
Vin tersenyum tipis." Aku menunggu bisnis terjadi."
"Sifa, kakakku akan membuat perhitungan dengannya. Jangan mengeluarkan uang untuknya,"ucap Medina sambil memegang lengan Sifa.
"Aku sudah tidak perduli padanya." Sifa menelan kekecewaan terhadap sikap Vin.
Tak lama, sebuah mobil patroli lalulintas datang menghampiri mereka. Mereka segera mengamati dan menganalisa kejadian, sebelum akhirnya meminta Fendi dan Vin memindahkan kendaraannya agar tidak menggangu lalu lintas.
"Waktuku sangat berharga, aku tidak ada niat untuk bertengkar denganmu. Demi Sifa kamu bisa mengambil kompensasi itu, dan aku menanggung akibatnya sendiri. Jika tidak kamu yang harus membayar seluruh biaya perbaikan," ucap Fendi dengan begitu sombongnya
Namun tiba-tiba polantas itu mengungkapkan kebenaran," maaf tuan Fendi. Sepertinya saat ini anda yang harus bertanggungjawab dan memberikan kompensasi kepada tuan Vin." Perkataan polantas itu membuat mereka tercengang, namun tidak dengan Vin. karena semua sudah Vin perhitungkan.
"Pak kenapa jadi kita yang bertanggung jawab?" tanya Fendi.
" Pak, dia yang menabrak. kenapa kita yang harus tanggung jawab?" Medina tak terima saat mendengar keputusan Polantas itu.
"Belok ke kanan dan lurus. Ini sudah peraturan lalu lintas. Pak Fendi berbelok ke kanan dan Pak Vindra lurus. Jika pak Fendi gagal menghindari dan mengamati tepat waktu maka sepenuhnya adalah tanggungjawab bapak." Jelas polantas itu.
"Kami mampir menyelesaikan belokan, dia yang yang berkendara lurus dan mempercepat laju kendaraannya hingga menabrak kami. Seharusnya dia yang bertanggung jawab." sela Medina.
"Tidak perduli apapun penjelasannya, sesuai aturan kalian lah yang bersalah." Mereka pun mengeluarkan peraturan lalu lintas agar mereka paham.
Pada akhirnya Fendi tak berdaya dan menahan amarahnya. Sifa benar-benar terkejut mengetahui situasinya berbalik.
"Tidak heran, Sifa tidak menyukaimu. Kamu terlalu licik," ucap Medina namun tak di tanggapi Vin.
"Jangan bicara omong kosong, lebih baik sekarang berikan uangnya." jawab Vin.
Medina mengeluarkan uang 10 juta tuna kepada Vin.
"Tidak cukup."
"Apa? bukankah motor bekasmu itu sekitar lima juta saja dan aku menggantinya dua kali lipat, apakah itu tidak cukup."
"Medina sudah memberimu uang 10 juta, apa lagi yang kamu inginkan." Sifa seakan tak berdaya.
"Motor bekas ku memang harganya murah, tapi kalian sudah menghancurkan porselen milikku yang sangat berharga. Porselen antik itu hanya ada 6 di dunia dan memiliki harga empat ratus juta."
__ADS_1
Vin mengambil porselen yang ada di keresek hitam yang kini sudah hancur. "Aku ingin pergi ke pegadaian untuk menukarkannya dengan uang, tapi sekarang sudah kalian hancurkan." jelas Vin dengan kecewa.
"Kalian memberiku uang sepuluh juta, itu tidak sebanding dengan porselen yang bisa digadaikan dengan delapan ratus juta. Kalau kalian tidak percaya keaslian kalian bisa cek sendiri.
Polantas itu berfikir Vin terlalu berlebihan, tapi mereka tidak tau bagaimana menengahinya.
Vin memiliki SIM, motor selama keadaan asli tanpa modifikasi, Berjalan sesuai aturan di tambah porselen itu memiliki sertifikat, membuat polantas itu tidak punya celah.
"Kalian menengahi dan bernegosiasi sendiri, jika gagal kalian bisa melalui jalur pengadilan." Jelas polantas lalu pergi.
"Beri aku seratus juta, maka Semuanya selesai. Apakah kamu akan menggunakan kartu kredit atau uang tunai?" tanya Vin. membuat wajah Fendi dan Medina tenggelam tak membayangkan kondisi seperti ini akan terjadi.
"Vin jangan bertindak terlalu jauh, kamu salah menghancurkan orang seperti ini. Apakah kamu tidak memikirkan perasaanku? dan masalah ini..."
"Sifa, perasaan apa yang kamu miliki?" Vin menyela Sifa.
"Apakah pantas baginya mengajukan klaim disaat dia salah? Sedangkan aku hanya meminta hakku. Bukankah kamu juga menginginkan uang? Lalu untuk apa memikirkan perasaan?"
"Dia bersikap tidak adil padaku, kamu masih bisa membelanya. Tapi saat aku di ganggu olehnya, dimana kamu? Dia menyegel rumah sakit, menangkap ku dan memasukan aku ke penjara. Ketika dia memvonis ku mati, apakah kamu pernah berfikir apa yang akan aku lakukan?"
Vin melangkah maju mendekati Sifa. " Jika aku masih ada di hatimu, Aku tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan Fendi yang selalu mengambil kesempatan darimu."
"Apa yang aku bicarakan? Seharusnya kamu tanya padanya, apa yang sudah dia lakukan." Jawab Vin sambil menunjuk ke arah Fendi.
"Kamu meminta seseorang untuk menutup klinik medis ku, dan dia mengambil keuntungan dengan mengirim Joko untuk menghukum ku. Jika saja tidak ada orang-orang terhormat yang me
bantu ku, mungkin aku akan mendekam di penjara." Jelas Vin.
"Ini tidak mungkin." Teriak Sifa tidak percaya.
"Vin, jangan memfitnah orang sembarangan." saut Fendi dengan wajah dingin.
'Tidak mungkin, Dilihat dari keadaan Vin, aku kira Joko tidak melakukan apa-apa, tapi siapa sangka dia sudah bertindak lebih dulu. Dia mengganggu Vin, tapi Vin baik-baik saja, itu artinya ada yang tidak beres dengan Joko dan yang lainnya.' gumam Medina.
Vin maju menghampiri Fendi," Seratus juta, harus masuk akunku besok siang."
"Vin semuanya belum jelas, kamu tidak bisa melakukan ini." Saut Sifa.
__ADS_1
"Dua ratus juta. Kamu memohon untuknya lagi, aku akan menambah seratus juta lagi." Jawab Vin dengan dingin.
"Vindra.... " teriak Sifa kesal.
"Tiga ratus juta." Membuat Sifa langsung terdiam.
"Ingat, besok siang harus masuk rekeningku tiga ratus juta. Kalau tidak urusan ini akan aku lemparkan ke PBI dan bukan tiga ratus juta lagi, melainkan delapan ratus juta,"ucap Vin dengan tegas.
Secara diam-diam Romi sesudah merekam dan memfoto semua adegan yang terjadi, yang akan menjadi bukti kedepannya.
"Vindra!" Sifa melayangkan tamparan namun masih sempat di tangkap Vin dan lalu membuangnya kesamping.
"Mulai sekarang kamu bisa melakukan apapun, menjadi saksi untuknya, menceraikan aku, tau apapun itu, aku akan membiarkan kamu."
" Aku tidak pernah berfikir seperti itu. Aku tidak menyangka akan seperti ini." Sifa menggelengkan kepalanya putus asa.
" Aku tidak menyangka, demi beberapa klien kamu melindungi Fendi seperti ini dan kamu menampar wajahmu untuknya. Ternyata aku terlalu rendah dan tidak ada apa-apanya dihatimu." Vin tersenyum sedih.
"Aku bisa mengerti kamu, tapi kamu tidak bisa mengerti aku. kamu menganggap ku tidak kompeten, cemburu, dan implusif."
Sifa menggelengkan kepalanya, dan segera menggenggam pergelangan tangan Vin. Sifa berfikir jika Vin patuh dan lembut, namun dia tidak menyangka akan memiliki temperamen yang kuat.
"Vin, aku minta maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu mengenai klinik medis ...." Sifa tak kuasa menahan air matanya, yang begitu saja lolos dari sudut matanya. "Aku hanya tidak ingin kamu membuat orang lain celaka." lanjut sifa.
Vin melepaskan tangannya dan segera menyapu airmata yang membasahi pipi istrinya itu, "Kamu benar, aku salah. Aku baru menyadari semua ini. Tanpa emosi, semua tidak ada gunanya." Vin pun segera berbalik dan melangkah ingin pergi.
"Kamu mau pergi kemana?"
Sifa berusaha mengejar sambil berteriak, "Kamu mau pergi kemana?"
"Aku mau pulang ke rumahku sendiri," jawab Vin tanpa menoleh kebelakang.
To be continued ☺️☺️☺️
Sambil nunggu up bab baru jangan lupa mampir di karyaku yang lain.☺️
__ADS_1