Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 168 Terjebak 3


__ADS_3

Fendi turun dari ranjang, matanya kabur dan tidak bisa melihat Vindra untuk sementara waktu. Vindra tidak melirik Fendi namun matanya tertuju pada sifa yang gemetaran di tempat tidur.


Sifa saat ini meringkuk seperti anak domba, pipinya bengkak, dahinya terluka, dan tubuhnya masih berlumuran darah. Meskipun Vindra sudah menceraikan Sifa, tapi dia tidak bisa melihat sifa di ganggu seperti ini.


Braakkkk...


Pada saat ini tiga anak buah Fendi berdiri di pintu. Fendi menyeka wajahnya dan mulai bisa jelas melihat Vindra.


"Keluarkan dia dari sini!" perintah Fendi. Ketiganya langsung bergegas mendekati Vindra.


Vindra mengambil langkah berani, menendang seorang pengawal, lalu meninju dagu pengawal lain dengan tepat, dan kemudian menyapu yang lain. Ketiga pengawal itu jatuh dan terbang keluar, menabrak dinding lalu memuntahkan seteguk darah dan pingsan. Vindra tak perduli hidup dan mati mereka, matanya tertuju pada Fendi.


"Ah, Vindra."


Fendi baru menyadari kalau Vindra adalah orang yang kuat, membuatnya tidak bisa menahan gemetar.


"Vindra keluarga Rapunzel kuat, Kamu tidak mampu menyinggung ku. Jika kamu menyakiti ku ... membuat keluarga ku marah, Sifa, keluarga Gultom, dan kamu akan mendapat masalah besar. Keluarga Rapunzel bisa membunuhmu dengan uang." Ancam Fendi.


"Vindra apa yang kamu lihat malam ini adalah kesalahan pahaman. Aku tidak menggangu Sifa. Jika kamu melepaskan ku, aku tidak akan menggangu kamu lagi, dan aku akan memberimu uang. Seratus juta, ah tidak seratus juta untuk mengganti porselen, jadi aku akan memberimu uang dua ratus juta, bagaimana? Jika itu tidak cukup, ini juga aku akan berikan kepadamu." Fendi mengambil dompet dan melemparnya, meletakkan cincin batu giok, jam rolex, dan kunci mobil didepan Vindra.


Fendi tidak tahu persis seberapa kuat Vindra, namun dari tatapan binatang Vindra, itu sudah membuat Fendi gemetar. Dia ingin pergi, setelah itu dia akan meminta orang-orangnya untuk membunuh Vindra. Namun sayangnya Vindra tidak bersuara.


"Vindra biarkan aku pergi."


Vindra tidak menjawab sama sekali, dia menatap dengan penuh penghinaan dan sombong. Dia melangkah maju mendekati Fendi.


Vindra tidak akan pernah mengasihani ataupun bersimpati pada bajingan yang bisanya menggertak wanita.


Vin tidak percaya dengan kata-kata Fendi, dia yakin jika dia bisa keluar hari ini, dimasa depan dia pasti akan membalas dendam.


Sifa gemetaran, Air matanya bercampur emosi, dia tidak sabar ingin menumpahkan kebenciannya, tapi dia tidak ingin Vindra masuk penjara demi dirinya, bagaimana pun Keluarga Fendi sangat kaya.

__ADS_1


"Vindra jangan bunuh dia." Sifa berusaha mencegah namun tidak di respon Vindra.


Ketika dia mundur dan tersudut di jendela, Fendi meraung, dia tidak punya jalan keluar. Akhirnya Fendi mengambil vas bunga dan bergegas menuju Vindra. Meskipun Fendi bajingan, tapi dia bukan banci. Fendi melemparnya sekuat tenaga.


Saat Ingin melempar, Vindra lebih dulu menendangnya, membuat Vindra terbang ke sofa.


Ketika Fendi dihempaskan ke sofa, dia meringis kesakitan, tapi dia masih melihat Vindra yang datang dengan sangat mengerikan.


Tanpa banyak bicara, Vin menarik rambut dan tangannya membawanya kebawah, saat itu lutut Vindra naik keatas menghantam wajah Fendi.


Fendi meraung kesakitan, namun Vindra tidak peduli. Vin membungkuk dan mencekik leher Fendi lalu membalikkannya dan menekannya di atas meja kaca, hingga membuat meja itu retak.


"Argh."


Dalam teriaknya, vin terus menekan Fendi lagi dan lagi.


"Vindra... jangan bunuh dia."


Sifa berusaha bangun untuk menggantikan Vindra, namun sayangnya dia tidak bisa menahan keseimbangan, yang membuatnya malah terjatuh kelantai dan membuatnya pingsan.


Vindra melepaskan Fendi begitu saja, dan segera menghampiri Sifa. Dia meraih tangan Sifa dan memeriksa denyut nadinya untuk memastikan keadaan Sifa.


Vin pun menghela nafas lega, saat mengetahui Sifa baik-baik saja. Vin segera menarik selimut untuk menutupi tubuh Sifa.


Vin segera menelepon dan meminta Black menyeret Fendi dan ketiga pengawalnya secepat mungkin. Jangan kan Fendi, Wiliam Wells yang berusaha menggangu, Vindra lenyapkan, apalagi Fendi yang sudah keterlaluan, tidak mungkin Vindra membiarkannya hidup dimasa depan.


Vindra tidak segera pergi, dia tau Sifa minum obat per*ngssang. Dia segera menggunakan jarum perak untuk menetralisir nya.


Brakkkk...


Pada saat ini pintu yang tertutup kembali terbuka. Beberapa orang muncul didepan Vindra.

__ADS_1


Mereka adalah Gultom dan Miranda.


Miranda terkejut dengan kekacauan yang ada dan membuatnya cemas. Miranda bergegas mendekati vindra dan langsung menamparnya tanpa sepatah kata. " Bajingan, berani sekali kamu memainkan trik seperti ini untuk Sifa. Kamu sangat buruk."


Miranda mengangkat tangannya dan ingin memukul lagi. Tapi Vindra tidak membiarkannya memukul, dia mengulurkan tangan meraihnya dan langsung membuangnya kesamping.


"Bajingan, beraninya kamu melawan." Miranda menjadi marah. "Jika kamu ingin mengambil hati Sifa, gunakan cara sehat. Apakah dengan caramu seperti ini kamu masih terlihat sebagai pria? Jika saja Tiffani tidak tepat waktu mencari alamat ini, aku yakin Sifa sudah dinodai olehmu. Aku akan memanggil polisi untuk menangkap mu."


"Vinda kami harus memberi kami penjelasan," ucap Gultom dengan ekspresi mendalam.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan." Jawab Vindra. Vindra tidak perlu terlalu banyak bicara, karena dia tahu apapun yang dikatakan olehnya di mata Keluarga Gultom semua adalah kebohongan. Lalu Vindra ingin melangkah pergi untuk meninggalkan mereka.


"Siapa yang mengizinkan kamu pergi?"


"Mateo, hentikan dia untukku, aku ingin memanggil polisi untuk menangkapnya."


Mateo ingin menahannya Namum didorong oleh Vindra.


"Ibu, ini salah paham." teriak Tiffani dan menghampiri ibunya. "Kak Vindra bukan orang jahat, dia mengirimiku pesan akan menyelamatkan kak Sifa. Dia disini karena khawatir dengan keselamatan kak Sifa, jadi dia datang ke sini lebih dulu untuk menyelamatkannya." Tiffani menunjukkan pesan yang dikirim Vindra padanya.


"Apa? Apakah dia menyuruhmu datang?"


Kelopak mata Miranda membulat, ketika dia membaca pesan itu, tapi dia masih tidak bisa menahan diri untuk tidak berkata." Siapa yang tahu, panggilan dan pesan ini dibuat dengan sengaja? diangkatnya aku tidak percaya padanya. Ketika kami sampai dikamar, kami hanya melihat dia dan Sifa. Aku harus menelepon polisi untuk menuntutnya." Miranda masih percaya kalau Vindra adalah penjahatnya.


Gultom bicara dengan ragu-ragu."Kita cari tahu dulu masalahnya, sebelum memanggil polisi."


"Bu, ada kamera disini," ucap Tania sambil menunjuk ke arah sudut. "Pasti Vindra yang ingin bermain-main."


"Bagus, ternyata dia sudah menyiapkan semuanya, dan dia bilang tidak melakukannya." Miranda mengambil kamera dan membukanya didepan semua orang, ingin menunjukkan dengan tepat bukti bahwa Vindra adalah pelakunya.


To be continued 👍👍👍

__ADS_1


__ADS_2