Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 138. Batu giok


__ADS_3

Gultom bergetar ketika dia mendengar kata-kata Vindra." Brengsek, apa yang kamu katakan?"


Tania pun berteriak." Vindra, jangan bicara jika kamu tidak tahu."


"Porselen ini disebut guci alam. Dilukis dengan teknik yang rumit dan di buat oleh pengrajin tradisional, guci ini sudah ada puluhan tahun dan di jual dengan harga tiga sampai empat ratus juta di tempat lain. Ada sesuatu di dalamnya, walaupun terlihat kasar tapi untuk pecahan ini di hargai dua puluh juta itu masih wajar, karena sudah tidak berbentuk," jelas Vindra.


Jessie melipat tangannya di dada. " "Ya, itu adalah guci alam. Kami mengambilnya dengan harga tujuh belas juta saat pelelangan barang. Sekarang aku minta ganti 20 juta, bukankah itu masih wajar. Tuan Gultom, menantumu mengatakan itu sepadan dengan harga, jadi tolong cepat bayar. Jangan kehilangan ketenaranmu di industri barang antik.


"Dasar bajingan." Gultom ingin sekali menampar Vindra. "Kamu benar-benar mengecewakan aku.


"Ayah, kamu tidak perlu membayar porselen ini, aku yang akan membelinya." Vin memegang alas porselen dan satu tangannya lagi mengeluarkan kartu bank dan menyerahkannya pada Jessie.


"Dua puluh juta, aku akan membayarnya.


Ekspresi Gultom berubah drastis. "Darimana kamu mendapatkan uangnya? Apakah Sifa yang memberikannya padamu? Aku tidak setuju kamu menggesek kartu Sifa. Jika kamu berani menyentuh uang putriku, aku akan menuntut mu atas pencurian itu." ucap Gultom dengan mata melotot.


Vin berkata dengan samar." Kapan Sifa punya uang lebih?"


Seketika Gultom terdiam. Karena dia tahu, selama ini gaji Sifa dalam kendali ibunya. Bagiamana mungkin Sifa bisa memberi uang pada Vindra?


"Aku meminjam uang ini dari Ambar Wijaya untuk berbisnis." Vindra membuat alasan acak, dan memandang Jessie.


"Gesek kartunya dengan cepat, jika tidak ada masalah segera tandatangani transaksi pembelian." perintah Jessie pada bawahannya.


"Aku katakan Vindra, uang yang kamu pinjam adalah hutang pribadi mu, dan kamu tidak diizinkan untuk melibatkan Sifa, atau akan melawanmu mati-matian. juga, tumpukkan pecahan porselen ini dibeli olehmu sendiri dan itu tidak ada hubungannya denganku."


Vindra mengangguk." Oke, aku akan menanggungnya sendiri."


Setelah kartu digesek dan transaksi pembelian di tandatangani, pecahan porselen segera disapu dan kemudian dimasukkan kedalam tas kain dan memberikannya kepada Vindra.


"Baiklah, transaksi selesai. Kamu bisa pergi sekarang." ucap Jessie.


"Lain kali, berjalanlah hati-hati, atau kalau tidak kamu akan memecahkan barang antik yang bernilai jutaan" Jessie bicara dengan bangga.


"Tidak kompeten. "Gultom meletakkan tangannya dipunggung dan menumpahkan kemarahannya pada Vindra.

__ADS_1


"Ayah jangan bicara lagi, itu uang Vindra sendiri, dia bisa mengambil alih. Ayo kita pergi." Ajak Tania


"Jangan buru-buru pergi. Biarkan ayah melihat harta tiada taranya sebelum pergi."


Gultom terkejut sejenak dan tanpa sadar berhenti.


Jessie menyipitkan matanya, kemudian dia mencibir. " Kamu hanya membuat sensasi."


Vindra tidak bicara omong kosong, Vindra meraba dari ujung ke ujung, naik dan turun untuk memastikan ada batu giok berharga didalamnya.


"Ini adalah giok berdarah seukuran telapak tangan, terlihat biasa-biasa saja, tidak terlihat bagus, dan kilaunya bahkan lebih kusam."


Mata Gultom melebar juga, tapi setelah dua pandangan, dia kehilangan minat, kerena batu giok itu terlalu kasar.


Jessie tersenyum. "Aku pikir kamu beruntung, tapi sayangnya, meskipun ada yang tersembunyi didalamnya, itu masih barang yang tidak berharga. Apa kamu mengerti? Kalau begitu izinkan aku memberitahumu, batu giok berdarah itu batu giok yang bisa dijual dengan harga mahal. sedangkan itu hanya batu giok mati, pengerjaannya terlalu kasar."


Gultom mendengus lagi, "Kamu membuat kesalahan besar, kan? Aku beri tahu kamu, dua puluh juta itu harus kamu bayar sendiri, jangan seret Sifa."


Vin tidak bicara apa-apa, tapi batu permata miliknya, merasakan keberadaan batu giok berdarah. Pada saat ini batu giok itu tiba-tiba bereaksi, seolah-olah tersedot menyebabkan Vindra hampir membuangnya, untungnya batu giok tidak jadi mendarat ke lantai, ketika dia memegangnya dengan erat.


"Gultom melambaikan tangannya, Tania, ayo pergi, aku sudah tidak tahan lagi."


"Apa ada pisau ukir?" tanya Vindra.


"Apa menurutmu masih ada sesuatu didalamnya?" tanya Jessie dengan mendengus, tapi dia masih memberikan pisau ukir pada Vindra.


"Iya." Vin tersenyum ringan, Batu permata miliknya terlalu kuat bereaksi, jadi dia bisa bertaruh jika ada sesuatu didalamnya. Vindra kemudian menggunakan pisau ukir untuk mengikis permukaan batu giok dengan lembut dan semua orang yang ada menontonnya.


Vin menggores dengan sangat hati-hati, sangat lambat, dan penuh perhatian setiap sayatannya.


"Ah... " Tepat ketika Vindra mengikis sejumlah besar potongan batu giok kasar itu, suara serak seseorang meledak diantara kerumunan.


Lelaki tua bermata satu dengan setelah jas meju diantara kerumunan. "Ini adalah giok berdarah. Tanpa diduga, ada batu giok berdarah asli yang tersembunyi didalam batu giok palsu yang kasar ini. Keahlian luar biasa. Ini adalah teknik pembungkus batu giok yang terkenal dan hanya ada di jaman Kerajaan kuno. Ini pasti keluar dari kerjaan, entah sengaja diberikan ataupun dicuri. Aku selalu berfikir bahwa catatan dalam buku kuno semuanya membodohi orang, tapi aku tidak berharap ini adalah kebenaran." Pria tua itu bersemangat dan berteriak tidak jelas.


"Apa? Batu giok asli didalam batu giok palsu?"

__ADS_1


"Apa itu benar-benar, batu giok berdarah yang asli?"


"Bagiamana ini bisa terjadi? Apakah dia tidak salah?"


"Brengsek, dia adalah penguasa mata hantu, orang pertama yang menilai harta peninggalan, bagiamana dia bisa melakukan kesalahan?"


ucap orang-orang yang berkerumun.


Gultom dan Tania juga berhenti ketika mendengar ini.


Vindra mengabaikan mereka dan terus mengikis batu giok dengan tidak tergesa-gesa.


Jessie sedikit menyernyit, tapi dia tidak merasa lega, karena dia tahu batu giok berdarah bernilai ratusan juta.


Fragmen batu giok terus berjatuhan, mempengaruhi mata semua orang untuk tertuju pada giok tersebut.


Sepuluh menit kemudian, batu giok seukuran telapak tangan menjadi seukuran dua jari, tidak lagi kasar, malah sebaliknya halus dan mengkilat. Cahaya bersinar, merah darah.


"Ini adalah batu giok berdarah terbaik." ucap Gultom dengan semangat.


"Batu giok berdarah ini, biasa dijual dengan harga tiga sampai empat ratus juta."Jelas pria tua itu.


Gultom hampir jatuh ketanah, ingin meneriaki menantunya yang baik dengan mulut penuh kegembiraan.


Semua orang nampak gembira, tapi tidak dengan Jessie, dia nampak menyesal dan ingin mencoba mencekik dirinya sendiri.


Dua puluh juta itu sama sekali tidak banding batu giok itu. Jessie menatap Vindra dan ingin sekali mengambil kembali batu giok itu. Jessie tidak bisa memikirkan saat batu giok berdarah itu lepas dari tangannya.


Setelah keluar dari toko barang antik, sebelum masuk ke mobil, Gultom mengulurkan tangannya dan berteriak." Vindra, cepat berikan batu giok berdarah itu padaku." Batu giok itu senilai ratusan juta, Gultom sangat bermanfaat memikirkan hal itu.


Tania menarik lengan ayahnya. "Ayah, Vindra yang membelinya, ayah tidak bisa mengambilnya."


"Apa yang membeli Vindra? itu diambil dari porselen yang aku pecahkan, itu milikku. Berikan padaku, jangan dirusak." Gultom memaksa dan seakan tidak memiliki akal sehat saat terobsesi dengan giok tersebut.


"Maaf ayah, batu giok ini milikku, kamu tidak bisa mengambilnya dariku." jawab Vindra dan bergegas masuk ke mobil dan pergi.

__ADS_1


To be continued 🙂


__ADS_2