalah pekerjaan.
"Nyonya, bisakah nyonya membantuku mendapatkan pekerjaan yang cocok untukku? Sifa akhirnya memintaku untuk bekerja agar aku bisa menyibukkan diri dan tentunya punya penghasilan," ucap Vin, namun membuat Ambar tertawa.
"Tuan Vin, untuk apa tuan repot-repot lagi mencari pekerjaan, tuan sudah punya aset milyaran, Tuan bisa mengobati orang dan aku rasa dalam satu tahun sudah bisa menjadi kaya raya dan tak akan habis dalam sekejap." jawab Ambar sambil menggelengkan kepala melihat kepolosan Vin.
"Iya aku tau itu, tapi aku ingin lebih sibuk dalam pekerjaan, agar orang tidak curiga dari hasil uang yang aku miliki terutama Sifa, dia pasti akan mencecar dengan banyak pertanyaan yang tak tau harus aku Jawab apa."
Ambar pun berfikir sejenak, Kemudian sebuah ide muncul di benaknya, saat ingat bakat yang dimiliki Vin.
" Emmm, bagaimana kalau tuan buka klinik pengobatan medis akupuntur, setidaknya pasti akan mendapatkan banyak pasien yang ingin di sembuhkan. Aku rasa ideku itu bagus dan itu memang sangat cocok buat tuan." Saran Ambar.
"Tapi bagaimana aku aku bisa melakukan itu, Sifa tidak mengizinkan aku untuk mengobatinya orang lain lagi, dia akan marah jika tau aku masih melakukan itu dan selain itu juga aku tidak punya sertifikat kedokteran dan untuk bisa buka klinik." Jelas Vin ragu.
__ADS_1
"Tenang saja tuan aku akan membantu tuan untuk mendapatkan sertifikat kedokteran itu dan jika Tuan Vin mau membuka klinik biarkan aku yang mengurus semuanya. Tuan tinggal tinggal bicara pada istri tuan untuk menjelaskan alasan tuan membuka klinik. Kalau masalah itu hanya tuan yang bisa melakukannya karena dia istri tuan. Tapi kalau dia tetap tidak setuju, cara lainnya ceraikan dia, mudahkan." Saut Ambar
"Saat ini aku memikirkan bagaimana agar aku bisa bicara dengan Sifa baik-baik dan menjelaskannya, setidaknya agar tidak terjadi perselisihan antar pasangan, selama masih bisa di jaga."
Mereka pun akhirnya sampai di bank, dan Vin segera turun dari mobil Ambar.
"Terimakasih nyonya atas tumpangannya."
"Tuan Vin yakin, tidak perlu saya tunggu? saya tidak keberatan jika tuan meminta saya untuk menunggu." tanya Ambar meyakinkan.
"Tidak perlu nyonya, nanti saya bisa pulang mengunakan taksi. Saya tidak ingin merepotkan nyonya lagi untuk hari ini dan bukannya nyonya ada pertemuan yang harus di hadiri? Lebih baik Nyonya segera pergi sebelum terlambat. Sekali lagi terimakasih banyak, nyonya sudah banyak membantu hari ini." Vin pun membungkuk memberi hormat.
Setelah Ambar pergi, Vin segera masuk ke dalam bank, untuk mencairkan cek yang ia miliki, namun tak disangka Vin bertemu dengan Medina yang merupakan pegawai di kantor bank itu.
"Kamu! ngapain kamu masuk ke bank ini? Apa kamu sudah punya banyak uang? Vin- Vin. Lebih baik kamu ceraikan saja Sifa, dia sama sekali tidak cocok orang miskin seperti kamu, yang ada kamu hanya menambah beban buatnya. Lebih baik ceraikan dia dan biarkan dia mencari pendamping yang jauh lebih pantas dengannya." sindir Medina.
__ADS_1
"Maaf aku datang ke sini bukan ingin membahas masalah rumah tanggaku, tapi aku datang kesini untuk mencairkan cek yang aku miliki. Apa itu salah? Lagian aku punya uang atau tidak, itu tidak ada urusannya denganmu."
"Apakah aku bisa mencairkan cek yang aku miliki ini sekarang juga?" tanya Vin sambil menunjukkan nominal cek tersebut dengan maksud untuk membungkam Medina.
Medina melirik nominal uang tersebut yang membuat matanya terbelalak, namun ia tidak mudah percaya.
"Itu pasti cek palsu kan? mana mungkin kamu bisa memiliki cek dengan nominal sebesar itu." Tuduh Medina.
"Silahkan cek kalau kamu tidak percaya." Vin memperlihatkan cek tersebut, dan membuat Medina akhirnya percaya kalau itu cek asli.
"Bagaimana kamu sekarang percaya kan, kalau cek ini asli." Vin menarik kembali cek tersebut dari pandangan mata Medina.
"Ya memang cek itu asli, tapi aku tidak yakin kalau cek itu diberi cuma-cuma untukmu. Apa kamu mencuri cek dari keluarga Sifa? Ya, itu bisa jadi! Jadi ternyata selain miskin, kamu juga panjang tangan. Dasar pencuri." Ucapan Medina memancing kerumunan untuk mendekati Vin yang di anggap pencuri.
Pada akhirnya, kerumunan saling berbisik dan menyindir memojokkan Vin sebagai pencuri.
__ADS_1
Vin tak bisa berkata apa-apa untuk menjelaskan, Ada ada kesempatan untuk menjelaskannya. Selain itu Medina tidak mau meneliti cek tersebut dengan baik-baik dan pada akhirnya ia harus menerima fitnah yang tidak seharusnya dia dapat.
To Be continued ☺️☺️☺️