Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 151. Pergi ke bar Lintang


__ADS_3

Setelah berpisah dengan Renata, Vindra sengaja mengajak Teffani pergi meninggalkan bandara.


"Kak Vindra, aku ingin memberitahumu, sebenarnya aku kembali ke sini tidak memberitahu keluargaku. Kakak tau kan aku sebenar lagi lulus. Mencari pekerjaan di luar negeri itu sangat sulit, jadi aku memutuskan mengirimkan lusinan resume ke beberapa perusahaan di kota ini. Akhirnya ada sekitar delapan perusahaan yang memintaku untuk ikut wawancara Minggu ini. Salah satunya perusahaan BBI Star Farmasi yang aku incar. Perusahaan itu menawarkan gaji yang cukup besar."


Vindra terkejut, saat mendengar perusahaan Star Farmasi. " Apa kamu serius ingin bergabung dengan perusahaan ini?"


"Tentu saja aku serius. Kalau tidak, kanapa aku harus datang jauh-jauh hanya untuk wawancara. Aku yakin aku bisa diterima."


Setelah bicara dengan semangat, Teffani mengubah pembicaraannya dengan malas.


"Orang tuaku selalu memintaku untuk bergabung dengan perusahaan Keluarga setelah lulus nanti dan membantu kakak di perusahaan, tapi sayangnya aku sama sekali tidak tertarik. Aku tidak ingin menyia-nyiakan sisa hidupku hanya bekerja seperti itu-itu saja. perusahaan IF hanyalah sebuah alat yang digunakan sikte Gultom untuk diperas. Jadi aku memutuskan untuk bekerja di perusahaan lain setelah aku lulus nanti."


"Kak Vin, Aku membuat janji temu dengan beberapa teman malam ini, dan mereka merupakan karyawan Bank BBI, aku dengar posisi mereka tidak rendah. Aku membuat janji dengan mereka saat aku tiba di kota ini, hanya berharap mereka bisa membantuku. Aku meminta kak Vin menjemput ku untuk membantuku menutupi, jangan sampai orang tuaku tidak mengizinkan aku untuk wawancara dan malah memaksaku bekerja di perusahaan keluarga." Teffani tanpa ragu-ragu mengatakan dengan jujur, karena dia yakin Vindra pasti akan membantunya.


"Tiffani, maafkan aku, sepertinya aku tidak bisa membantu..." Vin segera menginjak rem saat bertemu dengan lampu merah. "Aku dan kakakmu..."


"Jangan menolak ku."


Tiffani mengerucutkan bibirnya, lalu mencondongkan sedikit tubuhnya kearah Vindra." Jika kamu tidak membantuku, kebebasanku akan direnggut oleh mereka."


Vindra menganggap Tiffani seperti seorang adik, melihat air matanya membuatnya tidak berdaya, namun Vin masih kekeh dan dia tetap menggelengkan kepalanya." Aku benar-benar tidak bisa melindungi mu Tiffani."


"Kenapa tidak bisa? Aku akan mengirim pesan pada ibuku nanti kalau aku kembali, dan mengatakan kalau aku akan pulang ke rumah setelah minum di bar bersama teman-teman. Orang tuaku pasti akan sangat marah, tapi aku akan mengatakan kalau kak Vin ada bersamaku. Walaupun mereka akan memarahi kak Vin juga, tapi setidaknya mereka agak sedikit lega." Setelah bicara Tiffani mengeluarkan uang dan segera memasukkannya ke dalam saku Vindra.


"Kak Vindra ini sedikit tips buat kak Vindra."


"Tidak Tiffani, aku tidak bisa membantu mu. Aku akan segera mengantarkan kamu pulang."


Tiffani mengerucutkan bibirnya, memegang lengan Vindra dan mengguncangnya dengan ekspresi menyedihkan. " Kakak ipar..."


Melihat Tiffani memohon dengan sangat menyedihkan membuatnya tidak berdaya. "Baiklah, aku akan mengantarkan kamu pergi ke pesta, tapi kamu harus ingat, sebelum jam sebelas malam pesta harus selesai dan aku akan mengantarkan kamu kembali."

__ADS_1


"Terimakasih kakak ipar." Tiffani melompat kegirangan. Tanpa permisi Tiffani mencium pipi Vindra.


"Hadiah untuk kak Vin, yaitu ciuman manis,"ucapnya tanpa malu. Vin hanya tersenyum masam dan segera menginjak gas dan segera melaju menuju bar Lintang.


Setelah melewati jalanan yang padat, mereka pun akhirnya sampai.


"Ayo kak Vin ikut bersamaku, aku kan mentraktir mu malam ini." Tanpa menunggu persetujuan Vindra, Teffani langsung menariknya dan membawanya masuk.


Irama musik yang kencang memekikkan telinga, membuat Vindra sedikit risih, dia tidak terlalu suka dengan suasana seperti ini, tapi hal itu malah membangkitkan semangat Tiffani. Dari langkahnya yang energik dan tidak ada kebingungan, nampaknya Tiffani sudah pernah datang ke bar tersebut sebelumnya.


Tiffani membawa Vindra ke dek, untuk memindai keberadaan teman-temannya.


"Tiffani kami disini." panggil teman-temannya yang lebih dulu melihatnya.


Teffani langsung tersenyum sumringah dan bergegas ke dek yang lain untuk menghampiri mereka. Di dek yang berbentuk bulan sabit itu sudah di penuhi beberapa wanita dan juga pria.


Tiffani meletakkan bibirnya di dekat telinga Vindra dan berbisik.


" Sayang sekali kak Vin sudah menikah dengan kak Sifa, kalau tidak aku bisa mengenakan kakak dengan gadis-gadis ini."


"Perkenalkan ini kakak iparku Vindra."


"Kak Vindra, kenalkan Tesa, Selena, Fina, mereka semua karyawan perusahaan BBI Star Farmasi yang memiliki gaji yang tinggi."


Mendengar nama BBI lagi, Vin merasakan seperti suatu kebetulan, Tapi dia juga merasakan akan ada sesuatu setelah ini di BBI. Vin dengan sopan mengulurkan tangannya." Halo semua, aku Vindra, senang bisa bertemu dengan kalian semua."


Tesa segera melirik penampilan Vindra, dan langsung melengkungkan bibirnya, merasa kecewa. "Namaku Tessa Draco."


Fina menghadapi dengan santai, dan memilih untuk tidak menjabat tangan Vindra."Tiffani apa kamu melakukan kesalahan?"


Selena langsung berteriak. "Aku pikir kamu akan membawa pria generasi kedua yang kaya raya, tapi kamu malah membawa seorang menantu datang bersamamu."

__ADS_1


Vin hanya tersenyum tipis dan menarik kembali tangannya.


Secara alami dapat dilihat kalau Tesa dan yang lainnya memandang rendah dirinya, bahkan tidak ada satupun yang mau menjabat tangannya.


"Aku akan bekerja setiap hari, jadi bagaimana aku bisa punya waktu nantinya jika punya pacar " Teffani memegang tangan Vin dengan lembut, seolah ingin minta maaf.


Tesa menghela nafas," Untung saja aku sudah menelepon kak Johan, jadi pesta malam ini tidak akan membosankan."


"Halo semuanya, aku ada disini." Sapa Johan saat mendekati mereka.


"Kak Johan..."


"Kak Johan..."


Hana dan yang lainnya bangkit untuk menyambut Johan. Tidak hanya itu saja, bahkan Tiffani juga langsung menyapa nya.


Vin melihat ekspresi Teffani, lalu dia menyapa." Halo."


"Kamu saudara ipar Tiffani?"


Setelah salam, Johan memandang Vin dengan hinaan dan cibiran." Jika kamu ada masalah di kota SB kamu bisa menyebut namaku." Johan terlihat keren, dan merasa keputusan terakhir di SB ada padanya.


Vin bicara acuh tak acuh," Terimakasih Johan atas kebaikanmu, tapi aku tidak membutuhkannya."


Vin menjabat tangan Tiffani memberi syarat untuk tidak marah.


Melihat Vin menjabat tangan Teffani, ada kemarahan dimatanya. Walaupun Johan sudah punya pacar, bukan berarti dia tidak bisa mendapatkan Tiffani.


"Menantu seperti kamu, bagaimana bisa menghadapi masalah di SB? Jika bukan karena kamu saudara iparnya Tiffani, kamu bahkan tidak akan memiliki kesempatan untuk duduk dan minum dimeja yang sama denganku." Tanpa basa basi Johan menegur dan mempermalukan Vindra di depan umum, tapi Vindra sudah tahu bahwa dirinya akan dipermalukan.


Johan tidak tahu siapa sebenarnya Vindra dan tidak ingin tahu terlalu banyak, yang dia tahu selama Vin adalah menantu, Johan menganggapnya tidak berguna.

__ADS_1


To be continued 🙂🙂


Mohon maaf selama beberapa hari tidak bisa up, karena fokus mengurus ortu yang sakit.🙏🙏


__ADS_2