
"Dok, Kenapa dokter menghormati laki-laki pembohong sepertinya dia? Tidakkah dokter malu dengan Gelar dokter?" ucap Susi yang masih tidak percaya dengan Apa yang dia lihat.
"Nona, jangan sembarangan anda bicara, kalau tuan Vin ini adalah pembohong, maka aku hanyalah sampah yang tak berguna. Tuan Vin lah yang layak di panggil master kerena keahliannya yang jauh lebih hebat," ucap dokter Lin membuat Susi semakin tercengang.
Susi tidak habis pikir jika semuanya membela Vin secara terang-terangan, padahal menurutnya Vin tidak layak untuk di hormati.
"Dok jangan merendahkan diri. Lebih baik dokter periksa kondisi kakek, agar Nona ini mendengar dengan jelas, jikalau kata-kata yang aku ucapkan adalah benar."
"Baik tuan, saya akan memeriksanya." Dokter Lin pun mendekati Kakek Dewa untuk memeriksa mengunakan analisanya dari gejala-gejala yang ditimbulkan racun tersebut. Namun sayangnya Dokter Lin geleng kepala lalu menatap Vin yang memperhatikannya.
"Bagaimana Dok? Apa kekek bisa di sembuhkan?" tanya Susi yang masih menaruh harapan pada Dokter Lin. Namun gelengan kepala Dokter Lin memutuskan harapan Susi.
"Aku tidak tau, jenis racun apa yang menyerang tubuh kakek dewa dan itu artinya aku tidak bisa mengobati kakek Dewa, takutnya yang terjadi malah akan menjadi sebaliknya, maafkan aku Nona." Jelas Dokter Lin.
"Tuan Vin kalau menurut tuan, keracunan yang di alami kakek apa masih bisa di sembuhkan? Sebab akan sangat mustahil bisa sembuh jika tidak Didi tangani dengan baik."
Vin mengalihkan perhatiannya kepada sang kakek Dewa, dan dari raut wajahnya terlihat jelas bahwa dia benar-benar butuh pertama.
"Aku bisa saja mengobati kakek Dewa, karena aku sudah menemukan titik dimana racun itu bersarang, tapi aku tidak bisa melakukan pengobatan itu jika keluarganya tidak ada yang setuju, karena aku tidak mau jika nantinya aku tetap disalahkan," ucap Vin menyinggung Susi namun Susi malah memalingkan wajahnya tak mau menanggapi ocehan Vin.
__ADS_1
"Aku juga tahu kalau sebenarnya Susi punya suatu penyakit dalam tubuhnya yang ia sembunyikan dari keluarganya dan dia juga mengabaikannya, padahal penyakit itu jika tidak segera ditangani dengan tepat maka suatu hari nanti akan berakibat vatal dan akan sulit di sembuhkan. Benar kan Nona Susi?" pertanyaan Vin membuat Susi benar-benar tercengang bahkan dia menjadi penasaran bagaimana bisa ia mengetahui penyakit yang dia sembunyikan dari siapapun.
"Omong kosong, Kamu memang benar-benar pandai berbual. Aku tidak punya penyakit serius dan aku sedang sehat-sehat saja. Ini cuma alasanmu saja akan biar aku takut dan terus percaya padamu dan memohon meminta pertolongan padamu. Jangan harap aku akan melakukan itu."
"Nona, sedari tadi saya dengar, Nona sama sekali tidak percaya pada tuan Vin. Nona seharusnya anda bersyukur dan berterimakasih pada tuan Vin yang rela datang untuk membantu menyembuhkan kakek Dewa. Karena belum tentu ada orang lain yang ingin menolong tapi anda maki-maki seperti ini. Saya pun jika menjadi tuan Vin, akan memilih untuk pergi ketimbang harga diri dan kemampuan saya di rendahkan begitu saja."
"Benar apa yang di katakan Dokter Lin. Aku juga kecewa dengan sikap Nona Susi. Tidakkah dia bisa mengesampingkan egonya untuk menyelamatkan kakek Dewa. Hanya karena kesalahan kecil ah bukan maksudku kesalahan pahaman membuat Nona seakan buta padahal Nona melihat sendiri kalau tuan Vin sudah berusaha membantu hanya saja kecerobohan Nona sendiri malah menyalahkan orang lain"
"Tuan lebih baik kita pergi dari sini saja, saya tidak rela tuan di rendahkan begitu saja." Ambar pun ingin membawa Vin pergi. Karena Vin sudah tidak punya kata-kata untuk melawan Susi. Sedangkan Susi hanya bisa terdiam, dia orang yang memiliki kekuasaan dengan terang-terangan lebih membela Vin ketimbang melawannya.
"Tu-tunggu Nak Vin. jangan pergi. Kakek memohon dengan sangat bahkan jika kakek bisa berlutut kakek akan berlutut memohon agar nak Vin mau menolong kakek. Abaikan kata-kata cucu kakek, dia memang keras kepala tapi sebenarnya dia nak yang baik. Kakek mohon Nak Vin kakek masih ingin sembuh."Kakek Dewa pun terus memohon agar Vin mau menolong.
Dengan menarik nafas dalam-dalam, Susi pun mendekati Vin. Kedua pasang mata saling menatap. "Sebenarnya aku meragukan kemampuanmu dari awal, tapi aku juga tidak bisa mengabaikan kakekku begitu saja. Baiklah aku mengizinkan kamu untuk mengobati kakek, tapi hanya satu kali jika tidak ada perubahan kamu harus angkat kaki dari rumah ini," ucap Susi.
"Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu? Begini saja bagaimana kalau kita bertaruh saja?-"
"Bertaruh maksudmu?
"Kalau aku gagal mengobati kakek dewa, maka aku akan keluar dari tempat ini dengan berlutut tapi sebaliknya jika aku berhasil mengobati kakek Dewa maka kamu akan menjadi pelayan ku selama satu tahun. Bagaimana?" jelas Vin.
__ADS_1
Susi pun berfikir sejenak lalu ia menoleh ke arah kakeknya yang benar-benar sudah tidak berdaya.
"Baiklah aku Setuju. Sekarang segera obati kakek, aku tidak bisa melihatnya terlalu lama menahan rasa sakit." Susi pun mengulurkan tangannya sebagai kesempatan begitu juga dengan vin.
Ambar dan dokter Lin pun tersenyum melihat kesepakatan keduanya dan sudah bisa menebak siapa yang akan kalah taruhan.
Vin pun memeriksa kembali kondisi sang kekek dengan bantuan batu permata Vin mendapatkan cara untuk mengeluarkan racun di dalam tubuh kakek dewa.
"Aku butuh beberapa jenis tumbuhan obat, segera cari agar racun tersebut bisa keluar dan juga cari beberapa beberapa jenis binatang yaitu cacing tanah, kalajengking dan juga laba-laba kecil," ucap Vin membuat semuanya tercengang.
"Gila ya kamu! Kamu ingin mengobati atau ingin membunuh?" saut Susi yang heran dengan permintaan Vin.
"Kamu sudah janji padaku dan percaya padaku. Sekarang turuti saja apa yang aku perintahkan jika kamu ingin kakek segera sembuh." ucap Vin dengan tegas.
Susi pun hanya menghela nafas dan memerintahkan para pelayan untuk mencari semua yang dibutuhkan Vin.
To Be continued ☺️☺️☺️
Mohon dukungannya,🙏🙏 untuk mampir ke Karya I'm Wilson yang sedang ikut event mengubah takdir. Jangan lupa tinggalkan jejak.
__ADS_1