
Vin tidak kembali ke rumah keluarga Gultom, karena masih berselisih dengan Sifa. Dia dan Romi memilih untuk istirahat di salah satu hotel kecil tak jauh dari klinik.
Setelah dua pertempuran sengit dia mengira akan bisa tidur dengan nyenyak, namun sayangnya dia malah terjebak dalam mimpi buruknya.
Dalam mimpi itu, dia dan Sifa terjebak dalam pengepungan, dikelilingi oleh puluhan pembunuh yang berpakaian hitam, dia bekerja keras untuk mencari jalan keluar. Tepat saat dia hendak membawa Sifa, tiba-tiba ditikam dari belakang, Vin menoleh dan melihat yang menikamnya adalah sosok yang dia kenal. Dia ingin melihat lawannya dengan jelas, namun pandangannya semakin kabur dan hasilnya Sifa di tarik lawan. Vin menderita kolik fisik dan mental, dia ingin menjangkaunya namun hasilnya pisau lawan terus menusuknya dengan tanpa ampun.
Tiba-tiba dia berteriak "Ah..." Vin terbangun, dan keringat keluar deras, bahkan rambutnya basah. Vin memikirkan tentang mimpinya, bukan masalah dia yang terbunuh tapi saat Sifa menjauh darinya.
Vin menertawakan dirinya sendiri, "Apakah begitu sulit melupakan cinta pada pandangan pertama delapan belas tahun yang lalu?"
Setelah itu Vin segera bangun dan membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Tiga puluh menit kemudian dia muncul di klinik CRISHAN.
Lusiana seperti tahu kalau Vin akan datang dan menyiapkan makanan lebih awal. Tidak lama kemudian Billy juga datang.
Tepat ketika mereka sedang sarapan, Pintu klinik yang masih tutup tiba-tiba di gedor di ikuti teriakan suara wanita." Dokter Billy, Dokter Vin, tolong!" teriak bibi David.
Mereka segera meninggalkan sarapannya, lalu bergegas ke pintu dan membukanya. Didapat bibi David datang membawa paman David dengan kondisi wajahnya membiru, sesak nafas dan mulutnya sedikit terbuka, namun tidak bisa bicara.
Billy buru-buru membantu. "Ada apa ini?" tanyanya.
"Aku tidak tau, tadi pagi aku makan makanan ringan dan berjalan mendekatinya, tapi saat aku hendak sampai dia tiba-tiba terjatuh dan menjadi seperti ini." Jelas bibi David dengan sedih.
"Billy menghela nafas, "tuanku, ada apa dengan paman David? kenapa gejalanya tidak begitu familiar?"
"Pasti familiar, Dia keracunan lagi." Belum sempat bibi David menjelaskan lagi, Vindra sudah mengambil tangan Paman David untuk mendiagnosis denyut nadinya." Sama persis seperti kemarin, dia keracunan makanan."
__ADS_1
Billy terkejut, "Keracunan makanan lagi? bibi David tidak bisakah kamu tidak makan makanan basi lagi? " Tegur Billy. Sebelumnya Bibi David dan paman David pernah datang dengan masalah yang sama, yaitu Keracunan makanan dan sekarang dia kembali dengan kondisi yang sama.( ada di bab 70. Keracunan)
"Ini tidak mungkin, walaupun kami tidak terlalu kaya, tapi kami pemilih dalam hal makanan. Kamu hanya makan buah musiman dan makan makanan segar. Bagaimana kamu bisa makan makanan basi. Makan yang sama dan minum yang sama, bagaimana hanya dia yang keracunan?" Jawab bibi David dengan sedih.
"Billy, paman David baik-baik saja nanti, kamu bantu bibi David untuk pulang saja." saut Vin sambil mendetoksifikasi paman David dengan akupuntur dan moksibusi.
" Setelah kamu mengantar bibi David kembali, coba periksa sumber mata air yang ada dirumahnya." Perintah Vin pelan dan Billy segera menganggukkan mengerti.
Selama akupuntur dan moksibusi, tiba-tiba paman David gemetar dan segera muntah di tempat sampah yang dipegangi Billy, dan baunya sangat tidak enak.
Namun kali ini Vin mencium bau beberapa obat, tepat saat Vin ingin melihat muntahannya, Billy segera membawanya pergi dan segera membuangnya ke saluran pembuangan secepatnya.
Vin ingin mengatakan sesuatu, tapi pada akhirnya hanya bisa menggelengkan kepalanya dan membiarkan Billy pergi.
Pintu klinik pun di buka, dan sudah banyak pasien yang mengantri untuk di periksa.
Walaupun suasana bising karena adanya tahap renovasi, tapi kepercayaan pasien pada Billy dan Vindra membuat mereka acuh tak acuh dan tetap antri untuk melakukan pemeriksaan, selain itu biaya yang murah membuat mereka lebih memilih pergi ke ke klinik CRISHAN daripada ke rumah sakit dengan biaya yang besar bagi mereka yang mengalami ekonomi pas-pasan.
Vin memeriksa sekitar dua puluhan pasien dan sisanya dia serahkan pada Billy. Dan dia memilih bersembunyi di paviliun untuk membuat resep.
Di penghujung hari, Vin sudah mendapatkan keuntungan yang besar, karena hari sudah semakin gelap Vin berencana untuk segera pulang, namun dia melihat Andre yang berlari menghampiri.
"Kak Vin, aku ingin memberitahumu sesuatu," ucap Andre dengan semangat.
Sejak, Vin memanggilnya untuk menekan Tamara, Andre memilih tinggal di pusat klinik medis dan benar-benar membantunya memindahkan bata setiap hari.
__ADS_1
Vin sudah berusaha membujuk Andre untuk kembali, tapi dia tetap menolak dan dia berjanji akan kembali saat renovasi klinik sudah selesai, sebagai hadiah karena Vin sudah membantunya mengobati penyakitnya.
Walaupun Andre sering bertemu dengan Vin, namun dia hanya memilih rasa kagum dengan Vin dan Andre tidak begitu dekat dengannya, jadi Vin terkejut saat dia bicara hari ini.
"Tuan Andre, katakan jika ada suatu yang serius!"
"Jangan panggil aku tuan, cukup Andre saja. Aku tidak pantas dipanggil tuan Andre."
"Awalnya farmasi BUNGALOW mengalami kerugian dua ratus juta atas kerusakan obat-obatan. Akhirnya farmasi BUNGALOW tertarik dengan Klinik PREMIERE. Saat itu Tamara berhasil mendapatkan keuntungan dari penjualan obat ke klinik PREMIERE.
Vin terkejut mendengar penjelasan Andre." Bukankah klinik PREMIERE merupakan klinik pengobatan barat. Untuk apa mereka membeli bahan obat-obatan Tamara?"
"Aku dengar Klinik BREEZE tangah membuat resep dan sedang mencari produsen kecil yang bisa memasuk bahan obat untuk membuat pil tujuh rempah ajaib."
Vin akhirnya ingat obrolan ibu mertuanya Dangan Beni Bakti.
"Awalnya aku pikir, orang yang bertanggung jawab atas proyek pengadaan bahan obat kami yang terkontaminasi hanya semata untuk memperbanyak kantong mereka. Tapi hari ini aku dengar dari tuan Robi Pasco kalau klinik PREMIERE hari ini di buka oleh ibu mertuamu."
Vin tidak ingin membicarakannya untuk saat ini, cukup tau dan dia akan membahasnya saat dia ingin bertanya, dan Vin menjelaskan itu dan Andre mengiyakannya.
Vin tidak ingin pulang, tapi dia harus tetap pulang ke rumah Gibson saat ini, karena statusnya yang masih menjadi menantu.
Pensel Vin bergetar, tepat saat Vin menghidupkan mobilnya. Segera Vin meraihnya dan mengangkat panggilan telepon dan segera mendengar suara kepanikan Anna, sekertaris Sifa. " Vindra, cepat kemari, ada sesuatu terjadi pada Nona Sifa Gibson..." ucap Anna dengan panik, membuat hati Vin seketika cemas. Walaupun keduanya tengah bertengkar, tapi Vin tidak ingin sesuatu terjadi pada Sifa.
To be continued ☺️☺️☺️
__ADS_1