Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 119. Menyegel Rumah Sakit


__ADS_3

"Ah." teriak Keisa, tendangan Vin membuat Keisa terjatuh dalam posisi merangkak. Hal tersebut membuat semua yang melihat ikut berteriak.


Setelah beberapa saat menahan kesakitan dan ketakutan, Keisa menatap Vindra dengan penuh kemarahan.


"Brengsek, berani sekali kamu menendang ku. Cepat Punuh mereka, kalahkan mereka, jika kalian tidak sanggup aku tidak akan membiarkan kalian hidup!" perintah Keisa dengan arogan.


Wajah Sifa langsung pucat, dia tidak menyangka, semua pegawai rumah sakit benar-benar biadab dan dia hanya bisa berteriak.


"Vin, hati-hati."


Dokter Rian memutar bola matanya dan mencibir, " Dia sudah selesai."


Penjaga keamanan yang berkepala botak maju lebih dulu sambil berkata, "Nak, kamu datang kemari dan membuat masalah. Apa kamu tidak punya mata, dimana seharusnya kamu marah," ucap pria itu, namun Vin langsung meninju dagunya hingga dia pun tersungkur dan langsung pingsan.


Hal tersebut dilihat langsung oleh Keisa dan dia pun langsung memerintahkan yang lain untuk maju. "Cepat bunuh dia untukku!"


Beberapa penjaga segera mengepung Vindra.


"Jaga ayahku." Vin meminta Sifa untuk mengawasi ayahnya dan dia maju dan masuk dalam kerumunan itu.


Dengan kekuatannya, Vin menghajar satu persatu dan menjatuhkan mereka, satu persatu yang tumbang mengeluarkan darah dari mulut dan hidung.


Didalam kekacauan, Vin mencondongkan tubuhnya, dan mengangkat lututnya ke udara, lalu menjatuhkan mereka hingga jungkir balik. Vin menatap penjaga yang terakhir dan langsung menarik kerah bajunya dan langsung membantingnya ke dinding.


Vin menatap Keisa, "Jangan ini terlalu tidak berguna."


"Jangan sombong." Keisa mundur satu langkah, lalu berteriak, "Dokter Rian, sepatu hubungi opsir Raden dan katakan padanya ada pengganggu disini."


Keisa menunjuk Vindra, " tidak peduli seberapa kuatnya kamu, jika kamu masih berani memukul, aku pastikan perlu bersarang di tubuhmu."


Vin mengernyitkan keningnya mendengar kata-kata itu, dan Keisa melihat jika Vin sedikit ketakutan.


"Takut?! sudah terlambat, untuk mendapatkan belas kasih."

__ADS_1


Sambil bicara, Keisa juga meminta mengumpulkan semua orang yang ada di rumah sakit untuk melihat apa yang sudah dilakukan Vindra.


Dengan kesombongannya Keisa kembali berkata, "Cepat minta maaf, atau kamu akan membayar mahal untuk ini."


Vin menatap Keisa dengan tenang. " Mamang akan ada yang membayar mahal untuk hari ini, tapi itu bukan aku, melainkan rumah sakit ini dan juga kamu. Hanya keuntungan yang menjadi tujuanmu, tidak ada etika medis, dan nyawa manusia di abaikan. Hari-hari indah rumah sakit ini sudah berakhir. Beritahu orang-orang di belakangmu bahwa rumah sakit ini akan tutup."


Keisa mencibir," Menutup rumah sakit. Kamu pikir kamu siapa? tidak ada yang bisa menjatuhkan aku "


Dokter Rian mengangguk setuju dengan kata-kata Keisa dan ikut mencibir, "Bocah bodoh, kamu membuat masalah untuk menangis."


Sifa yang merasa semuanya sudah semakin kacau, meraih lengan Vin dan berkata," ayo kita lapor polisi saja."


Vin tersenyum tipis, "Jangan khawatir, tidak akan terjadi apa-apa."


Sifa ragu, namun pada akhirnya memilih percaya dan tidak membujuk Vin lagi.


Tak lama kemudian, lusinan pria berseragam muncul dan masing-masing dengan senjata di pinggang.


"Direktur Keisa, ada ada yang membuat masalah di rumah sakit? siapa orang yang tidak punya mata itu, biar aku ajari bagaimana menghormati hukum."


" Opsir Raden kamu datang tepat waktu. Sepasang binatang ini sudah memfitnah kita, menghajar yang lain, dan bahkan dia menendang ku. Cepat bawa mereka dan jebloskan mereka ke penjara agar mereka bisa merenung."


"Apa? disiang bolong seperti ini, masih ada yang berani melanggar hukum di tempat umum." Opsir Raden marah dan dia pun mengangkat kepalanya untuk melihat pelakunya.


"Anak muda aku sudah memikirkan konsekuensinya," ucapnya sambil berbalik untuk melihatnya dan alangkah terkejutnya dengan apa yang dia lihat.


"Tuan Vindra." Opsir Raden yang awalnya mendominasi kini berkata dengan rendah dan penuh kecemasan.


Vindra sedikit terkejut saat bertemu dengannya lagi, karena dia selalu mendukung kejahatan sama seperti yang dilakukannya pada Ederson.


"Opsir Raden, siapa dia? siapa tuan Vindra?" tanya Keisa.


"Kemarilah." panggil Vin.

__ADS_1


"Tuan Vindra adalah saudara tuan Jhonatan Wiston, dan dia juga yang sudah mengalahkan Leo Ederson dan William Wells." Jelas opsir Raden pada Keisa sebelum dengan patuh dia mendatangi Vindra.


"Tuan Vindra, maafkan aku."


Plakkk....


Vin menampar pipi kiri Raden sangat keras dan renyah.


"Pipi kanan." Opsir Raden pun memberikan pipi kanannya dan menamparnya sekali lagi.


Seketika Keisa dan Rian terkejut dengan pemandangan di depannya, membuat mereka bertanya-tanya siapa tuan Vindra ini? bahkan telah membuat opsir Raden langsung menciut.


Selain itu Sifa memandang Vindra dengan ekspresi yang rumit.


Plakkk..., plakkk..., plakkk,


Tiga kali lagi Vindra memberikan tamparan diwajah Raden, hingga membuat sudut bibirnya berdarah.


"Apa kamu tidak ingin mendidik ku? apa kamu tidak ingin mengajari aku cara menghormati hukum? Kamu sudah mengajari aku sekarang, dan aku janji tidak akan melawan. Ayo tangkap aku...."


Opsir menundukkan kepalanya,


"Tidak berani." jawabnya.


Vin menepuk wajah Raden dengan ringan, " Kamu benar-benar mengecewakan aku. Ini menunjukkan kalau kamu hanya pengganggu dan takut akan kesulitan. Terakhir kali aku menampar mu dua laki, dan kamu tidak mempelajari pelajarannya dengan baik, dan hari ini kamu datang di rumah sakit ini lagi. Sepertinya sudah cukup, setelah ini kamu akan melepas pakaianmu dan merenung didalam penjara."


"Tuan Vindra maafkan aku. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi, tolong beri aku kesempatan," Raden meraung dan memohon, dia berlutut bahkan menginjak martabatnya sendiri.


Keisa terus bertanya-tanya tentang sosok Vindra, dan dia pun segera mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan dengan cepat.


Vin masih berurusan dengan Raden, "Baiklah jika kamu mengakui jika itu salah, aku akan memberikanmu kesempatan. Tapi cepat bawa anak buahnya untuk menyegel rumah sakit ini." perintah Vindra.


"Menyegel? Apa ada masalah yang besar?" tanya seorang tiba-tiba dari belakang kerumunan.

__ADS_1


To be continued 🙂 🙂🙂


__ADS_2