
Setelah pulang dari kediaman Saudara angkatnya. Vin ingin segera pulang, namun ia lebih dulu pergi ke pasar untuk membeli beberapa sayur dan memasak dirumah agar bisa dimakan oleh istri dan keluarganya.
Selesai memasak dan menyiapkan makan malam untuk Sifa dan yang lainnnya, Vin menyalakan tv sambil menunggu mereka pulang. Namun saat sedang menunggu Vin melihat dari jendela, mobil Fendi terparkir dan sosok Sifa keluar dari dalam mobil. melihat hal tersebut membuat hati Vin menjadi panas dan api cemburu pun muncul begitu saja.
Sifa masuk ke dalam rumah dan mendapati Vin sedang nonton tv di ruang tamu dengan kondisi lampu yang redup. Sifa mendengus dingin, mendapati sikap Vin yang acuh tak acuh mendapati dirinya pulang.
'Tidak bisakah dia bersikap lebih aktif sedikit.' gumam Sifa berharap Vin menyambutnya.
"Apakah kamu sudah mendapatkan pekerjaan hari ini?" tanya Sifa membuka perbincangan, setelah mengganti high heels nya dengan sandal biasa.
"Aku sudah berusaha mencarinya. Jangan kuatir, aku tidak akan makan nasi secara gratis di keluarga Gultom." Jawab Vin dengan dingin. Vin tetap fokus dengan layar yang ada di depannya tanpa menoleh ke arah sifa yang bertanya padanya.
Mendapati sikap dingin Vin membuat Sifa terpancing emosi.
"Apa aku membuatmu jijik dengan memberi makan secara gratis? Aku bertanya karena aku ingin kamu segera bisa bekerja dan membantu ibumu. Apa kamu akan membiarkan ibumu seumur hidupnya berjualan di pasar?" ucap Sifa dengan nada tinggi.
"Iya, dan kamu bisa bekerja setiap hari dan bisa terus berhubungan dengannya," Saut Vin.
"Apa maksudmu? Apa kamu cemburu? Aku tidak ada hubungan dengannya. Aku jelaskan padamu, aku sedang berkerjasama dengan Medina dan secara kebetulan Fendi datang dan setelah itu dia mengantarkan aku pulang, tidak lebih. Aku tidak ada hubungan apapun dengannya jadi jangan pernah curiga." saut Sifa menjelaskan.
"Aku harap begitu."
"Tidak bisakah kamu tidak mengalihkan pembicaraan? Awalnya aku hanya ingin bertanya kamu sudah mendapatkan pekerjaan lebih awal, tapi kamu malah membahas hal yang lain."
"Jangan kuatir, aku akan segera mendapatkannya."
__ADS_1
"Aku tidak akan bertengkar denganmu..." Sifa menekan amarahnya dan berjalan mendekati Vin.
"Aku tau, mencari pekerjaan di kota ini sangat sulit, Kamu tidak punya ijazah tinggi dan kamu juga sudah lama tidak bekerja. Untuk mendapatkan pekerjaan itu pasti sulit. Aku harap kamu tetap semangat dan tidak berfikiran negatif. Eemm... Di perusahaan sedang membutuhkan penjaga keamanan, jika kamu mau, kamu bisa datang ke perusahaan besok pagi. Aku akan meminta Meri untuk mengurus semuanya."
Sebelum bicara dengan Vin sebenarnya Sifa sudah memikirkan matang-matang, karena kuatir menyinggung perasaan Vindra.
Dalam hati Vin berterimakasih, namun kenyataannya Vin menggelengkan kepalanya menolak. "Tidak. Aku bisa mencari pekerjaan sendiri. Dan kedepannya kamu tidak perlu memberiku uang saku lagi. Aku bisa membiayai hidupku sendiri." Tolak Vin.
"Makan malam sudah aku siapkan. Kamu bisa makan bersama keluargamu. Tidak perlu menungguku. Aku sedang tidak napsu makan."
"Kamu mau kemana?"
"Aku akan pergi istirahat." Hati Vin benar-benar sedang tidak bagus dan dia ingin menghindar agar tidak terjadi pertengkaran.
"Berhenti!" teriak Sifa menghentikan langkah Vindra.
"Berhenti Vin! Ceritakan padaku ada masalah apa sebenarnya denganmu? Kenapa kamu begitu dingin denganku? Aku hanya bertanya mengenai pekerjaan. Apa itu salah?" Tanya Sifa dengan nada sedikit tinggi.
Vin mundur beberapa langkah lalu berbalik untuk mendekati Sifa dan menatap wajahnya.
"Aku tidak bermaksud mempermainkan emosimu, tapi aku hanya tidak suka mau dekat dengan Fendi," jelas Vin.
"Kenapa kamu tidak mengerti dengan semua penjelasanku kalau aku tidak ada hubungan dengan Fendi. Oke kalau itu maumu. Jika kamu bisa mencari pekerjaan yang layak dan pantas aku banggakan aku akan berhenti berhubungan dengan dia detik itu juga."
"Apakah kamu bisa menemukannya?" teriak Sifa.
__ADS_1
"Itu yang kamu katakan. Aku harap kamu tidak mengingkari janjimu itu."
Vin tak bisa menutupinya lagi. Memang cepat atau lambat Sifa akan tau, dan malam ini Vin memutuskan untuk memberitahunya.
"Aku sudah membeli Sebuah klinik dan saat ini dalam tahap renovasi. Dan diperkirakan akan selesai dua sampai tiga bulan ke depan. Setelah itu aku sudah bisa memiliki pekerjaan sendiri. Klinik CRISHAN itu nantinya yang akan menjadi tempat untuk ku bekerja dan aku bisa membiayai hidupku sendiri." Jelas Vin.
" Apa?! Kamu membuka klinik?" Sifa benar-benar terkejut kemudian dia semakin marah dengan Vin.
" Vin apa yang sudah kamu lakukan? Apakah kamu sudah lupa dengan janji yang sudah kamu buat padaku? Kamu berjanji tidak akan belajar ilmu medis lagi. Tapi apa nyatanya, kamu tidak hanya mengingkari janji, tapi kamu malah membuka klinik medis. Apa kamu masih menganggap ku ada? Apakah mau masih menganggap ku sebagai istrimu? Apa kamu tidak takut akan membunuh banyak orang karena pengobatan kamu yang asal itu?" Sifa benar-benar marah dan ingin meluapkan emosinya.
"Aku memang pernah berjanji padamu tidak akan belajar lagi ilmu medis. Tapi saat ini aku sudah memiliki kemampuan untuk mendiagnosis pasien. Dan aku berhasil mengatasi setiap pasien yang ada."
"Apa? Kamu pikir itu bisa di buat main-main? Apakah kamu punya sertifikat kualifikasi pembukaan klinik medis? Lebih baik tutup klinik itu dan jangan membuat masalah apa lagi sampai menyebabkan korban. Aku tidak mau menanggung akibatnya dengan di salahkan keluarga korban karena kamu yang melakukan pengobatan dengan sembarangan. Bahkan aku tidak mau menjenguk dirimu, kalau sampai kamu masuk penjara."
Mendengar kemarahan Sifa,Vin hanya tersenyum pahit lalu menggeleng pelan." Maaf. Maaf aku tidak bisa melakukan itu. Klinik CRISHAN itu aku dapat dari usaha kerasku dan aku tidak akan pernah menutupinya."Tolak Vin lalu berbalik untuk pergi ke kamar.
"Dengarkan aku Vin. Jika kamu tidak mau menutupnya aku akan meminta seseorang untuk menutupnya. Dengar itu!"
Kemarahan Sifa benar-benar meluap ditambah Vin yang tidak mau mendengarkan kata-katanya.
"Aku akan meminta orang- orang dari departemen medis untuk menutup klinik mu besok dengan paksa."
"Suruh saja mereka datang. Aku akan menyambutnya besok di klinik.... " Jawab Vin tanpa menoleh kebelakang seakan dia memang menantang Sifa melakukan sesuatu.
To Be continued ☺️☺️☺️
__ADS_1